Kamis, 26 April 2012

Selembar Kertas, Sejuta Kisah




Sa  wa di ka.  
Khob khun krab. Khob khun kah ;


Kira-kira begitulah cara mebaca Sawadika semacam sapaan halo, Khawp Kun Khap yang berarti terima kasih jika yang mengucapkan laki-laki, dan Khawp Kun Kha jika yang mengucapkan perempuan.

Sudah tiga negara yang saya kunjungi, dan satu hal yang nggak pernah saya lewatkan adalah bertanya bahasa lokalnya, yang simpel-simpel aja, seperti selamat pagi dan terima kasih salah duanya. Saya selalu meminta mereka untuk mengucapkan katanya terlebih dahulu, setelah itu saya meminta mereka menulis kata tersebut di selembar kertas. Lumayan, karena bisa untuk kenang-kenangan juga kan.

Ngrasa banget lho bedanya ngucapin terima kasih ke masyarakat setempat menggunakan bahasa lokalnya dibanding pakai Bahasa Inggris.

Walaupun ribet ngucapinnya, dan nggak jarang salah ngucapin, tetapi mereka bakal nunjukkin sikap menghargai, memaklumi, dan senang, bahkan nggak jarang sampai terharu meneteskan air mata. Nggak percaya? silahkan dicoba.

Selain bertanya dan mempelajari bahasa setempat, bertanya tempat-tempat wisata ke masyarakat lokalnya itu jauh lebih saya anjurkan dari pada nanya ke pak Polisi, karena kebanyakan pak Polisi disana pada nggak bisa Bahasa Inggris juga.

Tapi ya jangan coba-coba nanya sama Ladyboy atau waria, nanti kamu nanya letak Wat Pho, malah di kasih Bakpao-nya!




Hari kedua di Bangkok ;


Karena bingung letak Grand Palace, maka saya memutuskan untuk masuk dan bertanya ke sebuah Kantor Polisi di daerah Khaosan Road.

Ketika saya masuk dengan membawa peta, tiba-tiba pak Polisi-nya langsung terlihat sok sibuk gitu, ada yang tiba-tiba ngangkat telpon, baca koran, pergi ke toilet, utik-utik upil, dan aneka kesibukkan lainnya.

Waktu saya hendak bertanya ke salah satu pak Polisi, saya disuruh bertanya ke pak Polisi yang satunya, waktu saya menghampiri pak Polisi yang dimaksud, eh, pak Polisinya tiba-tiba malah angkat telepon, kemudian menyuruh saya duduk terlebih dulu di dalam kantor polisi ini. Yasudahlah. 

Hingga akhirnya seorang perempuan berambut panjang, berbadan tinggi semampai, datang menghampiri. Ya bisa di bilang tingginya nggak jauh bedalah sama saya.


''Bisa saya bantu?'' Tanya perempuan itu kepada saya.


Saya hanya diam seribu bahasa, bukan karena terkesima melihat wajah cantiknya, tapi karena saya sudah berpegang teguh terhadap sebuah teori, yaitu menganggap semua wanita cantik adalah Ladyboy. Teori tolol memang, di lain kisah akan saya ceritakan kenapa saya memegang teguh teori yang nggak masuk di akal itu.


''Kenapa anda berada di kantor polisi?'' Tanya wanita itu.

Saya tetap diam, hening dalam keraguan, antara menjawab atau abaikan.


''Apa kamu bermasalah dengan ladyboy itu?'' Dengan jelas saya melihat bagaimana wanita itu mengerutkan keningnya, sambil menunjuk dua orang ladyboy yang nampakanya sedang berdebat dengan Pak Polisi.


Meski saya tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi saya sangat yakin mereka sedang berdebat, ini terlihat jelas ketika mereka menggunakan nada bicara yang terlampau tinggi.

Weits, enak saja nih, kalau saya hanya diam, nanti dia pikir saya memang beneran bermasalah sama kedua waria itu, masalah harga diri ini.



Spontan saya menjawab, ''Tidak, tidak, saya tidak mengenal Ladyboy itu, emangnya mereka ngapain?''

''Mereka ditangkap karena mabok hingga larut pagi.'' Jawab wanita itu.

Kemudian iya melanjutkan pertanyaanya, "Lalu kenapa kamu berada di kantor polisi?''

''Saya ingin bertanya letak Grand Palace.'' Jawab saya.

''Bisa saya lihat petanya, akan saya kasih tahu letaknya.'' Sahut wanita itu sambil mengeluarkan bolpoin dari dalam tasnya.



Waah ternyata saya sudah salah mengira, wanita ini bukan waria, wanita tulen, bersuami dan punya dua anak lagi, maaf ya buk, heuhehe!


Habis Dimarahi Polisi


Perempuan ini tidak hanya menunjukkan letak Grand Palace saja, tapi juga What Pho dan Wat Arun secara detail, bahkan dia juga memberitahu cara menuju Chatuchak Market dan MBK dengan bahasa Inggris-nya yang lancar. Dari sebuah pertemuan dan perkenalan yang singkat itu, saya akhirnya mengetahui bahwa dia  ternyata seorang guru Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Hmmm, pantes.

Dari perempuan ramah dan baik hati ini, saya juga di diberitahu beberapa saran dan tips. Diantaranya :

Jika kita hendak berpergian, lebih baik menggunakan bus atau taxi saja dibanding tuk-tuk, ini karena tuk-tuk adalah alat transportasi yang sudah terkenal di kalangan wisatawan manca negara, akibatnya harganya-pun jadi jauh lebih mahal dibanding taxi sekalipun. Dan selama di Bangkok saya selalu menggunakan jasa bus untuk berpergian ke lokasi yang jauh, bus-nya nyaman, aman, bersih, dan nggak ribet kok.


Memesan Bus, Bukan Taxi


Supir-supir taxi di Thailand itu lebih menghargai dan lebih sopan sama turis, di banding dengan penduduk lokalnya, jadi jangan ragu-ragu untuk menawar harga taxi yang tidak menggunakan argometer. Tentu dengan sikap yang tetap sopan.

