Minggu, 15 Oktober 2017

#HerFirst (Bag.II)

Sekarang perjalanan darat bukan lagi satu-satunya cara mengunjungi Tana Toraja, dibukanya Bandara Pong Tiku di Rantetayo membuat wisatawan mempunyai alternatif lain menuju kesana melalui Bandara Internasional Hasanudin, Makassar. Susi Air membuka rute pernerbangannya tiga kali seminggu yaitu pada hari senin, rabu, dan sabtu. Sebenarnya ada keinginan untuk memcoba penerbangan ini, namun sepertinya tidak sekarang karena kami akan memperlihatkan ke Lintang, bagimana menariknya sepuluh jam perjalanan ke negeri orang mati yang hidup, Tana Toraja.

Meski aku sudah berulang kali menggunakan jalan darat, tapi tidak pernah merasakan yang namanya bosan, kalau lelah sudah pasti tapi bakal hilang dengan mudahnya kalau sudah tiba di kampung nenek. Karena nggak ada yang dikejar, kami selalu mampir ke tempat-tempat singgah favorit. Pertama, ada ikan bakar di pinggir jalan kalau kita sudah memasuki kabupaten Pangkep, ikan bandeng atau bolu yang dibakar dan disajikan dengan sop saudara, selain citarasanya yang juara, nuansa warung pangkep ini juga sangat tradisional. Habis makan siang, beberapa kilometer saja dari Pangkep kami singgah di kota Barru' untuk membeli jagung ketan, jagung rebus yang bentuknya kecil, manis dan imut dimakan dengan cara dicocol ke cabai dan garam. Bisa banyangin nggak rasanya ? Nano-nano di mulut ! Terakhir, jangan lupa mampir beli mantao di kota kelahiran bapak presiden BJ. Habibie, cocok banget untuk teman perjalanan atau oleh-oleh.


Selain kuliner yang sedap di mulut, kita juga bisa menikmati pemandangan alam yang tak kalah sedap dipandang mata. Bukit, rawa-rawa, perkampungan rumah panggung, pantai, dan last but not least - Gunung Nona. Gunung primadona yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk beristirahat sejenak. Dari rest area yang terletak di Enrekang ini, Tana Toraja sudah sangat dekat. Lelah seperti hilang bersamaan turunnya kabut di Gunung Nona tiap kali menyadari kalau kurang lebih dua jam lagi kita akan sampai. Dari yang awalnya tertidur, sekarang kita semuanya terjaga, ngobrol ngalor-ngidul, kesempatan ini aku manfaatkan untuk menceritakan ke Lintang bagimana tersohornya nama Nenek Guling di kampungnya. "Nenek Guling itu kayak kepala suku, nggak pernah absen soal urusan upacara adat kematian dari satu kampung ke kampung lain, masih kuat jalan kaki, kalau haus minumnya bir hitam !" "Masak iya ?!" Tanya lintang dengan nada tanya dan tawa. "Beneran, kalau berdoa kayak orang kesurupan lho, macam pakai bahasa roh, yang tau cuma dia dan Tuhan." Tambahku yang buat Lintang malah ketawa dan semakin nggak percaya, dia anggap aku sedang berbual. "Kamu nih sukanya bohong-bohongin aku !"

Belum selesai kami bercerita soal Nenek Guling, tampak dari kejauhan sirine mengaung dengan lampu rotator yang menyilaukan mata. Siapa dia ?! The one and only ! Let me introduce my grandmother : Nenek Guling ! Jangankan Lintang, aku, papi dan mami pun geleng-geleng nggak habis pikir kalau nenek bakal menyambut  kami pakai mobil polisi ! Seumur-umur kami ke kampung halaman, belum pernah dijemput nenek pakai mobil polisi. "Ini spesial untuk yang pertama kali datang ke rumah nenek, spesial untuk lintang !" Sambut beliau.

Tidak cukup disitu, kunjungan pertama Lintang ke rumah nenek pun disambut tarian yang sudah disiapkan oleh Nenek Guling. Luar baisa sekali, aku pun ikut senang karena nenek dan saudara-saudara yang lain menerima Lintang dengan hangat, sungguh menghangatkan dinginnya udara Tana Toraja malam itu."Kure' Sumanga', Nek." Ucap Lintang.

Aku rasa, karena semalam dia sempat dipsksa nenek meneguk Ballo' (Tuak), tidur malamnya cukup nyenyak, dia tidak merasa terganggu dengan kerasnya kasur, tidur bersama seluruh anggota keluarga dalam satu ruang tanpa sekat pemisah dan tidak takut kalau ruangan itu pula yang menjadi tempat tidur tubuh Kakek Guling yang sudah terbujur kaku selama enam bulan sebelum keluarga mengadakan upacara adat pemakaman.


