Jumat, 27 Juli 2012

Ada Cerita dari Badui Dalam




''Kami tidak belajar. Kalau pintar nanti hanya untuk membodohi orang lain.'' Kata Bapak Pulung kepada kami.


Kolot? Enggak juga. Ya, begitulah cara mereka menyikapi kehidupan. Bagi mereka hanya ada dua cara untuk memperkaya ilmu, menerima dan membagikan kepada sesama. Tidak akan ada yang lebih pintar, dan tidak akan ada yang bodoh.

Seperti sore itu, bapak Pulung mengajak kami ke alun-alun desa untuk ikut bercengkrama dengan beberapa masyarakat suku Badui Dalam. Heran, jika memang mereka tidak sekolah lantas bagaimana bisa mereka berbahasa Indonesia ya?

Hal itu karena suku Badui Dalam sangat terbuka dengan pendatang, kecuali pendatang berkebangsaan asing dan keturunan China, entah apa alasan mereka melakukan larangan tersebut. Dari pendatanglah mereka belajar tentang pengetahuan umum hingga bahasa Indonesia, setelah mereka mendapat ilmu baru, mereka akan membagikan atau mengajarkannya kepada sesama suku Badui Dalam. Tak heran jika masyarakat di desa Cibeo sebagian besar dapat berbahasa Indonesia, meskipun dengan kosa kata yang terbatas.

Karena hari sudah mulai gelap, saya meminta ijin kepada bapak Pulung untuk berjalan-jalan sembari melihat-lihat desa Cibeo. Pak Pulung mengijinkan kami, namun dengan syarat: Kami jangan keluar sendirian dari desa ini, dan kami tidak boleh menginjakkan kaki di perkarangan Kepala suku Badui Dalam.


''Bambu itu batasnya, tidak boleh melewati batas itu, dan yang disana itu adalah  rumah Pu'Un.'' Kata bapak Pulung sambil menunjuk rumah Kepala suku yang ternyata tidak ada bedanya dengan rumah masyarakat suku Badui Dalam pada umumnya.


Badui yaa Badui. Itulah salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh masyarakat suku Badui Dalam. Tidak ada perbedaan antara masyarkat biasa dengan Kepala suku atau Pu'Un. Rumah mereka sama, terbuat dari bahan yang sama dan tanpa paku. Pu'Un pun tidak boleh mengenyam pendidikan. Pakaian meraka sama, hanya hitam dan putih, tanpa motif. Sama-sama ke ladang ketika subuh dan kembali ketika sore menjelang.

Tidak peduli itu laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak sekalipun, berladang adalah kegiatan yang selalu mereka lakukan setiap harinya. Dengan parang terikat dipinggang (pada laki-laki), mereka pun berjalan tanpa alas kaki berkilo-kilometer jauhnya, maka jika kita cermati dengan seksama telapak kaki suku Badui Dalam terlihat sedikit lebih lebar dibanding dengan telapak kaki pada umumnya.

Kebetulan saat kami berjalan-jalan mengelilingi desa Cibeo, masyarakat suku Badui Dalam sudah kembali dari ladang sehingga suasana desa sedang ramai-ramainya. Ada yang beristirahat di depan rumah, menanak nasi, mengambil air, dan aneka kegiatan lainnya.

Hap! Desa Cibeo ini seperti desa anak-anak! Buanyak sekali anak-anak disini, perkiraan saya ada tujuh anak kecil di tiap rumah. Ternyata anak-anak kecil suku Badui Dalam itu gendut-gendut! Hehehe! Yang laki-laki rata-rata berbadan tinggi, kulit putih bersih dan terlihat gagah, sedangkan yang perempuan cantik-cantik dengan rambut hitam panjang terurai. Oke, mungkin nenek moyang mereka adalah . . . Dea Imut! *Kemudian Bingung. *Plak!

Karena di Badui Dalam tidak boleh mengambil gambar, semoga saja foto berikut ini dapat membantu mengimajinasikan rupa anak-anak suku Badui Dalam. Ya, kurang lebih perawakannya seperti ini kok.