Waktu akan masuk Grand Palace, akan banyak penjual celana panjang yang bilang nggak boleh masuk jika menggunakan celana pendek dan kaos oblong, kemudian disuruh membeli celana terlebih dahulu, jangan percaya dan tolaklah seramah mungkin, karena sebelum masuk ke kawasan Grand Palace, terdapat penyewaan celana panjang dan kaos berkerah dengan sistem deposit, artinya : pinjam celana, kasih duit jaminan, dan nanti kamu akan mendapat kembali duit jaminannya setelah mengembalikan celana yang kamu pinjam ke tempat semula.

Ada lagi nih tips-nya, karena orang Thailand itu  sebagian besar nggak bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi, jika hendak menanyakan suatu tempat, ada baiknya menggunakan huruf Thailand, biar nggak salah paham. Tips terakhir ini jitu banget! Serius!

Dan tanpa saya minta, permpuan ini menulisakan tempat-tempat yang akan saya kunjungi dengan hauruf Thailand. Waaaa, terimakasih banyak ya. Matur nuwun sanget nggih. Khob - khun - krab!



Selalu Ada Kisah di Tiap Lembar Kertas


Berbekal peta, informasi yang cukup, dan selembar kertas bertuliskan tempat-tempat dengan huruf Thailand, saya tak lagi ragu untuk melangkah menuju Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun, tiga tempat yang minimal kamu kunjungi jika baru kali pertama kali berkunjung di kota Bangkok, siap grak!







Suatu Malam di Bangkok





23.00, Bangkok ;


Baru kali ini nih, saya makan ayam dan aneka macam lauk pauk pakai ketan, udah keras, sulit dikunyah pula.

Setelah naruh tas di kamar, meski bagian tubuh saya serasa menjauh dari posisinya dan menghindar dari tugas-tugasnya, namun ikut merayakan malam di Rambutri Road dan Khaosan Road tetap nggak boleh saya lewatkan.

Kawasan ini banyak berderet cafe, restaurant, hotel kelas mawar melati semuanya indah, kios-kios penjual souvenir, travel agen, dan jasa pijat tanpa plus-plus khas Thailand - Thai Massage yang terkenal itu. Pantes aja ramai turis bertebaran, entah sekedar nongkrong, ngebir, ngrokok, dan wira-wiri nggak jelas.

Yang bikin tambah mantap dari kawasan ini, karena ada banyak penjual makanan murah-meriah, mereka keliling pakai gerobak, dengan aneka macam makanan di pamerin diatas gerobak imutnya. Ada ayam goreng, sate ayam, sate babi, sate ati ampela, dan banyak lagi.

Pas banget lah, udah perut kayak okestra musik tanpa sang dirigen, harga makanan yang dijual murah-murah lagi, saya sampai meyakinkan ke penjualnya, apa bener nih harga ayam semurah itu? sombong dikit boleh lah ya.

Dilihat-lihat, ditunjuk, dipanasin, disajikan, dibayar, dan santap! Yummy! 

Tapi, buat saya pribadi makan lauk pauk tanpa nasi itu rasanya kurang plog, jadi saya pesan aja satu nasi, eh, dua nasi aja deh.



''Do you have a rice miss ?'' Tanya saya.

Sambil mengangguk, ibu penjual menjawab, ''Rice? Yes, I have.''

Dengan tangan membentuk salam Peace dan wajah berbinar, saya menjawab ''I will take two!''

''Oke.'' Sembari mengambil nasi yang ada di dalam gerobaknya.



Nasinya dibungkus menggunakan plastik bening, seperti di kepal sehingga bentuknya memadat. Pas dimakan, ham, nyam, tetot, kok agak keras ya?! Wah ini sih bukan nasi namanya, tapi ketan.

Usut punya usut di Thailand itu jika memesan rice berarti pesan ketan, kalau mau pesan nasi beneran berarti pesan steam rice. Baru makan setengahnya udah kerasa banget efek sampingnya, langsung kenyang! 

Efek samping lainnya setelah makan ketan, saya jadi susah payah buang air besar selama beberapa hari, pas boker itu rasanya seret.

Tapi ngrasain aneka macam makanan dan cemilan di Thailand itu wajib, mulai dari Pad Thai semacam bihun  yang di goreng, Tom yam Kung, dan aneka macam gorengan dari serangga yang dijual dengan menggunakan gerobak keliling, serangga yang dijual umumnya seperti belalang, ulat, jangkrik dan aneka kawanannya.


Sumber Foto : http://www.eugenegoesthailand.com


Malam pertama di Bangkok, saya tutup dengan pijat. Yuhu! Saatnya mencoba Thai Massage dekat tempat saya menginap di Rambutri Road nih, cukup dengan membayar 100 baht tiap 30 menitnya, saya udah bisa ngrasain pijatan yang maknyus, saingannya si Ujang nih! 

Sekedar informasi (nggak) penting. Ujang itu adalah pria tangguh, berbadan kekar, berwajah melankolis.  Dia putra asli tanah Jawa, yang berumur sekitar 40 tahun. Dia biasa dipanggil ke rumah untuk mijetin saya, dan sekeluarga kecuali mama saya tentunya.




If you reject the food, ignore the customs, fear the religion an avoid the people, you might better stay at home. -James Michener






Minggu, 22 April 2012

Thailand, I'm Coming !




23 Maret 2012, Siem Reap ;


Rencana awalnya tinggal di Siemp Reap sampai tanggal 24 maret, kemudian naik bus jam 02.00 dini hari menuju Bangkok. Setelah berdiskusi, kami memilih untuk terpaksa puas melihat Angkor Archeology Park.

Waktu yang kami punya hanya 15 hari untuk mengelilingi lima negara di Asia Tenggara, waktu sesingkat itulah yang menjadi pertimbangan kami. Jika kami keluar dari Cambodia siang hari ini, tentu kami punya banyak waktu di Thailand, baik itu untuk jalan-jalan maupun beristirahat, sehingga tidak akan terlalu capek.

Karena nggak ada bus yang berangkat siang ini, kami memilih naik taxi untuk mengantar terlebih dulu ke perbatasan Cambodia - Thailand. Kemungkinannya fifty-fifty. Bisa ada bus atau minivan sehingga kami langsung berangkat atau bisa jadi nggak ada bus, sehingga kami harus menunggu bus dari Siem Rep yang berangkat pada malam hari, nah, peluang yang terakhir sama sekali nggak diharapkan, itu sih namanya, zonk!