Kebayang nggak sih rasanya ngajak pacar ke kampung halaman untuk pertama kalinya ? Selain senang, aku juga cukup khawatir, karena rumah nenek yang akan kami kunjungi masih bena-benar plosok, rumahnya pun masih tradisional, udaranya dingin dan nggak ada air panas pastinya. Aku khawatir kalau Lintang nggak betah selama di rumah Nenek Guling. Syukurlah hal itu nggak terjadi,  bahkan sebelum aku bertanya, dia sudah lebih dulu mengungkapkan perasaannya, "Wow. Cool !" Itu kata pertamanya di pagi pertama kami di rumah Nenek saat ku ajak dia melihat tongkonan dan pemandangan alam sekitar tempat tinggal nenek.

Pagi ini kami akan pergi ke beberapa tempat iconic di Tana Toraja untuk melakukan sesi foto prewedding. Bisa dibilang ini adalah rencana yang impulsif, kami tidak ada rencana untuk melakukan sesi foto disini sampai akhirnya satu hari sebelum keberangkatan ke Toraja dari Makassar, Papi menawarkan kesempatan ini. Setelah tawarannya kami setujui, papi langsung menghubungi teman-temannya, menanyakan salon dan fotographer di Toraja. Sesuai perkiraanku, nggak perlu waktu lama buat papi untuk mendapatkan jasa mereka. Tiga tempat yang akan kami jadikan lokasi prewedding adalah Tongkonan Buntu Pune', desa adat Kete' Kesu dan Lolai. Diluar ekseptasi kami, ternyata sesi foto ini sangat menyenangkan, karena kita juga sekalian berwisata menikmati indahnya alam Tana Toraja, suasana foto jadi lebih menyenangkan karena tidak hanya aku dan lintang yang difoto tapi mami, papi, nenek dan tante pun ikut-ikutan sibuk berposes dan minta difoto.


Sesi foto ini berakhir sebelum makan siang, syukurlah semua berjalan dengan lancar dan hujan tidak turun meski pagi sebelumnya sempat deras. Dari lokasi foto terakhir di Lolai, perkampungan yang mendapat julukkan negeri di atas awan, kami lanjut makan siang di ... Ini adalah rumah makan yang menjual ikan mas bakar, dijamin kalian akan makan dua porsi disini. Tapi sayangnya, hal itu nggak berlaku buat Lintang, pacarku yang cantik imut namun kadang menyebalkan ini, tiba-tiba mengemparkan seluruh pengunjung restaurant, sesuap nasi yang sudah di bibir mulut pun terpaksa ku tunda untuk dilahap, semua terhenti, mengarahkan fokusnya ke gadis cantik yang makan ikan bakar pakai sendok ini ! Lintang tersedak Duri Ikan ! Mau ketawa tapi kok ya kasian, lebih kasian lagi karena duri kecil itu nggak copot-copot dari tenggorokkannya. Segala cara udah dilakuin, nelen nasi tapi dikunyah, minum air putih, makan apel, daaaaaaaan gosok-gosokin duri ikan mas di kepalanya, begitu saran pemilik restarurant, kocak sih yang satu ini tapi ya tetap aja nggak berhasil. Kadang tenggorokkannya terasa masih ada durinya, kadang enggak, kasian lihat Lintang saat itu. Dari kejadian itu dia sudah berjanji nggak mau makan ikan mas lagi, tapi karena kejadian itu dia berutang budi dengan pembuat Ballo'. Karena, saudara kami cukup banyak di kampung jadi kalau pas lewat kita harus mampir dan makan. Setelah makan ikan mas dan sebelum pulang ke rumah Nenek kami mampir ke salah satu rumah saudara, makan dan Ballo' sudah tersaji di meja makan, meski perut sudah terisi, haram hukumnnya menolak makanan yang sudah disajikan sehingga kami makan lagi, nggak masalah sih karena masakan orang Toraja juga ena-enak, saat itu Lintang memulainya dengan meminum Ballo' dan mukjizat itu nyata, duri yang nyangkut di tenggorokkannya langsung lepas sesaat setelah fermentasi dari pohon ara ini terteguk, glek ! Lintang happy lagi, dan semua ikut happy, kidung pujian pun dilantukan. Alleluya !



