Kamis, 25 Agustus 2011

Bromo Dalam Kisah

19 Agustus 2011;

Jam 5.30 aku sudah terbangun dari tidur mempersiapkan diri untuk beberapa jam kemudian berangkat menuju jasa antar jemput yang akan membawa-ku ke bromo. Seharusnya sih jam 7.30 sudah berangkat, tapi bukan Indonesia kan kalau belum pakai acara telat, dan telatnya nggak nanggung-nanggung jam 9.00 baru berangkat menuju bromo.

Nah di dalam kendaraan elf yang melaju dengan kecepatan rata-rata 80km/jam ke arah timur Pulau Jawa ini, aku kecuali pak supir adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di dalam kabin, wuuu terpaksa nih keluarin keahlian-ku dalam berbahasa inggris. Preettt!

Didalam kabin, aku memposisikan duduk di paling depan dekat pak supir bersama ken/kenyz/kenzy/kenzin/kenzo ah mboh ah, bingung gimana nulis nama kompeni yang satu ini,  intinya namanya berkutat diantara huruf-huruf itu.


20.00 WIB
(Waktu Indonesia Bagian Bromo);

Tiba di Probolinggo. Kemudian kami diturunkan di sebuah kantor jasa penyewaan jeep, sebenarnya aku tidak berkeinginan menyewa jeep disini, karena harganya lebih mahal di bandingkan jika menyewa di kantor khusus penyewaan jeep yang berada di desa cemoro lawang. Lebih murah lagi jika carter jeep langsung untuk berenam. Tapi apa boleh buat karena ternyata aku juga satu-satunya wisatawan asal Indonesia di bromo, jadi ya terpaksa bergabung dengan mereka (dibaca: bule-bule). 

Saran dan Tip: Jika kamu datang berenam maka carter saja jeep langsung di desa cemoro lawang, dari segi harga hal ini jauh lebih murah, karena di bromo diperlakukan perbedaan harga antara wisatawan lokal dengan wisatawan mancanegara. Harga jeep untuk wisatawan lokal dengan dua tempat yang akan dikunjungi seharga 300 ribu, dibagi saja dengan enam orang kawanmu. 


Desa Cemoro Lawang; 

Setelah mendapat penjelasan kemana saja tempat yang akan dikunjungi saat di bromo nanti, kami kembali melanjutkan perjalanan selama satu jam ke desa cemoro lawang. Desa cemoro lawang adalah pintu gerbang mendapatkan kitab suci eh salah maksudnya pintu gerbang untuk masuk kawasan bromo. Suhu disana, astaga ternyata nggak terlalu dingin ah, cuma 4 derajat celcius aja kok. 

Setelah meletakkan ransel di kamar,  aku berjalan untuk mencari warung makan. Di warung makan berukuran imut ini aku berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Ya! Momen seperti ini wajib hukumnya dalam setiap perjalanan yang aku lakukan. Budaya, bahasa dan logat bicara yang unik tentu menjadi pengalaman tersendiri yang tidak akan di dapatkan di tempat lain. Bahasa Tengger adalah bahasa percakapan sehari-hari mereka dengan mayoritas memeluk agama Hindhu. 

Saran dan Tip: Jangan lupa membawa senter karena disana sangat minim penerangan. Setelah berbicang-bincang dengan penduduk lokal, aku baru tahu, bahwa sebenarnya untuk mengelilingi kawasan wisata bromo ada tiga acara yaitu dengan menaiki jeep, tracking, dan menyewa ojek motor. Untuk ojek motor biayanya 150 ribu per orang untuk tiga tempat (penanjakkan, kawah bromo, bukit teletubies). 

Sesuai perjanjian yang disepakati bersama antara aku, si bule-bule, dan si punya jeep, kami akan di jemput di penginapan masing-masing pada jam 4.30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo) untuk berangkat melihat sunrise di penanjakkan dan kawah bromo. 


