Minggu, 06 Maret 2011

Bandung: Keindahan Ditiap Tetesnya

8 februari, Ambil koper

Eh salah! Bukan koper, koper terkesan asing ditelinga. 
Banyak orang mendambakan liburan yang penuh dengan keindahan yang pasti, kota tua yang punya jalanan yang langsung terhubung dengan pantai, mobil mewah yang setia mengantar ke tempat-tempat eksotis. 

Tapi itu semua jauh sekali dari mimpi-mipiku. Melangkah dan mencium aroma berbeda ditiap sudut dunia, Berada di suatu tempat yang asing hingga akhirnya tersesat didalam labirin keindahannya, 

Pernah aku bermimpi buang air besar dengan jendela terbuka yang menampilkan pemandangan lansekap agungnya menara Eifel, mendorong mobilku berkilo-kilometer karena ban yang bocor untuk melewati perbatasan negara Kroasia dan masuk ke negara Montenegro. Bahkan untuk menikmati keindahan pantai, aku harus memanjat bukit hijau yang puncaknya hampir mengenai awan kemudian meluncur ke laut lepas, terhantam air dan tersapu semilir angin.

aku butuh kejutan! seuatu yang butuh dipecahkan dengan logikaku dan bisa membuat aku ketakutan sebelum kudapatkan keindahannya! Sesuatu yang spontan!



Ku ambil ransel biruku, kusiapkan tiket kereta, dan berangkat, 

Bandung, ini bukan kali pertama kakiku menginjakkan tempat ini. Waktu tinggiku masih 140cm, aku pernah ketempat ini, tapi itu dulu saat orang tuaku sibuk mengawasi anaknya agar tidak terpisah dari rombongan tour, menasihati anaknya agar tidur tidak larut malam karena agen perjalanan akan datang menjemput sesudah ayam berkokok.

9 februari, Sekarang tinggiku 170cm
 
kurang lebih perjalanan kutempuh dari jogja dengan menggunakan kereta, akhirnya tiba juga setelah beberapa jam yang lalu terbangun akibat seorang perempuan paruh baya berteriak-teriak diluar gerbok saat keretaku yang sedang berhenti di stasiun untuk kembali mengambil penumpang tujuan ke bandung.

Begini teriakan sang ibu sambil memukuli gerbok dengan kayu: wooyy mas! buka pintunya mas! buka! saya juga  mau masuk! saya sudah bayar mas! jangan beda-bedakan mas!! 

Suara itu membuatku kaget hingga membuatku loncat dari tempat dudukku, karena ibu itu memukulkan kayunya  tepat di tempat aku duduk. Sejenak aku ikut gelisah dan kasihan melihat ibu itu, tapi angin dengan cepat menghilangkan rasaku, karena kemudian kuketahui bahwa ibu itu berada di bagian yang salah dari pintu masuk kereta. Aku tersenyum dan tertawa dalam hati, terdengar jahat memang, tapi itulah yang aku rasakan setelah kemudian aku memberi tahunya bahwa dia berada di bagian sisi kereta yang salah dan dengan spontan beliau tersenyum malu dan melepaskan kayu yang di genggamnya.



10 februari, Pagi Hari di Bandung
  
Berjalan kaki dari stasiun kereta bandung menuju daerah cihampelas, mungkin jaraknya sekitar 10km.
Makan soto ayam di pinggir jalan, soto ayam 'asli madura bang udin'  harganya 10 ribu, Es teh 2 ribu. Bandung memang tidak bersahabat kalau urusan harga makanan. 

Aku bayar 8 ribu, karena aku pesan soto ayam tanpa ayam dan Es teh tanpa Es.


Malam Hari di Bandung,

Ku akui bahwa Bandung begitu sangat indah saat malam hari, cahaya lampu malam kota, alunan musik dan suara merdu seniman jalanan, wanita-wanita cantik sexy nan elok yang berjalan di sepanjang trotoar daerah Braga dengan background bagunan-bagunan tua yang seakan berjalan di catwalk layaknya model profesional. Kunikmati itu semua, sungguh eksotis!

Malam ini aku tidur di depan distro di daerah jalan Riau setelah sebelumnya aku digoda sesosok manusia di Braga. Aku duduk-duduk santai sambil menikmati sebotol bir didepan gedung Asia-Afrika, kemudian aku berjalan ke daerah Braga, aku bersandar di papan nama 'CK' langsung saja kuletakkan ransel dan tas kameraku. Hingga akhirnya datanglah mas-mas atau mbak-mbak atau om-om atau apalah aku sangat bingung jika harus menyebutkan sesosok waria. Tanpa basa-basi dia mencolekku, dia menawarkanku sebatang rokok, aku menolaknya, dia memintaku untuk memfoto dirinya, aku menerima, dia memintaku untuk menemaninya malam ini, aku kabur!

11 februari, Bertemu sahabat lama

Tukang parkir: Bangun mas! bangun! sudah jam 5 pagi.
Badanku terasa pegal-pegal semua, ini pasti karena dinginnya malam menusuk badanku saat aku tidur didepan pintu distro dan hanya beralaskan kardus.