Tidak ada yang lebih bahagia selain mengetahui kalau Lintang enjoy selama di Toraja, apalagi mengamati reaksinya saat menangkap hal-hal unik yang baru pertama kali dia lihat, diantaranya saat dia menyadari bahwa selama perjalanan ternyata nenek Guling membawa bir hitam sebagai bekalnya, kaget saat melihat seekor babi besar dirantai dan diajak jalan-jalan sore oleh tuannya, dan bingung saat menjadi saksi bagaimana nenek berdoa dengan bahasa roh, "Gimana, benarkan kataku kemarin ?!" Kataku sambil tersenyum dan kunaikkan kedua alisku. Semoga aja Tuhan kasih umur panjang dan kesempatan lagi untuk mengunjungi rumah Nenek Gulng, semoga juga kami bisa mengajak papa mama Lintang kesini.



Kure' Sumanga' 
  




Senin, 09 Oktober 2017

#HerFirst

Pernah nggak ajak pacar kalian jalan-jalan ? Pernah lah ya pasti. Kalau ajak pacar kalian ke kampung halaman ? Jadi, akan ku ceritakan ke kalian bagimana pengalaman Lintang, my best partner, mengunjungi Tana Toraja untuk pertama kalinya, her first ! 

Pesawatku mendarat lebih dulu di Bandara Internasional Hasanudin, disusul satu jam kemudian kedua orang tuaku dan Lintang tiba dengan selamat di Makassar. Dengan sumringah aku menyambut mereka, memeluk untuk melepas rinduku. Sudah kuduga Lintang sangat excited, selain ini pertama kalinya dia ke Makassar, hari sebelumnya sudah kutakuti dia dengan stereotype yang ada di kota ini, bahwa hawa panas dan lembab membuat orang-orang disini mudah sekali marah, sehingga ku minta dia jangan annoying selama kita berada di Makassar, karena aku bakal marah dan mengigit telinganya. Setelah mengambil bagasi kami berjalan menuju lokasi penjemputan, saudara kami sudah menunggu disana. Puluhan sopir dan porter sudah sudah siap menawarkan jasanya ke siapa saja yang melewatinya. "Taksi, taksi." "Saya bawakan tasnya." "Ayo saya bawakan kopernya." "Mobil pak." Seperti bandara di Indonesia pada umumnya, mereka nggak capek-capeknya menawarkan jasa, meski sudah ditolak dengan halus tetap aja ngeyel hingga akhirnya Lintang mengakhiri drama ini dengan berkata "Enggak mas !" Dengan nada tinggi ! Semuanya kabur, semuanya pergi, give up, pura-pura lupa, hilang arah tujuan, aku dan mami pun terkesima melihat Lintang, terbius beberapa detik dan menutupnya dengan tepuk tangan meriah. "Mantap kak Ilin." My mom said.

Kami akan tinggal semalam di Makassar, besoknya kami akan fitting sebelum lanjut perjalanan darat ke Tana Toraja. Kota Deang dengan kulinernya adalah tempat terbaik buat kami yang hobi makan ini. The best culinary tourism in Indonesia, menurutku. Keluar dari bandara, kami laju kendaraan kami untuk makan siang di Sop Iga Karebosi, satu dari sekian banyak tempat makan di Makassar yang wajib disinggahi. Favorit saya adalah iga bakarnya, dua buah iga sapi bakar disajikan dengan bumbu kacang diatasnya dan kuah sop yang terpisah. The best Iga in town lah pokoknya. Malamnya aku ajak dia ke Pantai Losari untuk mencoba pisang Epe'. Ternyata Pantai Losari sudah berbenah, tempat ini sekarang terlihat lebih rapi dan bersih, banyak polisi pamong praja yang berjaga-jaga membuat pengunjung merasa lebih aman dan nyaman.  Puluhan penjual pisang Epe' juga sudah ditata di satu lokasi, lengkap dengan meja dan kursinya. "Jadi, kenapa sih dinamai pisang Epe' ?" tanya Lintang, "Soalnya pisang kepok ini dijepit sampai gepeng, nah dalam bahasa Makassar dijepit itu disebut Epe'. Piye enak ora ?" "Enak, aku suka." Balasnya. Nggak jauh dari pantai Losari kami lanjut ke Rumah Makan Florida. Rumah makan yang buka dari jam 10 pagi sampai jam 11 malam dan nggak pernah sepi. Menu andalannya adalah mie Kwantong dan nasi goreng Merah yang dimasak pakai kayu Bangkoa. Nggak cuma enak, menunya pun banyak, bener-bener banyak lho ya, serius ini, aku dan lintang pesan satu porsi untuk berdua, sweet


Coba tebak, apa yang paling Lintang pingin di Makassar ? Coto makassar dan pisang ijo masuk list teratasnya, dia salah satu pelanggan coto makassar La Capila, yang di jual di jalan Kota Baru, Jogja. Pernah suatu kali saya bilang kalau coto disana itu jauh berbeda dari kota asalnya, disana kuahnya nggak kental, dagingnya juga sedikit banget. Makanya waktu ada kesempatan untuk singgah di Kota Makassar, dia selalu ingatin untuk makan coto dan pisang ijo. Sudah pasti kami pun ajak dia cicipin Coto Makassar Nusantara dan Pisang Ijo Bravo. Dua makanan yang nikmatnya ikut terbawa di sepuluh jam perjalanan ke Tana Toraja. 
. . .

Terimaksih sekali sudah baca, I do appreciate ! #HerFirst bakal saya lanjutin lagi besok. Saya akan ceritain ke kalian pengalaman Lintang tinggal di Tongkonan, minum Balo', melihat kuburan di dalam Goa, melihat nenek berdoa pakai bahasa roh dan banyak lagi :) Kure' Sumanga.


Minggu, 08 Oktober 2017

IDEAFEST : Festival Of Colaboration

Pekan lalu, saya menghadiri sebuah festival yang berlangsung selama dua hari di JCC Senayan, Jakarta. Festival kolaborasi yang bertujuan untuk menginspirasi dan menghubungkan komunitas kreatif di Indonesia. Festifal ini sangat menarik, karena kita bisa belajar dan mendengar cerita dibalik kesuksesan pelaku creative entrepreneur hingga social entrepreneur yang sebagian besar didominasi olah mereka yang memulainya saat usia muda. Kurang lebih ada 100 pembicara di 10 ruang berbeda yang akan berbagi dengan bahasan topik yang berbeda pula, mulai dari musik, kesehatan, kopi, periklanan, bisnis retail, investasi, konten kreatif di media social, photography, hospitality dan masih banyak lagi. Mungkin, kalau bisa pasti saya akan masuk kesemua kelas yang ada. Sayang, tiap peserta hanya dimungkinkan mengikuti maksimal delapan sesi saja.

Saya memulai hari pertama dengan mendengarkan paparan Rene Suhardono dan tim dari Limitless Campus tentang "YOLO Concept is Bullshit !" Menurut Rene, awal dari memulai segalanya adalah : Mengenal diri dulu, saya ini siapa ? Who am I ? Dan kamu mau buat apa untuk lingkungan sekitarmu.  Jaman dulu atau biasa disebut generasi Y, jabatan, sekolah tinggi, ipk bagus dan nilai adalah faktor utama penentu kesuksesan seseorang, mereka semua berlomba untuk itu. Sedangkan di masa milenial seperti sekarang hard skill nggak ada artinya kalau kita nggak punya soft skill seperti cara kita membawa diri, bergaul, berbica dan menjadi pribadi yang original / authentic. Sebelum sesi selama satu jam itu ditutup, Rene Suhardono menjawab pertanyaan dari seorang peserta soal apa yang harus dipertimbangkan sebelum kita benar-benar memutuskan untuk keluar dari rutinitas eight to five. Menurutnya, tiga hal ini : getting paid, apresiasi, dan tumbuh berkembang adalah alasan terbaik untuk bertahan, jika salah satu dari ketiga aspek itu tidak terpenuhi, makan tidak ada alasan untuk melanjutkan rutinitas yang sedang kita kerjakan.

Dari Jobs Room, saya melanjutkan sesi kedua di Pharell Room, di ruang itu Yandy Laurens (Film Maker), Reza Akbar (Olrange) dan Cut Nisa Amalia (Head of Digital Pocari Sweat) berdiskui dengan peserta soal bagimana menjadikan media sosial terutama youtube sebagai sarana untuk membangun branding Pocari Sweat dan Tropicana Slim dengan cara membuat web series. Bahkan dari web series ini, Tropicana Slim dengan Sore-nya mampu mendekatkan produknya ke kalangan anak muda. Mereka melihat peluang youtube yang kini sudah mulai diakses oleh 51% lebih masyarakat Indonesia. Bahkan platform ini sudah dilabeli dengan istilah YouTV. Dengan mengetahui dimana kita bisa mendapat audience kita, maka marketing campaign akan berjalan dengan mulus dan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu mahal, yang terpenting adalah terus mencari sesutau yang baru dan berkolaborasi dengan baik.