20 Agustus 2011; 

Kukuruyuk aja belum berkumandang, alarm juga belum berdering, dan ini semua gara-gara mimpi di tinggal jeep karena, aku adalah turis lokal, biasalah perlakuan yg berbeda. oooohh mimpi yang sepertinya memang fakta dan kalian rasakan jugakan di beberapa tempat wisata di Indonesia. Akibatnya aku terbangun jam 3.00 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo), busett!! 


Penanjakkan dan Kawah Bromo; 

Nggak tau kemasukkan setan apa setelah bangun aku langsung mandi. Dan alhasil badan segar campur kedinginan sebuah perpaduan yang aneh! Ya.. ya.. ya.. sepertinya saat itu rajin sama pekok memang beda dikit. Jam 4.30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo) jeep berwarna hijau sudah menjemput di penginapan-ku dan perjalanan menuju Penanjakkan memakan waktu sekitar lima belas menit. 

Sesampainya di penanjakkan kami para wisatawan mendapatkan semacam jackpot ternyata kami tidak diperbolehkan naik ke Penanjakkan I (dibaca: satu) dimana penanjakkan I merupakan lokasi terindah melihat sunrise karena erupsi gunung bromo beberapa bulan yang lalu mengakibatkan lokasi tersebut tertutup debu vulkanik yang sangat tebal hingga menyebabkan rapuhnya penopang yang tentunya sangat berbahaya bagi pengunjung. 

Okay walaupun sangat menyesal, tapi tidak terlalu aku permasalahkan karena safety adalah yang utama kan? 

Dan aku berjalan sekitar lima belas menit untuk naik ke camping ground-Penanjakkan II (dibaca: dua). Meski tidak dapat melihat terbitnya matahari secara bulat-bulat,  tapi tetap saja lokasi ini menawarkan keindahan tersendiri. Awalnya aku tidak melihat apapun kecuali ratusan lampu rumah penduduk dari kejauhan, tetapi beberapa menit kemudian cahaya berwarna orange kekuning-kuningan mencoret birunya langit, perpaduan yang sangat harmonis, menyejukkan mata, menenangkan hati dan pikiran, perlahan tapi pasti cahaya terus memancar di balik perbukitan yang hijau. Sungguh lukisan maha dahsyat dari Sang Pencipta. 


Akhirnya Dia Menampakkan Pesonannya; 

Belum selesai terpana dengan indahnya cahaya itu, gunung bromo mulai menampakkan pesonannya. Luar Biasa! Pemandangan gunung bromo dari sini sangat eksotis, fantastis dan bombastis. Serentak wisatawan yang melihat keindahan ini terpana, terkagum-kagum, dan langsung sibuk berfoto ria dengan keluarga, kerabat, kekasih, calon kekasih, calon mertua, calon lurah. 

Ini utuk kebanyak kalinya aku katakan bahwa aku adalah satu-satunya wisatawan asal Indonesia di lokasi penanjakkan ini, ketika yang lain sibuk ingin difoto dengan background gunung bromo yang sangat woouw itu,  aku justru sibuk mencari bule yang nganggur. Dan akhirnya aku bertemu dengan sesama solo backpacker yang juga senasib dengan-ku. Namanya Djamal solo backpacker asal Maroko yang menetap di Belgia. Berawal dari saling memotretkan akhirnya kami berkenalan dan menjadi teman selama disana hingga sekarang dan beraharap hingga selamanya. Oke, di coretan lain akan aku ceritakan pengalaman-ku dengan Djamal, seorang muslim taat yang sangat ramah dan baik hati. 


Kawah Gunung Bromo; 

Setelah memaksakan diri untuk puas menikmati keindahan gunung bromo, aku kembali turun ke lokasi parkir jeep dan melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya. Disambut padang pasir yang sangat luas seperti tak berujung, jeep kami berhenti untuk parkir. Kemudian kami harus berjalan sekitar 45 menit, menaiki 200 anak tangga untuk sampai ke bibir sexy kawah bromo. Tetapi karena aku ingin mencoba sensansi yang berbeda maka aku putuskan untuk menyewa kuda dengan tarif 100 ribu (berangkat dan pulang ke lokasi parkir jeep). 

