Minggu, 08 Oktober 2017

IDEAFEST : Festival Of Colaboration

Pekan lalu, saya menghadiri sebuah festival yang berlangsung selama dua hari di JCC Senayan, Jakarta. Festival kolaborasi yang bertujuan untuk menginspirasi dan menghubungkan komunitas kreatif di Indonesia. Festifal ini sangat menarik, karena kita bisa belajar dan mendengar cerita dibalik kesuksesan pelaku creative entrepreneur hingga social entrepreneur yang sebagian besar didominasi olah mereka yang memulainya saat usia muda. Kurang lebih ada 100 pembicara di 10 ruang berbeda yang akan berbagi dengan bahasan topik yang berbeda pula, mulai dari musik, kesehatan, kopi, periklanan, bisnis retail, investasi, konten kreatif di media social, photography, hospitality dan masih banyak lagi. Mungkin, kalau bisa pasti saya akan masuk kesemua kelas yang ada. Sayang, tiap peserta hanya dimungkinkan mengikuti maksimal delapan sesi saja.

Saya memulai hari pertama dengan mendengarkan paparan Rene Suhardono dan tim dari Limitless Campus tentang "YOLO Concept is Bullshit !" Menurut Rene, awal dari memulai segalanya adalah : Mengenal diri dulu, saya ini siapa ? Who am I ? Dan kamu mau buat apa untuk lingkungan sekitarmu.  Jaman dulu atau biasa disebut generasi Y, jabatan, sekolah tinggi, ipk bagus dan nilai adalah faktor utama penentu kesuksesan seseorang, mereka semua berlomba untuk itu. Sedangkan di masa milenial seperti sekarang hard skill nggak ada artinya kalau kita nggak punya soft skill seperti cara kita membawa diri, bergaul, berbica dan menjadi pribadi yang original / authentic. Sebelum sesi selama satu jam itu ditutup, Rene Suhardono menjawab pertanyaan dari seorang peserta soal apa yang harus dipertimbangkan sebelum kita benar-benar memutuskan untuk keluar dari rutinitas eight to five. Menurutnya, tiga hal ini : getting paid, apresiasi, dan tumbuh berkembang adalah alasan terbaik untuk bertahan, jika salah satu dari ketiga aspek itu tidak terpenuhi, makan tidak ada alasan untuk melanjutkan rutinitas yang sedang kita kerjakan.

Dari Jobs Room, saya melanjutkan sesi kedua di Pharell Room, di ruang itu Yandy Laurens (Film Maker), Reza Akbar (Olrange) dan Cut Nisa Amalia (Head of Digital Pocari Sweat) berdiskui dengan peserta soal bagimana menjadikan media sosial terutama youtube sebagai sarana untuk membangun branding Pocari Sweat dan Tropicana Slim dengan cara membuat web series. Bahkan dari web series ini, Tropicana Slim dengan Sore-nya mampu mendekatkan produknya ke kalangan anak muda. Mereka melihat peluang youtube yang kini sudah mulai diakses oleh 51% lebih masyarakat Indonesia. Bahkan platform ini sudah dilabeli dengan istilah YouTV. Dengan mengetahui dimana kita bisa mendapat audience kita, maka marketing campaign akan berjalan dengan mulus dan biaya yang dikeluarkan tidak terlalu mahal, yang terpenting adalah terus mencari sesutau yang baru dan berkolaborasi dengan baik.

Festival ini juga diramaikan oleh bazar food & beverage dan juga berbagai macam produk handmade dari Indonesia seperti : tas, sepatu, pakaian. Ideafest bersama salah satu sponsornya yaitu Tokopedia mengangkat tema From Online to Offline pada bazar tersebut, yang tentunya berhasil menarik minat  dan mengenalkan prouduk karya anak bangsa.


Setelah makan siang dan melihat-lihat bazar O2O (from Online to Offline) saya kembali duduk di barisan pailing depan Warhol Room untuk mendengarkan presentasi perempuan-perempuan hebat dibalik suksesnya Domisilium Studio dan Bitte Design Studio. Santi Alysius, yang dua dari project terbarunya adalah Kayu Kayu Restaurant di BSD dan Gormeteria di Bandung sangat senang memanfaatkan produk lokal, limbah kayu bekas manufacturing untuk mendesain interior dengan harga terjangkau namun instagrammable. Menurutnya untuk membuat desain yang baik kuncinya adalah melakukan reset dilingkungan sekitar kita. Sedangkan Agatha Carolina dan Chrisye Octaviani pemilik Bitte Design Studio menambahkan bahwa pada dasarnya desain yang baik itu berangkat dari fungsi, kalau hanya memikirkan instagrammable saja berarti belum well design. Terakhir Santi Alysius mencoba mendifinisikan arti dari instagrammbale interior itu sendiri, menurutnya instagrammble interior itu soal gimana caranya membuat space yang jadi ciri khas suatu tempat. Ketika kita foto salah satu spotnya, orang bakal tau kita sedang berada dimana.

