Minggu, 01 September 2013

Hi Tidung !





"Tutup !" Tapi bau amis sudah terlanjur masuk kedalam mobil. Setelah memberikan empat lembar seribu rupiah sebagai tiket masuk pelabuhan lama Muara Angke, kami pun segera menutup jendela. Ini adalah pelabuhan bagi nelayan, dimana pelelangan ikan dan pasar rakyat berada dalam satu kawasan, jalanan yang basah karena daerah ini lebih rendah dari permukuaan laut, bau amis, sampah, dan mual dibuatnya. 

Setidaknya ada dua tempat yang dapat digunakan sebagai penitipan kendaraan. Polsek dan lapangan parkir dekat dengan SPBU, di lapangan dekat SPBU itulah kami menitipkan kendaraan. Berbeda dengan perjalanan yang biasa saya dan teman-teman lakukan, kali ini kami menggunakan jasa trip organiser. Liburan semester yang sangat lama dan kerinduan untuk kembali berkumpul menjadi alasan kami lebih baik membayangkan kesenangan yang kami dapat dari pada memikirkan itinerary dan lain-lainnya. Berbeda, tapi nggak kalah seru. Karena sejatinya jalan-jalan bersama mereka selalu asik. 

Kami akan menaiki kapal tongkang. Sebuah kapal yang lumayan besar, menampung banyak penunpang di bagian bawah dan atasnya, dan akan berangkat hanya ketika kapal sudah terisi penuh. Kurang lebih kapal ini akan berlayar selama dua jam, tidak cukup lama, tapi cukup membuat perut bergejolak ketika kapal menghantam ombak, matahari menyengat pas di ubun-ubun kepala, goyang kanan-kiri. Jadi lebih baik duduk di dalam kapal atau di bagian luar yang tidak terkena sinar matahari langsung. Lebih manusiawi rasanya. 


Tiba-tiba seseorang berteriak, "Ada lumba-lumba." Sontak kami keluar dari kapal, berdiri di bagian luar kapal. Saya yang tadinya lemas, seakan mendapat asupan energi, tepat di depan kami ada tiga ekor mamalia laut cerdas melompat-lompat ke permukaan yang seakan menyambut kedatangan kami. Selang beberapa detik kemudian, nampak dari kejauhan sebuah pulau yang menjadi tujuan kami, akhirnya kami sampai !

Pulau Tidung Besar, salah satu pulau berpenghuni yang masuk dalam gugusan Kepulauan Seribu. Terletak di utara Jakarta. Sesuai namanya pulau ini memang cukup besar dibanding pulau terdekatnya yang letaknya hanya dihubungkan oleh jembatan. Mungkin ini salah satu alasana kenapa orang-orang menyebutnya Jembatan Cinta, karena dua hal yang letaknya terpisah kini menjadi satu karena adanya jembatan yang saling menghubungkan dan tak akan terpisahkan. Menjadi semakin menarik perhatian karena adanya bumbu penyedap yang di berikan oleh masyarakat setempat tentang jembatan ini. Tapi sebelumnya, saya akan menceritakan apa yang saya rasakan saat pertama kali berkunjung ke Pulau ini. 

Rasa pertama yang kami rasakan saat tiba di Pulau Tidung adalah lapar !! Bayangin aja, hampir tiga jam lamanya duduk di kapal. Belum lagi ketika melihat kapal cepat yang berangkat dari Marina Ancol melabuhi kita, kesal kali rasanya. Perbandingannya tiga jam dengan satu jam, belum lagi penumpang yang penuh sesak, dan bau tak sedap ketika salah satu penumpang memuntahkan isi perutnya. Hoek ! Karenanya setibanya di homestay kami langsung cuci muka, minum, dan makan sebanyak-banyaknya. Beruntung kami mengunakan agent travel yang tepat, dari segi pelayanan saya kasih nilai oke, sesuai nama paket yang ditawarkan. Dengan mengeluarkan uang 310.000 per orang kami sudah dapat fasilitas yang sangat baik. Mulai dari tiket kapal pulang pergi, penginapan, makan tiga kali, BBQ, sepeda imut, snorkling dan banana boat. Kesimpulannya kami tidak kecewa selama dua hari satu malam disana, apalagi mas arif pemandu kami sangat baik dan ramah. 

Selesai makan dia mengajak kami snorkling di dekat Pulau Tidung Kecil. Hmm.. dalam hal keindahan bawah laut Pulau Tidung Besar bukan tepat yang digolongkan baik. Ombak cukup besar, visibilitas jelek, terumbu karang banyak yang mati, dan ikannya banyak yang pura-pura mati. Karenanya, saya menjadi orang pertama yang nyebur ke dalam laut, tapi orang pertama pula yang kembali ke kapal. Sehabis snorkling kami bermain sport water. Ini aktifitas air yang paling kami tunggu-tunggu, saking nagihnya kami sampai mencoba berbagai macam permainan air disini, seru ! Dan pemandangan dari pantainya benar-benar memanjakan mata. Tapi yang paling bisa mengobati rasa kecewa kami terhadap pemandangan di bawah laut Tidung adalah teman-teman. Teman-teman seperjalanan saya membuat perjalanan kali ini menjadi unforgettable moment. Sudung, Boim, Josua, Haikal, Yuki, Andre, Dewi, Anti, Qori, Stella, canda-tawa mereka membuat suasana tak kalah indah dengan senja saat itu ! 






Jadi dengan berani saya simpulkan, jangan pernah datang ke Tidung sendirian, ajak teman-teman terbaikmu ! Dan ciptakan suasana tak terlupakan dalam hidupmu. Lakukan hal-hal gila bersama, makan ikan bakar di tepi pantai, nonton X-Factor sambil caci maki si Fatin, tidur bareng-bareng, mandi ganti-gantian *yakali tong mandi bareng-bareng, sepedaan bareng, bicarain orang bareng. Pokoknya Tidung emang salah satu tempat asik kalau kalian datangnya ramai-ramai. Seramai klakson motor disana - Iya, saya heran kenapa penduduk lokal disini hobi banget klakson motor. Menurut saya mereka masih kurang paham kalau pulau mereka itu adalah pulau wisata yang menjadi tujuan orang-orang terutama yang tinggal di Jakarta untuk berlibur, jadi seharusnya jangan heran kalau jalanan yang hanya seruas jalan kini jadi penuh sesak oleh pejalan kaki dan puluhan sepeda, apalagi sepeda menjadi transportasi andalan para wisatawan mengelilingi pulau ini, jadi ya ada baiknya tidak tidak menglakson sepeda secara berlebihan ya om, ya.. 

Beda dengan jalanan di pulau Tidung yang brisik tiap ada motor lewat, pesisir pantai Tidung suasanya benar-benar syadu, apalagi jembatan cintanya, melankolis abis ! Pagi hari kami bersepeda menuju Jembatan Cinta. Sebuah Jembatan yang di bangun sebagai simbol perjuangan para jomblo. Inilah tempat favorit di pulau Tidung, puluhan orang melintasi jembatan cinta tiap menitnya, tapi hanya sebagian kecil orang yang nekat melompat dari jembatan ini, merekalah orang-orang yang haus akan cinta. Saya dan Josua salah duanya. Satu.. dua.. tiga.. lompat !!! Dan percayalah semenjak lompat dari sana hidup saya serasa di kelilingi oleh yang namanya Cinta. Indahnya ~