Tepat pukul 14.00 saya berangkat menuju perbatasan, perjalanan dari Siem Reap ke perbatasan menempuh waktu sekitar dua jam. Sesampainya di perbatasan, ternyata kami diturunkan lumayan jauh, kata pak supir berhentinya nggak boleh dekat-dekat sama perbatasannya.




16.00 Waktu Bagian Cambodia;


Nah, saat turun dari taxi, tiba-tiba saya melihat puluhan hingga ratusan orang saling berteriak, kayaknya sih mereka nyambut kedatangan kami.

Lho?! Bentar, bentar, kayaknya nggak menyambut kami nih, soalnya mereka saling pukul, gawat! Dari pengamatan saya, ada dua kubu yang sedang berselisih, yang satu seperti petugas keamanan dengan seragam lengkap serba hitam, kubu satunya adalah warga sipil.

Saat melihat itu, tiba-tiba adrenalin saya memuncak, nggak peduli lagi dengan capek dan panasnya cuaca saat itu, seakan ada dorongan kuat dalam diri saya untuk, ya! Untuk kabur! Pura-pura nggak lihat! Ngacir menuju perbatasan!

Mengurus izin keluar di kantor imigrasi Cambodia dulu, kemudian jalan kaki menuju perbatasan Thailand, setelah itu mengurus izin masuk di kantor imigrasi Thailand. Semua lancar tanpa masalah, dan saya sudah di thailand sekarang! Yuhuu! Dan keputusan kami untuk berangkat siang ini tepat. Karena, setelah keluar dari kantor imigrasi Thailand, ternyata ada begitu banyak bus dan minivan yang akan berangkat ke Bangkok saat itu juga. Thailand, I'm Coming!


Hanya 15 jam di Siem Reap, dan hanya 7 jam berada di Angkor Archeology Park, sungguh waktu yang sangat singkat, semoga ada kesempatan untuk mengulanginya lagi di lain waktu, semoga.



Alunan Rindu, Angkor Archeology  Park 








Rabu, 18 April 2012

Cambodia : Negeri Hangat nan Damai





Tuk tuk yang di pesan sehari sebelumnya sudah menunggu di depan hotel, bergegas saya menaikinya, dan berangkat.



Cermin Tuk-Tuk



Masih pagi hari, suasana jalanan kota Siem Reap masih sepi, membuat tuk tuk dapat melaju dengan leluasanya di jalan, kecepatan laju tuk tuk menciptakan hembusan angin yang semena-mena menghantam wajah. Yuhuu, kayak gini toh rasanya naik tuk tuk, silirrrrr brother! Hahaha.

Selama perjalanan dari hotel ke Angkor Wat, tiba-tiba saya merasa ada getaran yang membuat hati getir, sempat saya melihat bagaimana bulu-bulu di tangan berdiri, saya merinding, saya terharu.

Nggak bermaksud berlebihan, tapi saya sungguh merasakan hal itu, saya tak tau apa penyebab pastinya, tapi saat itu terjadi, dalam pikiran saya terlintas bagaimana saat awal saya tiba di Vietnam, sebuah awal untuk menuju 4 negara lainnya, dan sekarang, saya sedang duduk di sebuah kendaraan yang dulu hanya bisa saya lihat melalui sebuah layar LED 21 inch, diatas tuk-tuk ini saya melebur dalam suasana hangat kota Siem Reap, saya akan dibawa menuju sebuah kota purbakala. Kota Angkor yang mendunia.


''Silahkan turun, sudah sampai. Beli tiket disana, dan kembali naik tuk-tuk untuk menuju Angkor Wat.'' Ucapan supir tuktuk seakan memecah fokus saya, tak lagi ada hening, tak lagi melamun.


Menerjang Pagi


Hanya setengah jam perjalanan dari hotel menuju loket masuk Angkor Wat. Kebetulan saat itu nggak pakai ngantri, tinggal bayar, dan yap, tiket di tangan. Lhoo?! Mana tiket masuknya? Eh, si mbak penjaganya malah nyuruh saya lihat ke arah benda yang berberbentuk persegi panjang dan ditengahnya terdapat kamera kecil. Buset dah, saya mau di foto? jangan-jangan di tiket masuk nanti ada foto saya, gawwaatt! Saya belum siap menerima kenyataan ini! Saya belum mandi woy!

Jepretttt....



Tiket Masuk Angkor  Archaeological Park


Sial, kenapa nggak ada yang bilang kalau ada sesi foto sebelum masuk angkor wat, tau gitu kan saya mandi dulu, rapi-rapi dulu. Yaudah lah, apa boleh buat, nasi terlanjur menjadi bubur, lagian sekarang saya sudah masuk ke Area Angkor Wat! Yuhhhuuuu. Hap hap hap. Chibi chibi chibi. Hoorree!

Angkor Wat gagah banget! Mata saya disuguhi sebuah pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tepat didepan saya, ada sebuah candi dikelilingi kolam yang luas banget. Mantap bangetlah pokoknya.

Walaupun area Angkor Wat ini rindang, karena begitu banyak dipenuhi pohon-pohon gede, tapi tetap aja cuaca saat itu panas banget, untungnya semangat saya lebih berapi-api dibanding teriknya matahari sekalipun, seakan matahari menciut waktu saya lirik, padahal baru saya lirik lho.


Angkor Archaeological Park luas buanget, dari info yang saya dapat, luasnya 400 Kilometer persegi. Wuidih, 11 - 12 lah sama perkarangan rumah! 

Sekedar informasi nih, di dalam area seluas itu, nggak hanya berdiri satu Wat ( Candi ) yaitu Angkor Wat saja, tetapi ada berpuluh-puluh Wat lainnya, beberapa yang terkenal dan wajib dikunjungi diantaranya : Bayon, Phom Bakheng, Angkor Thom, Ta Prohm.