Festival ini juga diramaikan oleh bazar food & beverage dan juga berbagai macam produk handmade dari Indonesia seperti : tas, sepatu, pakaian. Ideafest bersama salah satu sponsornya yaitu Tokopedia mengangkat tema From Online to Offline pada bazar tersebut, yang tentunya berhasil menarik minat  dan mengenalkan prouduk karya anak bangsa.


Setelah makan siang dan melihat-lihat bazar O2O (from Online to Offline) saya kembali duduk di barisan pailing depan Warhol Room untuk mendengarkan presentasi perempuan-perempuan hebat dibalik suksesnya Domisilium Studio dan Bitte Design Studio. Santi Alysius, yang dua dari project terbarunya adalah Kayu Kayu Restaurant di BSD dan Gormeteria di Bandung sangat senang memanfaatkan produk lokal, limbah kayu bekas manufacturing untuk mendesain interior dengan harga terjangkau namun instagrammable. Menurutnya untuk membuat desain yang baik kuncinya adalah melakukan reset dilingkungan sekitar kita. Sedangkan Agatha Carolina dan Chrisye Octaviani pemilik Bitte Design Studio menambahkan bahwa pada dasarnya desain yang baik itu berangkat dari fungsi, kalau hanya memikirkan instagrammable saja berarti belum well design. Terakhir Santi Alysius mencoba mendifinisikan arti dari instagrammbale interior itu sendiri, menurutnya instagrammble interior itu soal gimana caranya membuat space yang jadi ciri khas suatu tempat. Ketika kita foto salah satu spotnya, orang bakal tau kita sedang berada dimana.

Warhol Room sendiri sudah sejak awal saya tandai sebagi ruang yang sesinya akan paling banyak saya ikuti. Karena selain pembicaranya cukup terkenal dan sukses di bidangnya, topik pembahasannya pun sangat menarik dan sesuai dengan rencana yang sedang saya persiapkan dan akan segera saya eksekusi. Setelah satu jam mendengarkan presentasi tentang design interior saya tidak pindah dari tempat duduk, saya akan menunggu saja 10 menit disini, karena saya tau puluhan orang pasti bakal antri di pintu masuk untuk mengikuti sesi selanjutnya, dengan topik Advertising for A Very Short Attention Audience yang akan dibawakan oleh film maker ternama Indonesia, pembuat iklan yang mudah sekali viral dan bikin penonton misuh-misuh : Dimas Djayadinigrat ! Dengan gaya nyentriknya dia membuka sesi siang itu dengan mempromosikan baju "Pelan tapi Dalem" nya sebelum memberitahu kita bagimana sebaiknya anak muda berkarya. Tiga kunci utamanya adalah simple, effective dan brave. "Kalau mau berkarya nggak usah banyak mikir. Overthinking kills your happiness !" - Dimas Djayadinigrat.


Menarik melihat bagimana Dimas berkarya, nggak heran kalau karya-karyanyanya itu selalu viral dan khas. Sebut saja Indoeskrim, AXIS, AP Boots yang kalau kita tonton pasti bakal terhibur dibuatnya. Tapi ya namanya media sosial, kalau viralnya cepat, tenggelamnya pun cepat juga, itu sebabnya kita nggak boleh cepat puas dan harus berani terus berinovasi, hal ini sama persis yang sedang dialami bisnis kopi tanah air. Siapa coba yang tidak kenal ABCD Coffee, pelopor #ngopidipasar/ Berawal dari kebosanan mereka akan rutinitas ngopi bareng dengan orang-orang yang itu-itu saja, Ve Handojo mencari sesuatu yang baru dengan menciptakan hastag yang membuat peminum kopi dari berbagai kalangan : musisi, pelukis, penulis, pengusaha, karyawan, mahasiswa berbondong-bondong datang ke Pasar Santa untuk nyuruput kopi yang tentunya membuat suasana waktu itu jadi berbeda dan lebih asik. Menurut om Ve sesuatu itu nggak akan boring ketka ada suseuatu yang selalu baru, ada sesutu yang baru dari coffee shopmu, lebih dari sekedar promo diskon atau buy one get one. Beda ceritanya dengan Andanu Prasetyo, penggagas kopi TUKU, berawal dari keinginannya membuat kopi yang sesuai dengan keinginan warga sekitar kelurahan Cipete, kini es kopi susu miliknya tidak hanya dinikmati di kelurahan Cipete saja tapi sampai keseluruh Ibu Kota. "Warga Cipete itu maunya kopi yang dingin pakai susu. Ya udah saya buatin, intinya saya cuma mau buat yang warga Cipete mau, masak mereka maunya yang dingin terus saya tetep kekeuh buatin kopi panas. Saya kan cari cuan juga." Begitu kata Tyo disambut gelegar tawa peserta. Menarik kan ?! cerita dan inovasi mereka ini benar-benar menginspirasi. Salut dengan dedikasi mereka untuk Kopi Indonesia, kesetiaan mereka bertahun-tahun untuk mengenalkan kopi lokal dan memajukan kesejahteraan petani kopi.