Saran dan Tip: Saat kesana debu vulkanik akibat erupsi memang sangat tebal, karenanya jangan lupa membawa masker karena jika tidak memakai, jangan terkejut jika warna upilmu tidak seindah dulu. Ada beberapa cara ke kawah yaitu PP naik kuda, perginya atau pulangnya saja naik kuda, atau berjalan kaki, intinya apapun caranya jangan lupa teh botol sosro minumnya. 

Melihat lansekap kawah gunung bromo dengan hamparan lautan berpasirnya seakan membuat aku berhayal berada di padang gurun. Satu kata untuk menggambarkan kisah perjalanan-ku di gunung bromo: AMAZING!!! 

Saran dan Tip: Saat berbincang-bincang dengan penduduk setempat, aku mendapat informasi bahwa setiap satu tahun sekali terdapat upacara adat Kasoda di area kawah gunung bromo dengan menggunakan perhitungan tanggalan jawa. Kasoda tahun ini jatuh pada tanggal 15-16 agustus. Pada acara ini bromo akan sangat ramai oleh wisatawan dan juga terdapat pertandingan balap kuda. Ada juga acara keagamaan umat muslim pada tanggal 31 agustus 2011 saat hari raya Idul Fitri, acara keagamaan umat Hindhu yaitu Gulungan dan Kuningan. 


Selamat menjelajahi dan menikmati pesona Bumi Pertiwi. Jangan lupa untuk membagikan kisahmu ke semua orang agar mereka tahu bagaimana indahnya Negeri ini.



Bangganya Jadi Orang INDONESIA! 
Selamat Ulang Tahun yang Ke-66 ya . . .



Gunung Bromo dari Camping Ground




Pura yang Berada di Kawah Gunung Bromo






Klik : Kumpulan Foto di Bromo

Kamis, 18 Agustus 2011

Backpacker: Sang Petualang Dunia Sejati

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki surat ijin memasuki dunia global. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.

Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?

Saya katakan; saya tidak tahu.

Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint atau kendala. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
 


The Next Convergence


Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu Tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.

Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

 

Rhenald Kasali – Guru Besar Universitas Indonesia

Selasa, 16 Agustus 2011

semacam itinerary





Jadi ini berawal dari seorang teman yang belum saya kenal nama, asal usul dan garis keturunannya. Setelah beberapa jam yang lalu bergabung dengan komunitas backpacker indonesia, tiba-tiba saja ada satu pesan baru masuk di account pribadi, saya buka dan isinya:


Mas tinggal di jogja ya? 
 Bisa minta tolong untuk membuatkan itinerary selama dua hari di jogja?


Kurang lebih inti pertanyaannya seperti itu dan saya menjawab:

Sangat bisa saya bantu mas, dengan senang hati :)



Ini itinerary yang saya coba buat untuk dia, dan semoga bisa membantu teman-teman sesama backpacker yang ingin berkunjung ke kota Jogja.



Hari Pertama (misal tiba dini hari);


Kalau naik bus tibanya di terminal Giwangan,
karena transportasi sudah sepi, biasanya biaya taxi dari terminal menuju Malioboro dua kali lipat lebih mahal.

Kalau naik kereta tibanya di stasiun Tugu,
dari Tugu jalan kaki atau saja menuju penginapan di sekitar jalan malioboro.

  • Sampai di penginapan (di daerah jalan Malioboro) yang sudah dipesan.
  • Borobudur (berangkat pagi ya).
    naik trans jogja ke terminal jombor, dari terminal jombor naik bus tujuan candi borobudur, waktu tempuh sekitar 2 jam. Pulang dari borobudur naik bus lagi tujuan terminal jombor. Kemudian naik trans jogja tujuan halte di candi prambanan.
  • Prambanan.
    pulang, dari halte candi prambanan naik trans jogja kembali ke halte di jalan malioboro.
  • Bisa MCK, makan siang dan istirahat dulu di hostel.
  • Wisata Malam (namanya juga wisata malam, jadi?).