Aih, saya jadi teringat nih dengan seorang permpuan asli suku Badui Dalam yang saya lihat sore itu. Perkiraan saya. Umur: 18 Tahun. Tinggi Badan: 165 cm. Berat Badan: 50 Kg. Agama: Sunda Wiwitan. Golongan Darah: AB. Status: Belum Kawin. Kewarganegaraan: WNI. Berlaku Hingga: 11-04-2015

Saat berpapasan dengannya tidak sengaja mata saya melihat ke arah kedua matanya, dan kedua mata dia sama sekali tidak melihat mata saya, dia menunduk dan ngacir entah kemana! Tidak bermaksud berlebihan, perempuan itu benar-benar elok nan mempesona, saya semakin yakin kalau Dea Imut adalah Nenek Moyang mereka! Sayak yakin itu! Oke, mungkin saat ini saya hanya bisa melihatnya sesaat, tetapi besok pagi sebelum saya pulang, saya pasti akan bertemu dia kembali!





05.30 WIB 
(Waktu Indonesia Bagian Badui) ;

Seperti biasa, saya selalu lebih mudah bangun pagi dari pada harus bergadang hingga larut malam. Dan pagi ini saya berencana untuk . . . Kembali berkeliling kampung, menikmati kearifan lokal, melihat aktifitas mereka, ikut ke ladang. Yap! Salah! Saya kebelet boker saudara-sudara! Perut melilit dan saya pun bergegas ke sungai, ciat . . ciat . . ciat . .  ternyata sabun dan sejenisnya tidak boleh digunakan di Pedalaman Suku Badui!!! Oh tidaaakkk! 

Masa bodolah, toh di rumah, saya juga nggak pernah cebok pakai sabun. Eh! 

Saya pun berjalan ke sungai, mencari tempat yang lumayan jauh, straregis, aman, dan kondusif. Oke, saatnya buang air besar nih. Pup! Namun tiba-tiba, saat sedang asik-asiknya, saya melihat puluhan masyarakat Badui Dalam berjalan melintasi jembatan. Oh Yeah!!! Gawat!!! Saya belum siap menerima kenyataan ini!!! Saya Panik! Panik se panik-paniknya orang panik! *Kemudian guling-guling di sungai.

H u u u f t. Sungguh pengalaman yang mendebarkan dalam sejarah kebuangan air besar saya. Setelah membersihkan itu dengan selembar daun yang saya fungsikan menyerupai tisu, saya pun berjalan kembali ke rumah Bapak Pulung. Nah, ini nih! Saat dalam perjalanan ke rumah bapak Pulung, saya bertemu dengan wanita itu lagi, iya wanita yang saya lihat kemarin sore itu! Rrrrr! Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam?! Dengan mata kepala saya sendiri, dengan jelas saya melihat susunya, eh! Maksud saya melihat dia menyusui soerang anak kecil! 

Itulah suku Badui Dalam, disini umur 17 tahun sudah banyak yang menikah, mereka dijodohkan oleh kedua orang tua mereka dan tidak boleh ada yang menolak penjodohan tersebut! Ternyata suku Badui Dalam menikah dengan sudara sendiri lho, saudara sepupu lebih tepatnya, sebangsa, seperjuangan, senasib sepenaggungan, dan saudara setanah air Indonesia Raya . . . Mengheningkan cipta mulai! *Kemudian Hening.





Di belakangku ada kekuatan tak terbatas. Di depanku ada kemungkinan tak berakhir. Di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung. Mengapa aku harus takut ? - Stella Stuart







Kamis, 26 Juli 2012

Lalampah Ka Badui




07.05 Stasiun Jakarta Kota ;

Hanya ada dua deret kursi di dalam Gerbong Kereta ini, saling berhadapan dengan jarak kedua kursi cukup jauh. Sehingga menyediakan seruas jalan yang lumayan lebar bagi mereka yang tidak kebagian tempat duduk dan bagi mereka yang sedang mencari uang.

Empat jam gerbong usang ini akan melaju dan melintasi beberapa stasiun kecil yang nampak tak terawat. Maklum, ini adalah kereta ekonomi non AC tujuan Rangkas Bitung, Banten. Gerbong ini lebih terlihat seperti gerbong barang dibanding gerbong penumpang. Sama sekali jauh dari kesan nyaman dan aman, namun disinilah kami melihat sisi lain sebuah dinamika kehidupan.




Selalu saja ada yang baru di setiap kereta ini berhenti kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Seorang pengamen dengan mata memerah nampak memaksa penumpang untuk memberikan uang, jalannya sempoyongan seirama dengan goyangan gerbong.

Lain cerita dengan puluhan pedagang yang selalu ada di tiap menit, lalu-lalang menjajakan dagangannya, berbagai cara mereka lakukan, yang penting terjual dapat uang untuk membiayai hidup.

Seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental terus saja mondar-mandir dari gerbok satu ke gerbok lain, membersihkan sampah yang terus ada di rangkain gerbong ini. Bukan dengan sapu, melainkan dengan sendal yang sudah bekas.