Jarak antar Wat ada yang berdekatan, ada juga yang berjauhan (walaupun berjauhan tapi tetap baikkan kok). Jadi, cara terbaik untuk menuju satu Wat ke Wat lainnya ya pakai jasa tuk-tuk, kemudian berjalan kaki untuk mengelilingi bagian dalam Wat yang nggak kalah luasnya. Yang pasti buat hati riang gembira plus kaki cenat cenut! Hehehe.






Aha! Ada yang unik nih, saat saya berada di area Angkor Wat dan Bayon, banyak pedagang yang menawarkan air minum, kaos, dan lai-lain. Nggak kayak para pedagang di Borobudur yang nawarin barang dagangannya secara keroyokan, mereka nawarinnya dengan cara teriak-teriak, lalu ngikutin kemana saya jalan, tapi mereka nggak mendekati kami, jadi ada jarak diantara penjual dan pengunjung. Saya maju dia maju, saya mundur dia ikutan mundur deh, hehehe!

Setelah saya perhatikan dengan seksama ternyata mereka dibatasi dengan sebuah tali rafia yang di bentangkan di permukaan tanah, dan mereka nggak boleh nglewatin tali itu (kalau nglewatin tali di diskualifikasi mungkin). Sip banget ya cara mereka menjajakan dagangannya, membuat pengunjung jadi merasa nyaman, dan nggak risih juga kan. Salut buat mereka!


Eits, Jangan Melebihi Batas


Awal saya menginjakkan kaki dan melihat Angkor Wat pun saya sudah salut dan takjub, ini adalah sebuah mahakarya yang luar biasa mempesona, apalagi saat beriteraksi dengan masyarakat setempat, tidak sama sekali terlintas dalam benak saya kalau negara ini adalah negara yang masih dilanda perang saudara, negara dengan tingkat kriminalitas yang tinggi, salah satu negara miskin di Asia Tenggara.

Saya tidak melihat, saya tidak merasakan itu semua! Mereka seakan menyakinkan siapupun yang datang, bahwa tak ada yang harus ditakutkan, kalian akan merasa hangat dan damai di negara ini.



Damai Untuk Sesama



Or - Khun, Cambodia !




Selasa, 17 April 2012

Kapalan Perdana




Hal yang paling saya hindari dan tak pernah diharapkan saat jalan-jalan adalah kapalan di kaki. Kalau udah kapalan, rasa capek itu serasa belipat-lipat. 

Tahu kan kapalan itu apa? Kalau nggak, saya kasih tau nih. Dari informasi yang saya dapat, kapalan atau kalus itu pada dasarnya merupakan kulit yang menebal atau mengeras, nah, kapalan terjadi karena gesekan atau tekanan berulang pada daerah yang sama, biasanya sih terjadi di kulit kaki atau tangan. Kalau udah terkena penyakit imut ini, kita akan ngrasa nyeri, hal ini dikarenakan penebalan kulit yang menyebabkan penekanan terhadap tulang dibawahnya, begitu ceritanya.

Setelah mengelilingi kota Phom Penh, saya kembali melanjutkan perjalanan selama 7 jam menggunakan minivan menuju Siem Reap. Siem Reap itu ibu kota Provinsi Siem Reap, terletak di barat laut Cambodia, tujuan saya ke Siem Reap tak lain, tak bukan, karena Siem Reap merupakan pintu gerbang memasuki kawasan purbakala kota Angkor yang mendunia itu. 

Tepat pukul 11 malam saya tiba di hotel tempat saya menginap, namanya Angkor Friendship Inn, segera saya masuk ke kamar, membuka baju, menyalakan kipas angin yang berada tepat diatas tempat tidur dan membiarkannya berputar sekencang mungkin, berharap bisa sedikit mengurangi panasnya malam ini.

Rasanya Jam 11 malam di Siem Reap itu hampir sama dengan jam 12 siang di Phom Penh, puanasnya puooll. Untuk urusan cuaca, Cambodia emang nggak bersahabat banget. Kata penduduk disini, setiap hari Cambodia emang panas, siang hari matahari bersinar sangat terik, malam hari udaranya gerah, dan hampir nggak pernah turun hujan.

Karena, nggak nggak nggak kuat, nggak nggak nggak tahan, sama panasnya, saya dan fadly memutuskan keluar dari hotel dan berniat ikut meramaikan malam. Jalan, jalan dan jalan, hingga saya bertemu sebuah kawasan yang menarik perhatian kami, lumayan ramai, banyak kios-kios menjual aneka makanan dan minuman disini, eh ternyata, usut punya usut, kawasan ini adalah pusat hiburan malam kota Siem Reap, di sepanjang jalan kecil ini, selain terdapat kios-kios makanan, ada banyak cafe dan restourant juga, kawasan ini bernama Pub Street. 

Layaknya sebuah kawasan yang menjadi pusat hiburan malam, selain banyak cafe dan restourant, tentu  banyak turis yang pada 'mabok' dan 'kurang tidur', kalau menurut saya pribadi nih ya, kawasan ini lebih mengarah ke hiburan malam yang 'kampungan' apalagi bule-bule yang pada mabok, maboknya nggak elit! norak!

***

Saya bangun jam 5 pagi untuk melihat Angkor Wat, dan jam tangan milik Fadly yang punya kelebihan membaca suhu, memperlihatkan bahwa suhu pagi ini 32 derajat celcius. Itu baru pagi hari lho, gimana kalau siang hari? Ya tentu suhu di siang hari tambah parah, memasuki jam 11 siang suhu di angkor wat menunjukkan 36 derajat celcius, saya ulangi lagi saudara-saudara, tiga-puluh-enam-derajat-celcius, wuuuiii ademnya!

Saya jadi ngerasa bersyukur banget hidup di Indonesia, terutama tinggal di Jogja. Dulu saya gampang banget mengeluh saat cuaca sedang panas-panasnya, tapi panas di Jogja paling ekstrem hanya 32 derajat celcius kan? Itupun jarang-jarang. Coba bandingkan dengan Cambodia? Harus banyak-banyak bersyukur pokoknya.

Dan ini kenangan dari Cambodia, cuaca yang sangat panas, ditambah harus berjalan mengelilingi luasnya area Angkor Wat, tarraaa :



Kapalan Perdana


Saya memang nggak cocok dengan cuaca yang panas, apalagi ditambah kapalan, tapi kali ini beda, benar-benar nggak akan terlupakan, kapalan di Angkor Wat! Hehehe.





Senin, 16 April 2012

Serba Dollar




22 Maret 2012, Cambodia ;




"Berapa harganya?" "Blabla dollar." 

"Ini berapa?" "Tiiittt dollar." 

"Saya beli satu, berapa?" "Rrrrrrr dollar."

 "Berapa harga tiketnya?" "Ngoookk dollar."


Awalnya, saya sampai nggak tau mata uang Cambodia itu sebenarnya apa. Dimulai dari beli tiket minivan Phom Penh - Siem Reap, beli souvenir di Rusian Market, beli jagung di Grand Palace, beli tiket masuk ke Killing Field, beli air mineral di Angkor Wat, bayar tuk-tuk, bayar hotel, semua bayar pakai dollar. Serba dollar!


Memfoto dan Difoto


Saya, tiba di Phom Penh, ibukota negara Cambodia pukul 12.00. Jadi, kurang lebih 12 jam lamanya dari Ho Chi Minh City, Vietnam. Wuih, kota Phom Penh itu panas banget, turun dari bus langsung disambut sama teriknya matahari, alhasil kepala nyut-nyutan, diperparah dengan kondisi perut yang keroncongan, sempurna!

Phnom Penh sebenarnya bukanlah kota tujuan utama saya datang ke Cambodia, tujuan saya yaitu Siem Reap. Waktu tempuh dari Phom Penh ke Siemp Reap sekitar 7 jam. Kebetulan saat di Cambodia saya bersama dengan teman-teman backpacker asal Indonesia, maka kami memutuskan naik minivan aja ke Siem Reap. 

Karena rombongan akan berangkat ke Siem Reap pukul 16.00, jadi, sebelum berangkat kami memanfaatkan  untuk mengunjunggi tempat-tempat wisata di Phnom Penh, sepeti Grand Palace, Rusian Market, dan Killing Filed. Nah, sebenarnya saya ingin menukar uang dulu nih sebelum berkeliling Phom Penh, eh, ketika saya bertanya letak Money Changer ke Supir Tuk-tuk, dia justru bilang gini :


''Nggak usah ditukar, kami pakai dollar kok.''

''Dollar Cambodia?''

''Bukan, dollar Amerika.''




Setelah saya melakukan beberapa pengamatan disana *asik, saya menyadari bahwa sebenarnya Cambodia itu nggak punya uang logam lho! Dalam urusan bayar-membayar mereka juga lebih menghargai dollar dari pada mata uangnya sendiri yaitu, riel. Sekedar informasi, nilai tukar 1 USD itu sama dengan 4000 Riel, jadi, mereka kasih riel itu ya hanya buat kembaliannya aja. 


I n t e r m e z z o 


Oia, ada yang sudah pernah dengar Killing Field? Dari namanya saja tentu kita bisa menebakkan tempat apa ini? Killing Field atau Ladang Pembantaian dulunya adalah tempat pembataian masal masyarakat Cambodia. Didalam area ini ada semacam menara yang berdindingkan kaca transparan, dan didalamnya terdapat ribuan tengkorak manusia. Pembantain ini dilakukan saat Khmer Merah berkuasa, Khmer Merah itu adalah cabang militer Partai Politik, ya mungkin semacam tragedi G 30 S PKI gitulah.


Killing Field


Kalau dari segi sejarahnya, Killing Field memang tragis dan sedikit bikin ngilu. Tapi sebenarnya agak lebay juga sih kalau tempat ini dibilang bagus, menarik, ngeri atau bahkan bikin merinding (tempatnya lho, bukan dari segi sejarahnya). Beberapa pengunjung dari Indonesia bahkan ada yang dengan semangat '45 becerita apa yang dia rasakan dan lihat di dalam, mereka terkagum ketika melihat banyak tengkorak yang tersusun rapi di dalam 'etalase'. Sebenarnya sah-sah aja sih, tanggapan saya cuma satu, pasti belum pernah ke Toraja! hehehe.





Selasa, 10 April 2012

Cam On, Vietnam !



21 Maret 2012 ;


Rasanya putaran waktu di Vietnam itu lebih cepat dari semestinya. Baru kemarin saya mulai terbiasa dengan jalanannya, baru kemarin saya mulai terbiasa sarapan dengan baguette, roti yang besarnya segede gaban, eh sekarang sudah yang terakhir aja makan tuh roti.

Selama di Vietnam saya memang selalu mencari dan mencicipi makanan khasnya. Pernah saya mencoba Pho, es kacang ijonya vietnam, ketan warna-warni yang saya beli di pasar malam Benh Than, dan roti baguette.

Khusus roti baguette, saya hampir memakannya tiap pagi, ini karena hotel tempat saya menginap menyediakan roti itu saat breakfast.


Baguette


Baguette itu sebenarnya roti khas negara Perancis, entah gimana ceritanya roti ini bisa berimigrasi ke Vietnam, hingga menjadi makanan pokok pengganti nasi. Di Perancis, baguette biasa dimakan dengan sup, tapi di vietnam dimakan bersamaan dengan aneka ragam lauk pauk.

Ukuran rotinya gede banget, bentuknya lonjong memanjang, kalau di gigit terjadi perpanduan antara renyah dan alot. Dan saya tak pernah berharap ini adalah baguette terakhir saya, semoga ada kesempatan lain untuk memakannya kembali, ditempat yang sama, disini, di Vietnam.




Malam sudah mulai berkuasa, seperti biasa, malam di Ho Chi Minh City selalu penuh warna, tak kenal hari, semua penduduk suka merayakan malam, dan malam ini saya hanya bisa menikmatinya dari balik jendela bus.

Tepat pukul 24.00, bus pergi meninggalkan Ho Chi Minh City, menuju Phom Penh, Cambodia.









Nggak 'Dong' Lagi !




Pagi hari di hari ketiga;


Kami akan mengikuti tour ke Chu Chi Tunnel dan Cao Dai Temple. Tour one day ini sudah kami pesan sehari sebelumnya melalui travel agen di daerah Bu Vien. Karena masih ada cukup waktu sebelum keberangkatan ke CCT dan Cao Dai, saya iseng menyalakan TV unyil yang ada di dalam kamar, ya semacam iseng-iseng berhadiah, berharap bisa lihat FTV-nya Vietnam dengan banyak wanita-wanita cantik dan sexy. 