    1. jalan malioboro, pasar kembang, pasar sore, pasar bringharjo, benteng vrendeburg, taman pintar, TBY, istana presiden, monumen serangan umum satu maret, nol kilometer kota jogja. Itu semua adalah lokasi yang saling berdekatan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Pada hari rabu jumat sabtu malam, minggu pagi, kota jogja sangat ramai dengan orang-orang yang bersepeda terutama saat JLFR (jogja last friday ride) yang diadakan pada jumat malam di akhir bulan dan biasanya mereka berkumpul memamerkan sepedanya dari tugu jogja hingga nol kilometer kota jogja.

    2. alun-alun kidul. Disana ada dua pohon bringin yang legendaris, dan saat malam hari akan ramai dikunjungi wisatawan.

    3. angkringan kopi jos. Lokasi angkringan yang terkenal di jogja. Letaknya disebelah stasiun tugu. Kopi jos itu kopi dengan arang dicelupkan di dalamnya. Jangan dibayangkan, cobalah.

    4. tugu Jogja.


Hari Kedua;


  • Taman Sari dan Kraton Yogyakarta.
    lokasi keduannya berdekatan, jalan saja juga bisa.
  • Wisata Alam Merapi.
    naik trans jogja ke halte trans jogja di kentungan, dari sana naik angkot tujuan wisata kaliuarang.


Wisata Minat Khusus:
  • Senin malam ada acara 'Jazz Mben Senin' di Bentara Budaya Yogyakarta Jalan Suroto 2, Kotabaru. Bisa naik trans jogja berhenti di halte SMP 5, dari sana jalan kaki sekitar lima menit saja.
  • Makam Pahlawan Imogiri.  Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang. Caving di Goa Pindul. Goa Jomblang.



Wisata Kuliner:
  • Gudeg
  • Sate Klatak
  • Kopi Klotok dan Kopi Jos
  • Dan lain-lain. Silahkan hubungi saya untuk dan lain-lainnya.

Wisata Pantai :

Saya tidak mensarankan ke pantai Parangtritis. Pantai yang terkenal dengan legenda Ratu Selatan. Karena pantainya selalu ramai, bukan pasir putih, dan biasa saja.


Yang paling disarankan adalah ke pantai di daerah Gunung Kidul, disana pasirnya putih dan sangat indah, silahkan lihat penampakkannya di google: pantai krakal, pantai indrayati, pantai kukup, pantai drini (itu semua dalam satu kawasan). Hanya saja jarak dari kota jogja ke kawasan tersebut selama dua jam dengan jalan yang berliku, menyewa kendaraan seperti motor lebih disarankan.


Wisata Penginapan Murah Meriah:

Penginapan murah dekat kawasan Malioboro, seperti : Sosrowijayan dan Prawirotaman.




-Perjalanan adalah Sebuah Proses Menemukan-


Selasa, 02 Agustus 2011

si cepu di cupu (perjalanan anak manusia di cepu)

 28 juli 2011;

Ini pokoknya serba mendadak, seperti biasa, bangun jam 12 siang, buka HP dan ada sms  ajakan dari teman untuk jalan-jalan ke semarang, tanpa pikir panjang tawaran aku terima. Deal!!

Lupa berangkat jam berapa, pastinya pas duduk di McD mall citra land pas pula PSSI main lawan turkmeniztan. Baru kali pertama nih aku berani menduga kalau PSSI bakal menang dan ternyataaaa udah unggul 4-1 eh sekarang jadi 4-3, gila bener nih, kalau sampai PSSI kalah dengan jantan aku akan mengundurkan diri dari ketua umum PSSI! Titik! lhoooo?! 

Intinya kalau bener PSSI kalah, habis nonton PSSI berlaga, aku langsung pulang ke jogja, nggak peduli ke semarang cuma terkesan numpang pipis doang, tekad sudah bulat, hati juga sudah mulai gundah. 