Kemudian seorang penumpang memaksa saya untuk sedikit mengeluarkan kepala. Mengembangkan hidung, menghirup udara luar dalam-dalam, membiarkan angin semena-mena menghajar muka. Penumpang tadi membuat udara di dalam gerbong semakin tidak bersahabat saja. Aroma sampah yang keluar dari dalam perutnya sungguh menusuk hidung. Membuat kepala semakin pusing dibuatnya.



11.30 Rangkas Bitung, Banten ;

Aw, Awe atau Aweh. Entalah, yang pasti nama terminal ini berkutat diantara huruf-huruf tadi. Dan yang terpenting tukang ojek ini tahu maksud tujuan kami.

Terminal Aw, Awe atau Aweh - Rangkas Bitung

Di Rangkas, terminal ini memang kondang, kata mereka di musim libur banyak orang berdatangan ketempat ini, karena dari terminal inilah kendaraan menyerupai angkot akan membawa siapa saja yang ingin berkunjung ke desa Ciboleger, pintu gerbang memasuki Badui Luar dan Badui Dalam.

Desa Ciboleger merupakan batas akhir kendaraan bermotor, dari desa ini kami akan berjalan kaki sejauh 15 Kilometer menuju Desa Cibeo, satu dari tiga desa dimana suku Badui Dalam bermukim.

Perjalanan mengunjungi Badui Dalam tidaklah mudah, apalagi kami tidak sempat istirahat setibanya di Jakarta, alhasil tenaga benar-benar terkuras. Menembus belantara hutan, terus memaksa kaki untuk mendaki dan menuruni jalan setapak, keringat pun begitu deras membanjiri tubuh, air minum yang kami bawa tak memberi arti banyak, saat itu kami benar-benar di puncak lelah !

Saya kira itu adalah Desa Cibeo, ah ternyata bukan, kami baru akan memasuki desa Kaduketer, salah satu desa dimana suku Badui Luar tinggal. Kata mereka masyarakat Badui Luar berbeda dengan Badui Dalam. Rumah suku Badui Luar memiliki lebih dari satu pintu, kalau Badui Dalam hanya satu pintu saja. Di suku Badui Luar tanah yang digunakan sebagai rumah boleh di ratakan, tapi suku Badui Dalam tidak boleh sama sekali. Masyarakat suku Badui Luar menggunakan pakaian bermotif, sedangkan Badui dalam hanya hitam dan putih saja. Emm . . . semakin penasaran saja melihat langsung masyarakat dan kehidupan suku Badui Dalam.


Desa Kaduketer - Badui Luar


Setelah dirasa cukup beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Semakin lama, semakin masuk ke dalam hutan, selepas dari Badui Luar jalan setapak yang kami lalui mulai berbeda, pepohonan semakin lebat, alunan suara berbagai macam binatang terdengar begitu jelasanya, jalan yang kami lalui pun mulai menyempit dengan kemiringan bisa mencapai 70 derajat, di saat saat seperti ini hanya tekad dan semangat-lah yang bisa diandalkan. Senantiasa mensugesti diri, bahwa kami pasti bisa melalui perjalanan ini dan sampai ke desa Cibeo.

Batang bambu itu terus saja mengalirkan air, tepat satu meter di bawahnya terdapat semacam penamapungan yang terbuat dari kayu, disitulah air akan tertampung dan terus meluap. Meluap-luap seperti persaan kami saat itu, sungguh senang dan bangga bisa tiba di desa Cibeo. Di desa inilah kami akan bermalam, mengakrabkan diri dengan keheningan, menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia luar, dan menghagatkan diri dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat suku Badui Dalam.




''Lojor teu meunang di potong, Pondok teu meunang disambung, Kurang teu meunang ditambah, Leuwih teu meunang di kurang.'' - Badui Dalam



Sabtu, 07 Juli 2012

Sepenggal Kisah di Singapore




Merlion - merupakan ikon Negara Singapore yang sangat terkenal. Merlion dirancang oleh Mr. Fraser Brunner dan kemudian di bangun oleh seniman bernama Lim Nam Seng. Kepala patung ini berbentuk Singa dengan badan menyerupai ikan diatas ombak. Entahlah, bagaimana bisa Merlion begitu memikat di mata wisatawan mancanegara. Kayaknya kurang syah aja kalau belum berfoto ria dengannya. Termasuk saya, kesempatan untuk kembali melihat Merlion tidak saya lewatkan. 