Eh, saya justru menemukan sesuatu yang menggelitik tawa, ketika saya melihat dan mendengar banyak film drama maupun action yang seharusnya menggunakan Bahasa Inggris atau China, di dubbing menggunakan bahasa Vietnam, itu sih masih sah-sah saja, yang bikin nggak syaah itu ketika pengisi suaranya hanya menggunakan satu jenis suara selama film berlangsung! Jadi, kalau pengisi suaranya cowok ya cowok semua, kalau cewek ya cewek semua, nggak peduli pemain filmnya cowok atau cewek, pokoknya sama rata, sama rasa! Hahaha.



Cao Dai Temple - Chu Chi Tunnel ;


Setibanya di Cao Dai Temple, saya dibuat nggak Dong untuk kesekian kalinya. Awalnya saya jepret-jepret semua yang bisa saya jepret, mulai dari orang-orang di dalam kuil yang berpakaian serba putih, interior kuil yang unik, bola raksasa yg ditengahnya ada gambar mata, semuanya nggak luput dari jepretan kamera. 


Ada Yang Tahu Arti Bola Raksasa Dengan Mata Satu Itu ?


Berawal dari foto-foto itu, saya dan seorang bule, sampai nggak nyadar kalau udah berada di tengah-tengah kuil. Hingga tiba-tiba tiga orang penjaga kuil meneriaki kami, saya dan bule saling bertatapan, mereka nunjuk-nunjuk kami, kami bingung, mereka teriak you you dan hanya kata you yang keluar dari mulut mereka, kami panik, hingga kemudian mereka bertiga lari menghampiri kami, menggiring kami keluar dari area tersebut. Dari kejadian itu saya baru mengetahui kalau pengunjung dilarang masuk ke area itu, nah mana saya tau, habisnya nggak ada rambu-rambunya, dan si penjaga kuil cuma teriak you you aja.


Cao Dai Temple


Habis dari Cao Dai Temple yang misterius itu, hehehe, kami dibawa menuju Chu Chi Tunnel, dulunya CCT ini merupakan kawasan perang dan tempat persembunyian pejuang Vietnam yang dikenal dengan nama Viet Cong. Di dalam Chu Chi Tunnel ada banyak lubang kecil yang merupakan pintu masuk ke dalam terowongan bawah tanah yang kemudian menuju ke ruang persembunyian mereka. Lubang masuknya kecil banget, tapi kata tour guide-nya saya bisa masuk ke dalam, katanya sih muat. Karena penasaran ya saya cobain aja, hap, plug, nggak nyangka badan saya ternyata bisa masuk ke dalam lho, saya disuruh masuk lebih dalam lagi, baru ngliat dalamnya aja saya sudah sesak nafas, apa lagi kalau masuk!

Saat itu juga saya langsung bayangin kalau tentara Vietnam ada yang gembrot gimana ya? Coba deh kalian bayangin nasib dia pas dikejar-kejar tentara amerika, yang lain sembunyi, dia pura pura mati kali ya, hahaha!




Mencoba Menjadi Viet Cong






Aduhai Vietnam



Diantara empat negara lainnya, memang Vietnam-lah, 
negara dengan banyak wanita cantik dan modis ;



Malam ini sebenarnya kami ada rencana bertemu dengan sesama backpacker asal Indonesia, kami janjian bertemu di KFC dekat Ben Thanh Market, karena media komunikasi yang sangat terbatas, kami akhirnya tersesat oleh malam di kota ini. Kami salah KFC, semacam nyasar.

Yaudah mau gimana lagi, kami terpaksa mengurungkan niat untuk bertemu mereka, karena selain media komunikasi yang tidak ada, kami juga sudah sangat capek kalau harus berjalan lagi mencari KFC yang di maksud.

Kami juga memutuskan untuk makan malam di KFC tersebut, sambil makan dan berbicang, tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiri meja kami, "Indonesia?'' Jawab kami serentak, ''Iya mas.''

Waaah bertemu dengan orang Indonesia di negeri orang itu mungkin ibarat menemukan oase di padang pasir kali ya, senang bangetlah pokoknya.

Namanya mas Bobo, kami berbincang dengannya, saya menjelaskan bagaimana saya bisa sampai di Vietnam, hingga terdampar di KFC ini.

Mas bobo sediri datang ke Vietnam untuk bekerja, mas bobo banyak memberikan saran dan wejangan kepada kami. Dia juga menceritakan pengalaman backpacker-nya, terutama saat mengelilingi negara-negara di Asia Tenggara. Untuk di Vietnam sendiri, dia bilang kalau negara ini adalah negara paling 'mudah' kalau mau 'nakal'.

Kata mas bobo, ''Saya, sudah ke semua negara di Asia Tenggara, untuk masalah cewek, Vietnamlah yang paling cantik. Gampang kalau mau nakal disini, tapi ingat apa tujuan kita! Ingat istri, ingat keluarga, ingat orangtua, itu kuncinya. Bertingkah laku dan berucaplah yang baik dimanapun kita berada''.

Iya, saya setuju dengan apa yang mas bobo bilang tentang Vietnam. Vietnam kini sedang mengalami banyak pergeseran budaya. Konon dulu perempuan di vietnam itu nggak boleh pakai pakaian yang terbuka. Namun sekarang, hampir sebagian besar perempuan disini memakai pakaian yang serba 'kekurangan'. Nggak siang, nggak malam, dari cafe hingga di pasar ben than (di pasar tradisional lho padahal), saya banyak menjumpai perempuan Vietnam yang memakai celana sebatas pangkal pantat dan ber-tank top-an ria. 

Jadi, karena pergesaran budaya, bisa di bilang di vietnam itu lagi hot-hotnya mengenai cara berpenampilan dan bergaul.

Selain cara berpakaian yang seakan kekurangan bahan. Perempuan Vietnam itu rata rata juga sangat memperhatikan penampilan tubuhnya. Jarang sekali saya melihat perempuan di Ho Chi Minh City yang bertubuh gendut.

Saya juga sempat menanyakan kepada mas bobo, ''Mas kok banyak penduduk di Vietnam suka nongkrong di tiap sudut dan taman-taman kota Ho Chi Minh ya, ini cuma di malam ini saja, atau emang udah kebiasaan mereka ya mas?''

Kata mas bobo, penduduk di negara ini, dari Vietnam bagian utara sampai Vietnam bagian selatan itu emang hobi banget nongkrong, nggak peduli tua ataupun muda. Di pagi hari sampai sore mereka ngumpul di tiap sudut dan taman-taman kota, entah sekedar berpacaran, duduk-duduk imut, atau bermain Shuttlecock alias sepak bulu. Malam harinya, mereka makan malam bersama keluarga, teman, kekasih, pacar teman, atau bersama teman pacarnya di street food.

Dan sebuah pertemuan yang singkat ini kami tutup dengan sebuah salam perpisahan yang hangat di depan City Hall Statue. Bangunan yang sangat mempesona saat malam hari.



City Hall Statue, Ho Chi Minh, Vietnam




My country is the world, and my religion is to do good. -Thomas Paine



Nggak 'Dong' !



Jalan-jalan di Ho Chi Minh City itu sangat menyenangkan, kita dapat menjelajahi kota ini hanya dengan berjalan kaki saja. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Ben Thanh Market, hanya berjarak 10 menit dari Bu Vien. Ben Thanh adalah pusat oleh-oleh murah-meriahnya Vietnam, dengan berbagai macam bentuk dan rupa, harga disini-pun relatif murah lho, pokoknya semua barang wajib tawar setengah harganya dulu. Tapi ingat, kalau si penjual sudah menyetujui harga yang kamu tawarkan, jangan coba-coba tidak jadi memebelinya ya *ambil golok. 

Dari Ben Thanh Market kita bisa melanjutkan perjalanan ke Notre Dame Catherdal, bangunan ini sangat artistik dan masih berfungsi pula sebagai tempat beribadah umat Khatolik. Persis di sebelah gereja terdapat Kantor Pos Pusat Saigon, di dalam kita bisa melihat aktivitas surat menyurat, ada juga toko-toko yang menjual souvenir khas negara Vietnam. Dan banyak lagi tempat wisata di kota Ho Chi Minh yang bisa kita kunjungi hanya dengan berjalan kaki.

Kalau ada waktu cukup banyak, kita bisa melihat Water Puppet Show, semacam pertunjukkan wayang bonekanya Vietnam gitu. Uniknya mereka memainkannya di atas air, sampai sekarang saya masih bingung bagaimana bisa para dalang menggerakkan boneka-boneka itu. Petunjukkan Water Pupet Show dimainkan sebanyak dua kali dalam sehari, kami membeli tiket pukul 18.30. Setelah tiket pertunjukkan ada di gengaman, kami kembali berkeliling kota.



Water Puppet Show


Banyak sekali penduduk di Ho Chi Minh City mengira kami berasal dari Malaysia. Mulai dari resepsionis hotel, penjual air mineral, penjual makanan, penjual SIM Card, penjual souvenir, bahkan seorang pelacur sekalipun. Namun, kami sempat bertemu dengan orang yang sedikit 'paham' dengan Indonesia, terutama sepak bola, dia adalah seorang penjual es kelapa muda.

Dengan bahasa antah berantah yang asing ditelinga, dia menawarkan es kelapa mudanya kepada kami, saya tanya harganya berapa, dia mengangkat kelima jarinya, ''Five thousand dong?'' tanya saya, dan dia mengangguk dengan mantapnya. Oke deh saya beli, lagian pas bangetkan, udah capek, panas, minum es kelapa muda, udah gitu harganya murah.

Sruppp. Segerr. Tiba-tiba.


''Where are you come from?'' Tanya si abang penjual es kelapa muda. 

''Indonesia!'' Jawab saya dengan semangat. 

''ooow,'' si abang mengangguk-angguk.

 ''Do you know about Indonesia?,'' tanya saya bangga.

 Dengan senyum malu, dia menjawab, ''Ya. Football number two!'' 

*Hening seketika ditelan bisingnya jalanan HCMC *hahaha.


Setelah meminum habis es kelapa muda, saya membayar 5.000 dong, eh eh si abang menolak, buset dah, gratis bang? Dia diam, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan uang 50.000 dong yang kemudian menunjukkannya kepada saya. Hah?? Es kelapa unyil ini harganya 50.000 dong? widih ini mah namanya es kelapa muda lapis emas. Muahalnyo.

Itulah vietnam, sedikit sekali penduduk disini yang bisa berbahasa Inggris, jika bisapun, aksen bicaranya nggak jelas buanget. Udah bahasa inggris saya bermodalkan alakadarnya, ditambah lawan bicara yg nggak jelas bicaranya, alhasil sering missunderstand. Seperti kejadian lain saat di Kantor Pos Pusat Saigon.

Saya membeli kopi khas Vietnam di salah satu kedai, kemudian iseng bertanya kepada mbak penjualnya,

''This is delicious?''

'Si mbak hanya mengangguk mantap sambil tersenyum'.

''How to say delicious in Vietnamese?'' 

''This is coffee number one!'' Jawab si mbak dengan tawa dan semangat membara. 

Lha lho kok? Dyar! Nggak nyambung woy!


Dan kebingungan dengan bahasa selama di Vietnam disempurnakan dengan menonton Water Puppet Show, yang selama pertunjukkan menggunakan bahasa Vietnam! Hahaha, tapi pertunjukkan ini sangat unik, menarik dan wajib tonton.


Senin, 09 April 2012

Belajar Untuk Menikmati




19 Maret 2012, HCMC, Vietnam ;


Tarik nafas, keluarkan, hirup, hembuskan, begitu seterusnya ketika supir taxi menyupir seakan dirinya adalah Paul Walker ( Brian O'Conner ) dalam film Fast and Furious 5.  

Gila bener lalu lintas di Vietnam, semua kendaraan seakan dikejar Trantib. Mereka ngacir, ngebut, nyelip sana-sini, nggak peduli dengan pengendara lainnya. Klakson bersuara tak beraturan, pokoknya jalanan bener-bener kacau plus berisik.