Prit..priitt...priiittt 
Dan PSSI mengakhiri perlawanan tukmeniztan dengan kemengan sedikit manis. ayeee!! Membuat hati menjadi bersemangat menjelajahi semarang untuk kesekian kalinya. 

Kalau ke semarang pasti tujuan utamanya ke lawang sewu. Ngggak perlu aku jelasin lagi kenapa disebut sewu, baca ini aja ya: obok-obok semarang (lawang 969). Setelah itu makan malam di angkringan pagi. Angkringan ini hanya buka mulai pukul 11 malam hingga pagi menjelang, wajib banget dicoba kalau kamu datang ke semarang.

29 juli masih 2011;

Nah ini kisah kasihnya baru dimulai. Jadi setelah makan, tiba-tiba ada pikiran buat meluncur ke cepu, kira-kira empat jam kalau dari semarang, wah oke juga nih, apalagi cepu merupakan tempat dengan banyak lokasi sumur tua minyak peninggalan belanda di Indonesia, lumayan lah buat nambah ilmu tentang dunia yang aku tekuni sekarang, aseeekkk dah!


Perjalanan ke cepu benar-benar menguras teanaga, selain karena jalan yang ditempuh sangat jelek atau tidak rata matapun sudah tidak bersahabat lagi, alhasil dua kali kami beristirahat di pom bensin. Kira-kira jam 5.30 pagi ditemani sang matahari yang mulai membesar kami tiba di cepu. Langsung aku menelpon seorang teman baik hati bernama mas bas, dan dengan sedikit paksaan kami menumpang dirumahnya.



Dyaarr;

Udara di cepu panasnya mantap, jogja kalah, tapi panasnya nggak bisa ngalahin semangat kami yang sedang berapi-api. Semangatku yang menggelegar membuat matahari seakan ciut dalam gengamanku, ini nih alasannya: Aku kuliah di salah satu universitas swasta di jogja jurusan teknik perminyakan. Dua semester udah aku lalui dengan senang hati, gembira dan tekun (statment yang terkahir tanda tanya banget) suatu hari ada pengumuman bahwa salah satu organisasi kampus akan ngadain acara semacam field trip, nah pendaftaran dibuka, pagi banget udah nunggu di meja pendaftaran, dan yang terjadi, yap! sudah tidak ada tempat lagi. Sialnya kejadian ini menimpaku beberapa kali. Makanya ketika ada kesempatan buat menginjakkan kaki di cepu, seneng banget rasanya, nggak formal, nggak butuh uang banyak udah bisa field trip pribadi.

Tapikan nggak dapat sertifikat?
Nggak masalah! buat sendiri!

Ini nih yang jadi masalah, banyak manusia di kampusku yang selalu daftar field trip dan herannya lagi selalu dapat tempat, sesudah itu pamer gigi dengan back ground nama perusahaan minyak ternama. Heran, mereka itu cari ilmu atau cari sertifikat atau mau sekedar pamer atau apa ya? Pengetahuan dan gambaran tentang perminyakan udah jauh lebih baik, ada juga yang terlahir dari keluarga perminyakan, ada juga yang bapaknya nelayan, nelayan minyak! nah aku? masih nol besar tentang gambaran di lapangan perminyakan, masih awam! Kok nggak mau gantian tuh lho, terus apa guna ngadain acara semacam itu kalau partisipannya itu dan itu aja.


Oke itu tadi sedikit curahan hati seorang cupu di bak belakang mobil pick-up plat cepu milik mas usrok.




Namanya mas usrok 
(dibaca: mas brian);


Perkenalkan mas guide kami, mas usrok rakeri. Dia adalah teman satu SMA mas bas. Mas usrok tinggal di desa ledok, cepu. Desa ledok adalah desa yang kaya akan peninggalan sumur tua minyak yang masih produksi sampai sekarang. 