Setiap hari ratusan pengunjung memadati kawasan Merlion Park, selain melihat Merlion, dari kawasan ini kita juga dapat melihat landmark Negara Singapore lainnya dengan asitektur yang tidak kalah unik, seperti: Esplanade - Gedung teater dengan atap menyerupai kulit durian, Marina Bay Sand dan Stadion apung di Marina Bay, serta Singapore Flyer yang senantiasa berputar untuk membawa pengunjung melihat lansekap  3 negara sekaligus yaitu Singapore, Malaysia (Johor) dan Indonesia (Batam) dari ketinggian 165 meter.

Semakin sore semakin menjadi saja tempat ini, saya pun kembali melangkahkan kaki ke sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari Merlion Park, dekat dengan patung Thomas Stamford Rafflesh. Berbeda dengan  di Merlion Park. Disini suasana lebih hangat dan nyaman, tidak ada keramaian orang-orang yang mengantri untuk sekedar memfoto atau di foto. Sepertinya ini adalah tempat favorit berkumpulnya warga Singapore, mereka berolahraga, bercengkrama, bermain, atau sekedar bernostalgia.

Mencoba Bernostalgia

Mass Rapid Transit. Ini transportasi umum yang nggak ada dan semoga segera ada di Indonesia, kabulkan doa Baim ya Allah! Dan tentu saya ingin sekali menaikinya! Di Singapore saya memilih menginap di Bugis Street dan kebetulan penginapannya dekat dengan stasiun MRT, saya hanya perlu berjalan lurus sepanjang trotoar, melewati tiga lampu merah, dan plag berwarna hijau dan merah dengan gambar KRL dengan tulisan MRT, stasiun MRT Bugis ini terletak di bawah tanah lho.

Baru masuk ke dalam stasiunnya saja saya sudah di paksa untuk syok saudara-saudara. Bagaimana tidak, ini orang-orang kok pada jalan cepat-cepat sih, mau itu perempuan, laki-laki, anak-anak sekolah, seakan semua sepakat untuk jalan cepat, grak! nggak boleh lambat, pada nggak nyantai nih!

Emm, kalau mau naik MRT, kita harus membeli ticket elektronik dulu di alat yang menyerupai ATM. Ya, kalau saya sih harus melihat dulu cara orang lain melakukannya, kalau masih belum paham baru deh bertanya ke petugas Informasi, nanti mereka akan menjelaskan caranya dan memberikan peta jalur MRT juga. 

Berikut info dari informan, untuk seorang yang sedang mencari informasi cara menaiki MRT di Singapore.

Kita harus beli tiket dulu di mesin GMT (General Ticketing Machine). Karena hanya sekali jalan, kita akan mendapatkan tiket standar berwarna hijau. 

Cara mendapatkan tiket ini :

Pertama, Perhatikan layar pentunjuk GMT. Pilih menu Buy Standard Ticket.

Kemudian, Pilih tujuan Stasiun pemberhentian kita. 

Perhatikan apakah Stasiun tujuan sejalur dengan Stasiun awal, kalau tidak sejalur maka harus berganti jalur terlebih dahulu atau transit, pada peta ditandai dengan titik berwarna putih.

Setelah itu pilih jumlah tiket yang akan dibeli, harga satu tiket-nya sekitar S$ 1 - 3 tergantung jarak stasiun tujuan.

Masukkan uang koin atau kertas sesuai jumlah yang diminta, kalau uangnya lebih nanti mesin secara otomatis akan memberikan kembaliannya. 

Dan, hap! Tiket sudah ada ditangan. Rayakan saudara-saudara! Rayakan! Jangan Ragu!


Nah, hari ini tujuan saya ke Unvirsal Studio. Dari Stasiun MRT Bugis saya harus menuju Stasiun MRT Harbour Front. Pada peta, Harbour Front itu berada pada jalur ungu, sedangkan saya berangkat dari jalur hijau, maka saya harus transit dulu nih di Stasiun MRT Outram Park, baru deh saya bisa menuju ke Harbour Front. Setibanya di Harbour Front saya berjalan ke arah Vivo City untuk membeli Sentosa Express Card di Lantai 3. Sentosa Express inilah yang akan mengantar saya ke Universal Studio. Mudah yaa?!



''Maa maaah! Kok foto-foto terus? Kapan mainnya?!'' 


Entah sudah berapa lama anak itu menunggu keluarganya yang sedang asik berfoto ria, jangan-jangan nungguin selesai fotonya lebih lama di banding ngantri permainan, hahaha! Puk Puk buat si adek. 