Warhol Room sendiri sudah sejak awal saya tandai sebagi ruang yang sesinya akan paling banyak saya ikuti. Karena selain pembicaranya cukup terkenal dan sukses di bidangnya, topik pembahasannya pun sangat menarik dan sesuai dengan rencana yang sedang saya persiapkan dan akan segera saya eksekusi. Setelah satu jam mendengarkan presentasi tentang design interior saya tidak pindah dari tempat duduk, saya akan menunggu saja 10 menit disini, karena saya tau puluhan orang pasti bakal antri di pintu masuk untuk mengikuti sesi selanjutnya, dengan topik Advertising for A Very Short Attention Audience yang akan dibawakan oleh film maker ternama Indonesia, pembuat iklan yang mudah sekali viral dan bikin penonton misuh-misuh : Dimas Djayadinigrat ! Dengan gaya nyentriknya dia membuka sesi siang itu dengan mempromosikan baju "Pelan tapi Dalem" nya sebelum memberitahu kita bagimana sebaiknya anak muda berkarya. Tiga kunci utamanya adalah simple, effective dan brave. "Kalau mau berkarya nggak usah banyak mikir. Overthinking kills your happiness !" - Dimas Djayadinigrat.


Menarik melihat bagimana Dimas berkarya, nggak heran kalau karya-karyanyanya itu selalu viral dan khas. Sebut saja Indoeskrim, AXIS, AP Boots yang kalau kita tonton pasti bakal terhibur dibuatnya. Tapi ya namanya media sosial, kalau viralnya cepat, tenggelamnya pun cepat juga, itu sebabnya kita nggak boleh cepat puas dan harus berani terus berinovasi, hal ini sama persis yang sedang dialami bisnis kopi tanah air. Siapa coba yang tidak kenal ABCD Coffee, pelopor #ngopidipasar/ Berawal dari kebosanan mereka akan rutinitas ngopi bareng dengan orang-orang yang itu-itu saja, Ve Handojo mencari sesuatu yang baru dengan menciptakan hastag yang membuat peminum kopi dari berbagai kalangan : musisi, pelukis, penulis, pengusaha, karyawan, mahasiswa berbondong-bondong datang ke Pasar Santa untuk nyuruput kopi yang tentunya membuat suasana waktu itu jadi berbeda dan lebih asik. Menurut om Ve sesuatu itu nggak akan boring ketka ada suseuatu yang selalu baru, ada sesutu yang baru dari coffee shopmu, lebih dari sekedar promo diskon atau buy one get one. Beda ceritanya dengan Andanu Prasetyo, penggagas kopi TUKU, berawal dari keinginannya membuat kopi yang sesuai dengan keinginan warga sekitar kelurahan Cipete, kini es kopi susu miliknya tidak hanya dinikmati di kelurahan Cipete saja tapi sampai keseluruh Ibu Kota. "Warga Cipete itu maunya kopi yang dingin pakai susu. Ya udah saya buatin, intinya saya cuma mau buat yang warga Cipete mau, masak mereka maunya yang dingin terus saya tetep kekeuh buatin kopi panas. Saya kan cari cuan juga." Begitu kata Tyo disambut gelegar tawa peserta. Menarik kan ?! cerita dan inovasi mereka ini benar-benar menginspirasi. Salut dengan dedikasi mereka untuk Kopi Indonesia, kesetiaan mereka bertahun-tahun untuk mengenalkan kopi lokal dan memajukan kesejahteraan petani kopi.

Selesai membahas soal kopi, kini saatnya mendengarkan cerita Ari Respati dan Felly Imransyah, mereka adalah founder Yats Colony dan Syah Establishment. Mereka berdua sepakat bahwa kesuksesan yang mereka dapat berawal dari mimpi, fokus dan konsistensi. Berawal dari mimpi mempunyai boutique hotel di Bali, Felly Imransyah mendirikan Brown Feather, mimpinya itu terus dia pupuk hingga menciptakan mahakarya lainnya yaitu The Gunawarman, Hotel Monopoli Kemang, Lucy in The Sky, Belmount, dan masih banyak lainnya. Sedangakan mimpi Ari Respati untuk menciptakan hotel nyaman dan memiliki nilai-nilai lokal didalamnya terwujud dengan membeli hotel lama di Jogja dan membangunnya kembali menjadi Yats Colony.

Mimpi, fokus, konsistensi dan kolaborasi adalah kata-kata yang selalu keluar dimulut orang-orang hebat ini. Kata-kata yang muncul ditiap topik berbeda yang saya ikuti. David Soong photographer sekaligus founder Sweet Escape pun sepakat kalau tanpa mimpi, fokus, kosistensi dan telebih lagi kolaborasi tentu bisnisnya tidak akan sesukses sekarang ini. Memiliki 300 photography freelancer di 300 kota di seluruh dunia. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan pertemanan, David Soong berkolaborasi untuk mewujudkan keinginan wisatawan memiliki foto-foto yang indah, baik dan memorable.

Dari pagi sampai malam saya mendengarkan dan medapatkan banyak ilmu dari orang-orang sukses dan hebat dibidangnya, maka sesi terakhir ini saya sengaja memilih topik The Untold Story sebagai hidangan penutup hari pertama di Ideafest. Topik ini menghadirkan Anton Wiryono (Good Dept) dan Yukka Harlanda (Brodo) untuk menceritakan jatuh bangun dibalik kesuksesannya. Siap yang menyangka kalau hingga detik ini pun mereka masih memiliki pikiran untuk berhenti. Ternyata meskipun apa yang mereka kerjakan sudah terbilang sukses dan besar, tapi banyaknya masalah dan besarnya tantangan untuk mempertahnkan bisnisnya adalah godaan terbesar untuk lari dan berdiam saja di zona nyaman. Untunglah keinginan-keinganan itu tidak sebesar perjuangan yang sudah mereka lakukan di masa lalu untuk membangun apa yang menjadi passion dan mimpi mereka.

Sungguh luar biasa mendapat kesempatan ini, semoga saya bisa mengikuti jejak mereka dan konsisten memperjuangkan apa yang saya impikan. Terimakasih sudah berbagi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar