Jumat, 21 September 2012

Karimun Jawa : Pesona Bahari di Utara Pulau Jawa



''Karena dulu pulau ini kremut-kremut alias terlihat samar-samar makanya pulau ini dinamakan Karimun.'' Sontak kami semua tertawa mendegar celotehannya.

Namanya Rizal, dia adalah pemuda asli Pulau Karimun Jawa. Berkulit hitam, berbadan kecil namun berotot, tipikal penduduk pesisir pantai. Seperti penduduk pulau Karimun Jawa pada umumnya, mas Rizal adalah sosok yang sangat bersahabat dengan para wisatawan.

Masih teringat jelas dalam benak saya, bagaimana mas Rizal ikut membantu kami mencari wisatawan yang tidak terikat dengan travel agen. Bagi backpacker seperti kami, harga sewa kapal untuk mengelilingi beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Karimun Jawa memang cukup mahal, cara satu-satunya kami harus mencari wisatawan lain untuk bergabung dengan kami, sehingga harga sewa kapal dapat dibagi rata. Karena bantuan mas Rizal akhirnya kami dapat melakukan wisata bahari di Perairan Karimun Jawa, untuk kemudian berbagi cerita perjalanan ini...


Ambilah kenangan dengan fotomu dan jangan mengambil sesuatu di alam sebagai kenanganmu. - Taman Nasional Karimun Jawa


Kami memulai perjalanan dari Pelabuhan Kartini Jepara. Dengan menaiki kapal ferry KM Muria, kami akan menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam menuju Taman Nasional Karimun Jawa.

Ini kali pertama saya kembali naik kapal setelah 17 tahun lamanya, terakhir saya naik kapal saat berumur 4 bulan. Jadi, bisa dibilang kalau saya itu belum benar-benar merasakan bagaimana sih rasanya naik kapal.

Setelah memasuki kapal saya bergegas menuju bagian atas dek kapal. Kenapa saya ingin sekali berada di dek kapal? Karena saya terinspirasi Film Titanic, pasti sudah tahu kan adegan ketika Leonardo dan Kate Winslet bermesraan di atas dek kapal? Nah, saya itu berharap bisa melakukan hal serupa, so sweetnya... *Lirik teman perjalanan *Cowok semua!!

Saya pikir duduk di dek kapal itu nyaman. Sial, Ternyata duduk di dek kapal itu semacam zonk! Panasnya... Sengatan matahari begitu terasa di ubun-ubun, membuat kepala terasa pusing dan perut pun bergejolak, belum lagi laju kapal yang sangat pelan. 

Tahu nggak?! Sebenarnya jarak dari pelabuhan Kartini ke Pelabuhan Taman Nasional Karimun Jawa itu hanya sejauh 90 kilometer lho, dekatkan? Tapi kenapa kapal ini berjalan pelan sekali. Bisa dibilang laju saya mengayuh sepeda roda tiga lebih cepat dibanding laju kapal ini, pantas saja waktu tempuhnya lama sekali. Huufft

Beruntung saya bersama dengan teman-teman yang sangat baik. Sepanjang perjalanan yang menguras tenaga dan menguras isi dalam perut, mereka begitu perhatian dengan saya, mengambilkan minum, memijat dan senantiasa mengingatkan saya agar tidak menjatuhkan diri ke laut. *Kemudian terharu *Berpelukan.


14.30, Selamat Datang
Akhirnya kami sampai juga di Taman Nasional Karimun Jawa. Setelah turun dari kapal banyak orang-orang yang mengerubuti kami, ditarik ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang.. di lempar ke atas, di banting.. dan kami pun bergegas lari meninggalkan mereka. Kabur!!

Mereka itu adalah orang-orang yang menyewakan penginapan dan menawarkan jasa transportasi menuju penginapan. Yaelah.. Pulau Karimun Jawa itu seluas apa sih?! Pasti tidak lebih luas dari halaman rumah saya. Dari pelabuhan kedatangan ke pelabuhan nelayan aja nggak jauh-jauh amat, lebih baik jalan kaki lah. *Kemudian kaki pun keram.


Setelah berjalan beberapa meter dari pelabuhan Taman Nasional Karimun Jawa, deretan rumah penduduk mulai terlihat. Penginapan disini menggunakan sistem home stay, jadi warga menyediakan kamarnya untuk disewa per malam. Jangan terburu-buru dalam memilih, sesuaikan dengan kantong dan fasilitas yang didapat. Kami mendapat penginapan dengan tarif 15.000 rupiah per malam dengan fasilitas tambahan yaitu diesel. Murahkan? Sekedar informasi, Karimun Jawa itu menggunakan PLTD dan hanya menyala dari pukul 17.00 - 05.00 saja.




Suatu Malam di Karimun Jawa
Duar.. Duar.. Duer.. Suara petasan terdengar tepat di sebelah kami. Wah ini nih, ngajak perang nih. Kami pun segera membeli petasan dan membalas serangan anak-anak itu. ''Fire in the hole !'' Duaaaar..


Kata mereka alun-alun ini selalu ramai, apalagi malam minggu seperti ini. Mulai dari anak-anak hingga orang tua senang berkumpul di tempat ini. Berbagai macam kegiatan mereka lakukan, bermain, berkumpul dengan keluarga, menjual aneka makanan dan minuman, atau menonton film India di Balai Desa. Alun-alun ini memang menjadi tempat terbaik untuk merayakan malam.



Pesona Bahari Karimun Jawa
Pagi hari ini kami akan berwisata bahari, menggelingi beberapa pulau kecil di sekitar pulau Karimun Jawa dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah lautnya. Berangkat...


Wow, ternyata di Pulau Menjangan Besar kita berkesempatan berenang dengan ikan hiu. Awalnya takut juga berenang di dalam kolam penangkaran ini. Bayangin aja, di dalam kolam penangkaran yang lumayan luas terdapat puluhan Blacktip Reef Shark. Tapi setelah di yakinkan oleh pemiliknya, saya memberanikan diri untuk menyebur ke dalam. Ternyata hiunya cuek-cuek saja ketika saya berenang, saya pun dengan santainya berenang kesana kemari, yuhuu... hingga akhirnya, ''Mas, kakinya berdarah ya?!'' ''Hah!! Serius?!'' Tolongggg mak!!! *Jeng jeng.

Ah sudahlah, saya tak perlu menceritakan ke kalian bagaimana perjuangan saya melawan maut, pokoknya kalian harus coba sendiri! Rasakan sensasinya.


Perairan di Karimun Jawa sungguh menawarkan keindahan alam bawah laut yang luar biasa indah. Ikan, ubur-ubur dan terumbu karang seakan mengajak kita untuk menari-nari bersamanya.

Pulau-pulau kecil di sekitarnya pun terawat dengan baik, pasir putih dengan perairan yang dangkal menjadi tempat terbaik untuk bermain air atau sekedar berleha-leha. Selain itu keramahan penduduk di pulau Karimun Jawa sungguh memberikan kenyamanan bagi siapa saja yang hendak berkunjung.


Dan malam terakhir di pulau Karimun Jawa kami tutup dengan membakar dan menyatap ikan yang kami beli di Tempat Pelelangan Ikan. Ditemani obrolan dan canda dari mas Rizal, kami mengungkapkan harapan agar dilain waktu dapat kembali lagi ke Pulau ini.




Rabu, 19 September 2012

Meraba Merbabu



First Hiking Trip - Don't Tell My Mother





15 September 2012


Pagi itu, dengan tas carier melekat di punggung, kami serasa menjadi pusat perhatian ketika sebelas motor melaju menembus padatnya jalanan kota Jogja .Dari dua puluh dua orang, hanya empat orang yang pernah naik gunung, sisanya belum pernah sama sekali, tak ayal semakin menjadilah gaya dan tingkah kami. Bagi kami modal naik gunung kali ini adalah penampilan dan semangat. 


Dua jam perjalanan kami tempuh dari Jogja menuju basecamp awal pendakian taman nasional Merbabu, di Selo. Kata mereka yang mengetahui, Gunung Merbabu itu cocok buat pemula seperti kami ini dan jalur Selo merupakan jalur dengan pemandangan alam terbaik dibandingkan jalur pendakian lainnya. 

Jaket sudah terpasang, kacamata dan slayer sudah dipakai, ransel berulang kali di atur posisinya, rambut pun tak henti-hentinya ditata. Pukul 16.00 kami melangkah meninggalkan basecamp.


Menuju Sabana Satu, Merbabu

Bongkar.. Bongkar.. Bongkar!! Jaket dilepas, slayer tidak lagi dipakai, kacamata sudah tidak terpasang, jambul pun tidak lagi berdiri, keringat deras bercucuran, kami kelelahan saudara-saudara! Sial, padahal ini baru beberapa kilometer dari basecamp, emm.. dua kilometer mungkin, tapi nafas kami sudah berpacu dalam melodi, hahaha. Sejak saat itu, langkah kami atur sesantai mungkin, agar tenaga tak terbuang sia-sia. 

Tidak lama kemudian matahari telah hilang entah kemana dan saatnya head lamp memaikan perannya, membatu kami menyusuri jalan setapak. Entah sudah berapa jauh dan berapa lama kami berjalan, tidak terasa hari semakin gelap, kabut perlahan mulai turun, angin berhembus dengan kecangnya, seakan-akan menghajar tubuh kami. Beberapa kali kami beristirahat, saling berbagi minum, makan, cerita, saling memberi perhatian dan motivasi.

Tidak ada yang kami kejar dalam perjalanan ini, kami tidak perlu terburu-buru. Ternyata perjalanan ini lebih berat dari apa yang kami bayangkan sebelumnya, jadi kami hanya perlu menikmatinya saja kan? 

Melakukan pendakian bersama-sama dengan jumlah yang banyak itu memang mengasikkan, lelah dan udara yang dingin seakan tergantikan dengan hangatnya kebersamaan, terlebih saat kami saling bercanda atau menghayal jika nanti kami berhasil menggapai puncak Gunung Merbabu. Dianatara kami ada yang ingin menyampaikan selamat ulang tahun untuk adik, ayah maupun ibunya. Ada juga nih yang ingin mengungkapkan rasa sayang untuk pacar, dan ada yang ingin mengucap kata 'Wow' di ketinggian 3142 mdpl. Hahaha, absurd sekali ya?! Tapi celotehan - celotehan semacam itulah yang membuat kami semakin bersemangat. Ya, kami pasti bisa!



Saya berani menyimpulkan, kalau jalur pendakian dari pos tiga menuju sabana satu merupakan jalur pendakian tersulit dibanding jalur yang sudah kami lalui sebelumnya. Jalannya berdebu, sangat terjal hingga kemiringan  mencapai 80 derajat, saat berjalan badan dan tanah saling bersentuhan, kiri kanan kami jurang yang sangat terjal, andai salah melangkah jatuhlah kami... 

Langkah demi langkah terus kami pasksakan, saling memberi komando dan semangat satu dengan yang lain. Beberapa jalur mengharuskan kami untuk berjalan merayap, terkadang beberapa dari kami ada yang terpeleset dan meluncur turun, ah.. untung saja ada teman di bawahnya. 

Ya, sebenarnya kami itu salah jalur, kami melewati jalur yang tak sepantasnya untuk dilewati, kami menyadari hal tersebut ketika kami pulang keesokan harinya. Walaupun salah jalan, kami semua berhasil melaluinya, bahkan kejadian itu menjadi sesuatu yang penuh dengan kenangan dan tawa. Ketika kami tiba di Sabana satu pukul sebelas malam, sambil mendirikan tenda dan meyiapkan api unggun, kami selalu membahas dan bercerita tentang kejadian heroik itu.. hingga lelap menghentikannya sesaat.



Selamat Pagi, Merbabu

Malam itu saya terus bergumam dalam hati, saya ingin cepat pagi! Buset dah, dingin sekali di dalam tenda, badai angin diluar terasa hingga ke rusuk. Saya sungguh butuh pagi, butuh matahari, butuh kehangatan, butuh pelukan! *Tetttoot!

Udara yang dingin bercampur dengan teriknya matahari, membuat pagi disini terasa hangat. Gilak!! Pemandangan disini luar biasa sekali! Padang sabana, bukit dan Gunung Merapi yang semalam disembunyikan oleh gelap, nampak memamerkan pesonanya, menjadi lukisan pagi yang tak terbantahkan keindahannya. Memulai hari dengan mengisi perut dengan makanan yang seadanya, kami pun bersiap memulai perjalanan menuju Puncak Trianggulasi, Merbabu. 


Kami kira ini puncaknya, ternyata bukan, masih turun kemudian naik lagi. Ini puncaknya? Bukan, masih harus naik lagi. Mereka menyebutnya puncak bayangan, dimana puncak aslinya tertutup oleh bukit, jadi seakan-akan kita berjalan dan sudah dekat dengan puncak Merbabu. Memang sangat menguras tenaga dan mental, berkali-kali beristrahat dan berulang kali timbul pertanyaan, ''Kapan sampai puncak?'' atau ''Apakah sanggup sampai puncak?'' Namun senantiasa kami mensugesti diri, membuang jauh-jauh pertanyaan skeptis itu. ''Tidak ada yang tidak mungkin, kita tidak akan tahu sebelum mencoba!''

Dan.. akhirnya kami, 22 pendaki berhasil meraba puncak Trianggulasi, Merbabu! Di ketinggian 3142 mdpl kami saling mengekspresikan kegembiraan. Yes! Akhirnya kami mengucap 'Wow' di Puncak Merbabu, hahaha! *Tos!


Wow di Ketinggian 3142 MDPL




'' Jangan meninggalkan apapun kecuali Jejak. Jangan mengambil apapun kecuali Gambar. Jangan membunuh apapun kecuali Waktu. ''