Universal Studio Singapore atau biasa disingkat USS merupakan taman rekreasi super wow yang beroperasi dari jam 10.00 sampai 19.00 saat off-season. Terletak di Resort Wolrd Sentosa, Pulau Sentosa. Taman rekreasi ini lumayan luas, kata mereka luasnya mencapai 20 hektar dengan 24 atraksi atau wahana permainan. Semacam Dufan lah kalau Indonesia, hanya saja di Universal Studio Singapore itu lebih berwarna dan wahana permainannya-pun lebih membangkitkan gairah, dengan dilengkapi teknologi mutakhir dari planet antah berantah, kecuali permainan yang satu ini . . .


Karena saat mengantri keluarga adek tadi lebih memilih foto dan memfoto terlebih dahulu, maka saya dibolehkan untuk mendahului antrian. Saat itu antrian permainan ini berbeda dengan antrian permainan lainnya, lebih panjang dan lebih lama, waaah semakin bikin penasaran aja nih. 10 menit berlalu . . . 15 menit berlalu . . . 30 menit . . . 45 . . . dan akhirnya giliran saya untuk mencoba permainan ini.

Saya-pun duduk di sebuah mobil jeeps mini yang menyerupai mobil golf alias caddy golf, tettoott! Si mbak berpakain ala pemburu harta karun di film Indiana Jones memasangkan seat belt sembari menyampaikan pesan dengan nada pelan, meyakinkan dan penuh harapan, ''Semoga berhasil menemukan harta karun.'' Buset, pesannya penuh tanya dan misterius sekali! awal yang menegangkan! 


Nama permainan ini Treasure Hunter, permainan yang nggak sesangar namanya, dengan menaiki mobil dengan kecepatan tidak lebih cepat dari melernya ingus, saya dipakasa untuk melintasi rel yang kanan kiri-kirinya . . . ahhh, berat rasanya untuk mengungkapkan. Saya rasa ini satu-satunya permainan yang, zonk !





'' Don't Spend Money On Things, Spend Money On Experiences. ''





Selasa, 03 Juli 2012

3.30 WIB



Pagi itu saya menuju ke mobil untuk segera berangkat melihat sunrise di bukit Sikunir. Namun saat hendak membuka pintu, ternyata remote mobil saya rusak, pintu mobil saya tidak bisa terbuka. Padahal jika remote mobil saya rusak, maka secara otomatis mesin tidak dapat di starter. Aih! ada-ada saja. Sial!

Saya-pun nekat membuka pintu dengan cara manual, sesuai yang saya duga sebelumnya alarm mobil saya berbunyi dengan sangat keras, alhasil saya menjadi pusat perhatian pengedara yang lewat dan beberapa orang pun terbangun, termasuk diataranya mas Ragil.

Singkat cerita, mas Ragil mengajak saya untuk naik mobilnya, bergabung bersama dengan teman-temannya menuju desa Sembungan, entah apa jadinya jika saya tidak bertemu dengan mas Ragil, mungkin saya tidak dapat melihat sunrise yang luar biasa indah itu. Bahkan setelah itu, mas Ragil merelakan dirinya ikut berusah-susah mencari jalan keluar agar mesin mobil dapat dinyalakan kembali. Berjam-jam hingga akhirnya mesin dapat di starter ! 

Terimakasih, mas Ragil dan teman-teman ! 


Terimakasih : mas Alex, mas Arfan dan mas Ragil





Senin, 02 Juli 2012

Lukisan Pagi ( Dieng Culture Festival )




Entah gimana prosesnya, dua lembar selimut melilit seluruh tubuh, kedua kaki saling menyilang satu dengan yang lain dan . . . kedua tangan masuk kedalam celana, bukan kantong, tapi ke dalam celana, bukan saru, sekedar agar hangat saja, hehehe.

Buset dah, ternyata suhu di Dieng kalau subuh lebih rrr (baca: rerrr) dari pada malam ya! Jam tiga pagi saya sudah bangun, lebih tepatnya terpaksa bangun, awalnya memang malas sekali untuk beranjak dari kasur, ngeluarin badan dari selimut, apalagi ngeluarin tangan dari dalam celana, berat banget rasanya tapi, tekad udah terlanjur menggebu, semangat membara seakan mengalahkan dinginnya pagi itu, dan sepenggal lirik lagu Mr. Tambourine Man pun berkumandang : 


Take me on a trip upon your magic swirlin' ship
My senses have been stripped, my hands can't feel to grip
My toes too numb to step, wait only for my boot heels
To be wanderin'
I'm ready to go anywhere, I'm ready for to fade
Into my own parade, cast you dancing spell my way
I promise to go under it.