Selesai membahas soal kopi, kini saatnya mendengarkan cerita Ari Respati dan Felly Imransyah, mereka adalah founder Yats Colony dan Syah Establishment. Mereka berdua sepakat bahwa kesuksesan yang mereka dapat berawal dari mimpi, fokus dan konsistensi. Berawal dari mimpi mempunyai boutique hotel di Bali, Felly Imransyah mendirikan Brown Feather, mimpinya itu terus dia pupuk hingga menciptakan mahakarya lainnya yaitu The Gunawarman, Hotel Monopoli Kemang, Lucy in The Sky, Belmount, dan masih banyak lainnya. Sedangakan mimpi Ari Respati untuk menciptakan hotel nyaman dan memiliki nilai-nilai lokal didalamnya terwujud dengan membeli hotel lama di Jogja dan membangunnya kembali menjadi Yats Colony.

Mimpi, fokus, konsistensi dan kolaborasi adalah kata-kata yang selalu keluar dimulut orang-orang hebat ini. Kata-kata yang muncul ditiap topik berbeda yang saya ikuti. David Soong photographer sekaligus founder Sweet Escape pun sepakat kalau tanpa mimpi, fokus, kosistensi dan telebih lagi kolaborasi tentu bisnisnya tidak akan sesukses sekarang ini. Memiliki 300 photography freelancer di 300 kota di seluruh dunia. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan pertemanan, David Soong berkolaborasi untuk mewujudkan keinginan wisatawan memiliki foto-foto yang indah, baik dan memorable.

Dari pagi sampai malam saya mendengarkan dan medapatkan banyak ilmu dari orang-orang sukses dan hebat dibidangnya, maka sesi terakhir ini saya sengaja memilih topik The Untold Story sebagai hidangan penutup hari pertama di Ideafest. Topik ini menghadirkan Anton Wiryono (Good Dept) dan Yukka Harlanda (Brodo) untuk menceritakan jatuh bangun dibalik kesuksesannya. Siap yang menyangka kalau hingga detik ini pun mereka masih memiliki pikiran untuk berhenti. Ternyata meskipun apa yang mereka kerjakan sudah terbilang sukses dan besar, tapi banyaknya masalah dan besarnya tantangan untuk mempertahnkan bisnisnya adalah godaan terbesar untuk lari dan berdiam saja di zona nyaman. Untunglah keinginan-keinganan itu tidak sebesar perjuangan yang sudah mereka lakukan di masa lalu untuk membangun apa yang menjadi passion dan mimpi mereka.

Sungguh luar biasa mendapat kesempatan ini, semoga saya bisa mengikuti jejak mereka dan konsisten memperjuangkan apa yang saya impikan. Terimakasih sudah berbagi.





Rabu, 04 Oktober 2017

Dari Kopi Es Tak Kie Hingga Filosofi Kopi

"Jadi, gimana perasaan kalian pas pertama kali masuk ke lorong tadi ?" Tanya saya sambil meminum kopi es susu yang segarnya keterlaluan. "Macam di film-film mafia Hongkong ya !" Kata Boim sambil disambut tawa oleh saya dan Sudung. Lorong yang kami maksud adalah Gang Gloria, di  Petak Sembilan Glodok, tempat Kedai Kopi Es Tak Kie berada. Ini kali kedua saya ke kesini, terakhir sekitar dua tahun yang lalu saat harga kopinya masih 10 ribu rupiah.


Kalau kesini, acer-ancer saya adalah Cici penjual manisan tepat dibibir gang Gloria, Kopi Es Tak Kie berada sekitar lima puluh meter masuk ke dalam. Dulu saya datang pagi hari bersamaan kaum berdasi berangkat ke kantor dan memesan es kopi hitamnya, kali ini tepat satu jam sebelum kedai kopi ini tutup pada pukul dua siang saya menoba segelas kopi susu seharga 15 ribu rupiah. Beruntung kita datang tepat waktu, segera saja saya rekomendasikan Sudung dan Boim untuk mencoba nasi campur. Namanya juga bawa teman kelas berat ya, selesai makan nasi campur mereka langsung pesan menu enak lainnya, mie pangsit. Sikaaaat ! Kalau udah begitu saya nggak perlu nanya ke mereka lagi rasanya gimana, lahapnya mereka menghabiskan dua porsi makanan sudah lebih dari cukup menjelaskan kalau mereka benar-benar menikmati menu makanan di kedai kopi yang berdiri sejak 1927 ini. 