Perawakannya kocak, kulitnya hitam manis, wajah eksotis dan senyumnya meringis. Dengan pakaian ala kadarnya, sepatu merek cekerman (dibaca: tanpa alas kaki) dia membawa kami melihat produksi minyak secara tradisional.


inilah harga kami para 
minyak mentah;

penyulingan tradisional
Ada cerita yang sedikit menyayat hati. Membuka mata kami untuk melihat sisi lain dari dunia yang sangat menjajikan, menghasilkan banyak uang, yang katanya bisa mencerahkan masa depan dan keturunan. Ya! Dunia Perminyakan yang seharusnya seperti itu sangat berlawanan dengan yang ada di desa ini. Disini, mereka serasa bermain judi. Satu sumur tua dikelola hampir 20 orang, dimana biaya operasional sangat besar, minyak yang diproduksi tidak menentu padahal koperasi desa hanya akan membeli tiap 5000 liter untuk kemudian disalurkan ke Pertamina. 



Taukah kamu harga per liter yang akan dibeli oleh pihak koperasi? Sangat besar yaitu *** (dibaca: 850 rupiah) Ter.. la.. lu!


Inilah harga minyak mentah di dunia = 7500,- / liter

Inilah harga minyak mentah di koperasi desa ledok milik Pertamina 850,- x 5000 liter = ?
Dikurangi biaya operasional, dibagi rata ke minimal 20 orang. Jadi pendapatan bersihnya = *** (dibaca: sedikit)


Miris sih dengar cerita mas brian, tapi mau gimana lagi, negaraku sudah terlanjur lucu sih kalau masalah duit. Sebagai rakyat biasa ya cuma bisa pasrah.

Setelah menyalakan flare yang lebih layak disebut obor di sumur tua mas brian squad. Kami kembali melakukan perjalanan menyusuri jalan yang berliku dan rusak, hutan yang gersang dan hamparan sumur-sumur tua yang kesemuanya sudah produksi.



flare ala mereka
Mafia Minyak;



Nggak cuma di ledok, kami juga menuju ke kawengan dan terakhir singgah di wonocolo. Nah wonocolo ini tempat paling sangar yang kami kunjungi. Kok bisa? Gini nih ceritanya, di wonocolo terdapat pula sumur tua yang masih berproduksi, sama sih kayak yang di ledok, hanya bedanya di tempat ini tidak terikat oleh perusahaan minyak manapun, bahkan di tempat ini terdapat penyulingan minyak sendiri yang tentunya dikelola secara tradisional. 

Sangarnya dimana? Nah kayak film-film mafia yang jualan obat-obatan terlarang secara ilegal, di wonocolo juga seperti itu. Jualan obat terlarang? Bukan! Jadi minyak dari ledok di jual secara sembunyi-sembunyi ke wonocolo, alasannya karena di wonocolo membeli harga minyak jauh lebih tinggi di banding harga beli koperasi desa ledok. Selain itu hasil penyulingan minyak mentah berupa solar pun dijual secara ilegal ke truk-truk di sekitar pantura. Ini semua serba tersembunyi, ilegal, dan ada keamanan atau polisi khusus yang akan mengawasi dan menindak lanjuti kegiatan ilegal ini jika ketahuan.

20.45 WIB

Dan field trip kami akhirnya berakhir, perjalanan yang nggak sekedar menyenangkan tapi menambah pengetahuan bagi kami. Malam terakhir di cepu pun kami tutup dengan makan sate blora yang benar-benar maknyus. Nggak bermaksud berlebihan tapi sate ini adalah sate paling enak se-indonesia raya yang pernah aku coba.


Perjalanan kami lanjutkan ke Jawa Timur. Buussseeetttt!!
Ke solo lewat ngawi. Ngawi di jatim kan?


Di solo menikmati susu sapi segar, berfoto ria di patung slamet riyadi, bermalam di solo balapan, paginya meluncur kembali ke jogja. 

kami pamer gigi di depan sucker rod