Ini kedua kalinya saya ke Dieng, dan khusus untuk kali ini saya ingin sekali melihat sunrise ala Dieng, sekaligus menyaksikan acara budaya tahunan Dieng Culture Festival. Kurang lebih delapan kilometer jarak yang harus ditempuh dari penginapan saya di 'Gunung Mas' menuju bukit Sikunir di desa Sembungan. Kata mereka yang mengetahui, desa Sembungan adalah desa tertinggi di pula Jawa lho. Oh yaa? Ehmm, entahlah! yang pasti desa ini memang berada di dataran yang jauh lebih tinggi dari tempat saya menginap, dan tak jarang desa ini kejatuhan hujan es, yang membuat tanaman kentang mati seketika.

Setibanya di desa Sembungan, puluhan mobil dan motor juga sudah banyak yang berdatangan, kendaraan tersebut di parkir di sebuah tanah lapang dekat dengan telaga Cebong. Dari tanah lapang itulah saya harus berjalan sekitar tiga puluh menit menuju puncak bukit Sikunir.


Telaga Cebong, Desa Sembungan


5.30 waktu Indonesia bagian Dieng. Cakrawala mulai mengguratkan sinar berwarna emas kekuningan, matahari pun mulai keluar dari peraduannya, dia nampak malu-malu, kemunculannya begitu perlahan namun pasti, membuat mereka yang menanti di ketinggian 2.300 mdpl menjadi penasaran campur gregetan. Luar biasa sekali dia memaikan rasa, apalagi ketika dia mulai menampakkan diri sepenuhnya, sempurna!


Pandai Memainkan Rasa


Selain sunrise, dari bukit Sikunir saya juga dapat melihat dengan jelas deretan bukit nan hijau, hamparan sawah, pedesaan, dan kemegahan Gunung Sindoro, Gunung Merapi, serta Gunung Merbabu. Sungguh tak terbantahkan keindahannya.


ini Sindoro, itu Merapi, yang disana Merbabu



Bukan rambut Gimbal, melainkan rambut Gembel ;


''Karena waktu kecil sering sakit mereka jarang di mandiin, akibatnya rambut mereka mejadi seperti itu, ya kayak gembel, makanya disebut rambut gembel.'' Kata seorang ibu asli Dieng kepada saya.


Enam anak berambut gembel itu mengikuti kirab terlebih dahulu dari rumah pemangku adat menuju komplek Darmasala ( Candi Arjuna ). Sesajen, berbagai macam hasil bumi dan permintaan anak-anak rambut gembel sudah di letakkan di pelataran candi, disusul keenam anak rambut gembel dengan di gendong oleh orang tuanya.

Wajah mereka terlihat tak bereskpresi, polos, raut wajah khas anak kecil. Mungkin antara belum menyadari bahwa merekalah bagian dari sebuah kebudayaan atau, karena mereka sudah mendapat apa yang mereka minta. Ya! Sebelumnya anak-anak tersebut akan meminta beberapa keinginan, permintaan itu harus dipenuhi oleh orang tua atau kerabatnya, jika belum dipenuhi maka ruwatan rambut gembel ini tidak dapat dilaksanakan.


''Kalau kemauannya nggak dipenuhi, tapi tetap dipotong, nanti anaknya akan sakit lagi dan rambut gembelnya akan tumbuh kembali.'' Tambah ibu itu.


Waduh, nggak kebayang kalau anak-anak rambut gembel meminta yang aneh-aneh seperti mobil atau rumah mungkin. Untunglah mereka nggak ada yang meminta seperti itu, paling mahal cuma sapi saja. Ini nih permintaan keenam anak rambut gembel : satu ekor sapi, satu ekor kambing + satu mangkok bakso, satu ekor ayam jago, anting-anting emas, uang 100.000 rupiah + 1.000 rupiah, daaannn taraa . . . biskuit milkuat dan milkita juga ada lho.

Eh, untungnya orang tua dari anak rambut gembel ini bukan korban iklan ya, hehehe.

''Aku beri kamu satu permintaan nak ?''

''Aku mau kambing + satu mangkok bakso buk.''

''Wani piro ?!''

Tetttooottt !!! * Minum Purwaceng !!! *



Ruwat Rambut Gembel - Dieng Culture Festival 2012


Klik :  3.30 WIB