Anehnya, pengendara disana nggak ada yang saling marah, atau ngomel karena nyaris keserempet atau bereaksi apapun, justru wajah mereka terlihat lempeng, datar, tenang, tak menunjukkan kecemasan, dan santai. Wajahnya seakan mengisyaratkan kepada saya, bahwa mereka sudah terbiasa dengan suasana jalanan yang ricuh seperti ini.

Untungnya taxi tiba dengan selamat lahir batin di Distrik 1, Bu Vien, daerah dimana kami akan menginap selama 3 hari 2 malam di Ho Chi Minh City. *huf akhirnya *lega.

Nah beda lagi ceritanya dengan para pejalan kaki, di pagi hari saat kami hendak berjalan-jalan keliling kota HCM, nampak mereka juga nggak mau kalah dengan mobil dan motor, mau tak mau mereka harus ugal-ugalan saat menyebrang jalan.

Kami menunggu beberapa menit untuk menyebrang : 10 detik, 15 detik, 30 detik, dan 1 menit lebih telah berlalu, namun jalanan nggak sepi-sepi juga, nggak ada kesempatan bagi kami untuk menyebrang, hingga akhirnya, seorang turis berbadan gempal dan tinggi dengan santainya berjalan membelah padatnya lalu-lalang kendaraan bermotor.

Mereka itu tidak saling peduli. Pejalan kaki terus berjalan tak memperhatikan kendaraan yang lalu lalang, dan begitu pula dengan kendaraan bermotor, jangankan berhenti beberapa saat untuk sekedar memberi jalan, mengurangi kecepatan saja tidak, mereka semua hanya menghindari.




Dan dari beberapa kejadian itulah saya perlahan mulai terbiasa dengan jalanan di Ho Chi Minh City, meski mereka berkendara seperti itu, tak pernah saya melihat ada kejadian seperti tabrakan, atau mengomel sesama pengendara, semua tampak Damai dalam Keributan.




All travel has its advantages. If the passenger visits better countries, he may learn to improves his own. And if fortune carries him to worse, he may learn to enjot it. - Samuel Johnson



Panca Indera ( Sudah ) di Lima Negara






Selasa, 4 April 2012 ;


Tepat 17 hari yang lalu saya menyeruput kopi hangat buatan tangan seorang gadis Vietnam dan sekarang, tepat di hadapan saya, terulang kesempatan untuk kembali menikmatinya.

Tapi kali ini bukan buatan gadis vietnam, melainkan buatan tangan saya sendiri *hehe. Kopi ini saya beli di sebuah Kantor Pos nan terkenal di pusat kota Ho Chi Minh, dalam bahasa Vietnam namanya adalah Buu Djien Thanh Pho Ho Chi Minh. Kantor Pos ini di bangun sejak sejak tahun 1886 sampai 1891 dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Saya sangat terkesima dengan bangunan tua ini, busetlah dalamnya gede banget, dan hebatnya lagi bangunan ini masih di fungsingkan lho. Banyak aktivitas yang dilakukan, dan tentu yang terutama adalah surat menyurat, keren ya? di zaman serba canggih gini, mereka masih kekeh mempertahankan aktivitas ini.



Kanto Pos Pusat Saigon


Karena jadi tempat trend alias tujuan wisata di Ho Chi Minh City, maka tak heran banyak turis berdatangan ke kantor pos ini, entah sekedar melihat-lihat eksteriror maupun interiornya, mebeli souvenir, bahkan ada juga yang menyempatkan diri menulis surat untuk sanak familynya. Lha? Emang bisa lintas negara?

Karena penasaran saya coba bertanya dengan mbak-mbak penjual post card :

''Excuse me, miss? could I send this postcard to Indonesia?'' 

''Of Course, you can,'' jawab mbaknya. 

''Oyaa? How Long this postcard arrive in Indonesia?'' tanya saya dengan nada sok terkejut.

 ''Only one week.''


Entah bagaimana mereka mengirimnya, intinya saya hanya bisa salut. Sesalut rasa dan aroma kopi Vietnam, kopi terenak kedua yang pernah saya coba. Lhooo?? Kok kedua? Karena, kopi terenak pertama adalah kopi Toraja *hahaha *tetep.

Dan secangkir kopi ini tidak hanya membawa saya bernostalgia dengan Vietnam, tetapi dengan negara-negara lainnya yang saya kunjungi setelah berkunjung ke negara berpaham komunis ini. Kesempatan yang tentunya sangat berharga dalam hidup saya, 15 hari melakukan perjalanan sejauh lebih dari 5.225 kilometer, ke 7 Kota di 5 Negara Asia Tenggara.

Dalam melakukan perjalanan panjang dan sangat melelahkan ini, saya tidak sendiri, ada Fadly dan Derrick, kami bertiga adalah teman satu kampus. Kami memulai perjalanan ini pada tanggal 19 Maret 2012. Naik pesawat selama tiga jam dari Jakarta ke Ho Chi Minh City, dan dilanjutkan ke beberapa kota, dengan menggunakan moda transportasi darat hingga tiba di negara terakhir, Singapore.

Tentu banyak pengalaman berharga dan pelajaran hidup yang saya dapat, di setiap langkah saya, seakan menjadi sebuah kesempatan terbaik mengumpulkan serpihan-serpihan kehidupan yang kemudian disatukan menjadi mozaik utuh dan indah.

Setiap serpihan tersebut, menyimpan begitu banyak makna dan nilai-nilai kehidupan yang belum tentu akan saya dapatkan di tempat lain, bagi saya ini adalah sebuah pelajaran yang lebih dari sekedar teori apapun, dan saya menyebutnya sebagai Pelajaran Hidup.

Dimulai dari Mendengar kebisingan lalu lintas di kota Ho Chi Minh, Melihat kemegahan Angkor Wat, Mencipi berbagai macam kuliner khas Thailand, Mencium aneka ragam bau sesama backpacker dari berbagai negara di dalam sebuah dorm di Penang, hingga Meraba kedigdayaan negara pelabuhan Singapore.




Perjalanan itu bersifat pribadi. Kaluapun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku. - Paul Theroux