Kalau kalian datang ke tempat ini, dijamin nggak bakal bingung pilih menu, nggak perlu minta buku menunya yaa, wong mereka cuma menyediakan dua jenis saja untuk masing masing makanan dan minuman kok : Kopi Es Hitam atau Kopi Es Susu, Nasi Campur atau Mie Pangsit, ketika kita sering dibingungkan memilih menu di restoran atau kedai kopi masa kini, kedai kopi ini menyederhanakan semuanya, sesederhana bangunan dan interior di dalamnya. Kursi dan meja kayu dan kipas angin diatas kepalamu, pas !


Kopi Es Tak Kie sudah pasti bakal membekas panjang di indera pengecapmu. Dari rasanya jelas biji kopi ini disangrai ditingkat kematangan tertinggi, dark roasted, disajikan dengan tambahan gula atau susu dan tanpa ampas kopi. Sayang kita nggak bisa berlama-lama disini, padahal atmosfir ruangan ini enak banget, bikin siapa aja yang datang cakap ngobrol panjang lebar pakai bahasa Mandarin.

Setelahnya, kami melanjutkan ke Filosofi Kopi di daerah Melawai, samping terminal Blok M. Pasti kalian sudah nggak asing dengan kedai kopi yang satu ini, nama dan lokasi syuting yang persis dengan film yang diperankan oleh Rio Dewanto dan Chico Jericho. Ini juga kali kedua saya kesini, tapi tujuan kedatangan saya kali ini adalah menegok keadaan kedua sahabat artis saya ini, sayang saat itu mereka lagi sibuk syuting di luar kota, oke nggak apa, kalau gitu saya beli kopi sachet inovasi mereka saja, namanya kopi tiwus, kopi bubuk berbahan dasar 100 persen biji kopi arabika, tapi nggak tau ini single origin atau blend, karena nggak ada keterangan detailnya. Kemasannya menarik, didominasi warna biru muda kesukaan mas Rio dengan logo produk dan tulisan berwarna hitam, warna favorit bang Chico.  Dibagian belakang ada prosedur cara menikmati kopi ini. Saat saya menulis tulisan ini, saya belum mencoba mencicipinya, saya berencana mencobanya saat pulang ke Jogja minggu depan setelah itu baru deh saya bikin ulasannnya khusus. 

Sekilas dari keterangan cara membuatnya, kopi sachet yang dilabeli dengan istilah self drip cofffee ini metode pembuatannya menggunakan filter yang didesain khusus untuk menampung bubuk kopi dan bisa dipasang di bibir cangkir. Setelah filternya terpasang kita tuangkan air panas bersuhu diatas 95 derajat celcius dan diamkan selama 4 menit. Nah, menarik kan ? Pastinya kita sepakat kalau kopi tiwus ini unik dan sangat inovatif, tujuan diciptakannya produk ini mungkin untuk memenuhi hasrat penikmat kopi manual brewing yang nggak punya alat-alat seperti termometer, digital scale, sehingga mempermudah dalam pembuatannya. Tapi, gimana ya soal rasanya ? apalagi kopi yang dibuat dengan metode ini pasti salah satu aspek yang nggak bisa diabaikan adalah ratio antara air dan kopinya. Jadi tambah penasaran dan pingin segera mencoba menyeduhnya nih. Anyway, inovasi dari kedua sahabat saya ini pantas diancungin jempol, mereka benar-benar sukses menjadi anak muda yang penuh kreasi dan pandai memanfaatkan peluang. Jujur, sangat menginspirasi saya. 

Sukses terus untuk mas Rio dan bang Chico, ditunggu kedatangannya di Cornel Homestay Jogja lagi ya !

Mas Rio Liasna Tarigan dan Chicko Hasudungan Sibueya
Sedang Membicarakan Bisnis Kebun Kopi.




Minggu, 01 Oktober 2017

Sampurasun Purwakarta

Ku kenalkan kalian dengan kawan lamaku ini, aria namanya, kami berkenalan saat mengikuti karantina di salah satu lembaga kursus di Bandung. Tiga bulan kami mempersiapkan diri untuk lolos saringan masuk perguruan tinggi ITB dan syukur saat itu dia lolos, sayang ku tidak. 

Foto bersama Aria

Lima tahun berlalu, kami pun tidak pernah bertemu lagi selain sesekali bertukar kabar. Setelah beberapa kali merencanakan untuk bertemu, akhirnya niat itu terwujud di Sabtu kemarin. Bersama nonot dan om jul, kami berangkat ke Purwakarta. Mobil berplat AB itu kami laju melintasi jalan tol  Jakarta - Cikampek.

"Di jalan Jendral Sudirman, persis di depan patung Jendral Sudirman juga, The Sunday namanya." Begitu jawab aria ketika ku tanya lokasi cafenya berada. The sunday adalah cafe milik keluarganya, setelah keluar dari pekerjaan lamanya dia memutuskan fokus mengelolanya. Itulah salah satu alasanku ingin menemui aria, ku ingin merangkul teman sejiwa, bertanya dan mendengarkan caranya memulai dan menggembangkan bisnisnya. Seperti layaknya kawan lama yang lama sekali tak bertemu, maka dengan spontan kurangkul dia dan kukatakan "Jancuk ! Sudah lama banget nggak ketemu cuk, gimana kabar ?!" "Apik jod." Dan ketawa kami pun lepas. Senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan kawan lamaku ini, selain tetap rajin sholat, penampilannya pun tidak berubah, flanel kotak kotak tetap menjadi pakaian favoritnya. Kami pun mulai ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul sampai perut keroncongan dibuatnya, kalau sudah begini obrolan harus segera dilanjutkan di meja makan, hanya berjarak lima langkah dari The Sunday, sate maranggi H. Aneng menjadi tempat terbaik untuk melanjutkan obrolan siang itu. 


Ngomong-ngomong soal sate maranggi, makanan ini sudah pasti masuk to do list kalau main ke Purwakarta. Hj Yeti, pemilik sate maranggi di Bungursari, Cikampek adalah awal kesukaanku dengan sate berbahan dasar daging sapi ini. Dagingnya kecil-kecil, lembut dan manis. Kalau siang itu, kami nyobaiin sate maranggi milik H. Aneng, yang kabarnya adalah sate maranggi yang orignil dan khas daerah Plered. Jadi, kata mereka sate maranggi yang asli itu dimasak setengah matang, daginnya itu masih sedikit kemerahan, makannya juga pakai nasi timbel dan kecap irisan cabai pedas. Entah betul atau enggak, tapi sate H. Aneng ini memang enak banget, nggak terasa sudah 40 tusuk aku, nonot dan om jul habiskan. Walaupun warung tendanya kecil dan nggak ada parkiran mobilnyanya, tapi warung ini selalu habis sebelum jam satu siang lho. amazing.


Mumpung di Purwakarta, selain makan sate, kami juga menyempatkan jalan-jalan ke waduk Jatiluhur, waduk yang digunakan sebagai penyuplai air minum, irigasi dan yang paling utama adalah pembangkit listrik tenaga air untuk daerah Jabodetabek dan sekitarnya. Tempat wisata ini sangat sejuk dengan pemandangan alam yang bagus, akses jalannya juga bagus dan berjarak kurang lebih 9 kilometer dari The Sunday. Malamnya kami jalan jalan ke Taman Sri Baduga, pertunjukkan air mancur menari dengan permainan cahaya ini dimainkan di hari sabtu tiga kali selepas sholat maghrib. Kalau mau kesana saya sarankan jalan kaki saja, ini hiburan rakyat masyrakat Purwakarta, jadi jangan ditanya soal ramainya. Akses jalan menuju kesana sangat padat, sehingga cara terbaik ya parkir kendaraannya di jalan protokol Jendral Sudriman, mampir ke The Sunday dulu, minum dan makan makanannya yang enak enak dengan harga yang sudah pasti terjangkau, favoritku adalah ayam tulang dan sop durian, kemudian baru deh lanjut jalan kaki ke air mancur Sri Baduga :)

Nggak sampai 24 jam aku di Purwakarta, minggu pagi kami dengan berat hati harus berpamitan dengan aria. Tapi kami janji akan bertemu lagi entah di tempat yang sama atau di kampung halamanku, Jogja. Semoga persahabatan kami tetap terjaga, ku doakan juga agar bisnis aria semakin sukses. Terimakasih untuk sharingnya, brother ! 


Tabik.


Ini mas-mas di Waduk Jatiluhur