Hari ini aku akan menemui sahabat lamaku, setelah terakhir kami bertemu 9 bulan yang lalu saat mereka berkunjung ke jogja. Aku berjalan menuju Jl. Terusan Tubagus Ismail no.1 (RM. Saung Kuring).  Dan mereka sungguh menyambutku dengan senang hati dan canda tawa khas mereka, apalagi setelah mereka melihat penampilan baruku, dulu aku berambut panjang dan sekarang aku botak. 

Sebelumnya aku melewati tempat bimbingan belajar  dimana kami dikarantina disana selama 2 bulan untuk persiapan masuk PT, disanalah menjadi awal kami bertemu, mengenal, hingga akhirnya menyebut diri kami sebagai sahabat. Aku masih ingat dengan tingkah laku mereka, ketawa mereka, tangis mereka dan cara kita saling menghibur satu-dengan yang lain. Aku juga masih ingat saat kami tidur dalam satu ruangan, mendengarkan lagu Bondan-Kita Selamanya, sambil mengajariku bahasa sunda. Tidak akan pernah terlupakan. Mereka memang sahabat yang Spesial!


13-14 februari, 
Keliling Bandung- Ngopi di Dago atas- Ketan bakar
Lembang- Kebun teh- Sunrise- Keindahan ditiap tetesnya

Kami menyewa mobil, berangkat sore hari untuk ikut meramaikan kota bandung, menikmati secangkir kopi dan melaju diheningnya pagi untuk melihat sunrise di kebun teh Lembang. 
Ini hari terakhirku di Bandung dan bersama sahabatku-lah kunikmati keindahannya hingga tetes terakhir.



Sabtu, 29 Januari 2011

Dari Wonosobo Sampai Dieng

Hallo kawan!! 

Akhirnya aku bisa kembali membagikan pengalaman luar biasa dalam sebuah tulisan sederhana. Ini adalah perjalanan pertamaku di tahun 2011, dengan penampilan baru (gundul-gundul pacul-cul), semangat baru dan tentunya tempat yang baru pertama kali aku kunjungi. Ingin tulisan ini terukir dengan tinta hitam berjudul 'dari Sabang sampai Merauke' tapi karena masih hanya sekedar impian akibatnya Perjalan ke Dieng-lah yang menjadi pelampiasanku (hahaha).


Hari 1, 13 Januari

Perjalanan ditempuh selama  3 jam melalui jalan darat dari kota jogja hingga akhirnya menemukan alun-alun besar yang luar biasa bersih dan asri akan menyambut kedatanganmu di Wonosobo.

Wonosobo adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Wonosobo merupakan salah satu akses yang dapat kita lalui jika akan berkunjung ke dataran tinggi Dieng.  Saya tiba di Wonosobo ketika awan senja mulai memerah terbakar mentari sore, pertanda matahari akan segera kembali keperaduannya, aku akan bermalam disini, mengembalikan stamina dan bersiap menyambut hari esok.



Hari 2, 14 Januari
 
Kring.kring.kring alaram HP berbunyi. Heh botak.tak.tak bangun!! Suara para lebah berdengung mengusik tidurku. Bangun pagi ini berbeda seperti hari biasanya, udara pagi yang dingin membuatku wajib mengeluarkan energi ekstra untuk segera mengumpulkan kesadaranku. 



 Pendopo Alun-alun Wonosobo

Alun-alun Wonosobo

Segera kulangkahkan kaki menuju suatu tempat yang kemarin malam sempat memamerkan pesonanya. Ya! alun-alun yang terletak dipusat kota itulah tujuanku. Sekitar 20 menit akhirnya aku sampai juga di alun-alun Wonosobo, sebuah tempat yang sangat berbeda dibanding dengan alun-alun yang kulihat di kota-kota lainnya. Tidak ada pedagang kaki lima yang berjualan disana, tidak ada sampah yang sok menjadi penguasa, semuanya terusir oleh kehadiran pohon-pohon besar yang tersusun rapi dan sangat rindang, dan fasilitas olahraga yang baik. Luar Biasa!

Setelah dari alun-alun, perjalanan aku lanjutkan ke air terjun Sikarim yang terletak di desa Mlandi kecamatan Garung 20km sebelah utara kota Wonosobo. Akses menuju jalan ini sangat sulit kawan, kita akan melewati jalan berbatu dan kalian harus sangat ekstra behati-hati karena selain pemandangan indah, jurang juga akan menemani perjalanan kalian. Sebenarnya tempat wisata ini masih asing dan terbebas dari ulah tangan jahil manusia mungkin karena aksesnya yang sulit dan berada di 2000 meter diatas permukaan laut. Sulit menuliskan apa yang ada dan yang akan dirasakan ketika menyaksikan keindahan air terjun ini. Semoga foto yang diambil dari rekaman ingatan kameraku dapat membatu menggambarkan bagaimana indahnya air terjun ini.

Air Terjun Sikarim


Hari 3, 15 Januari 

Pagi ini omelan alarm HP dan dengungan ribuan lebah yang biasa membangunkanku dengan tidak hormat, tidak lagi menunjukkan taringnya, hal ini dikarenakan aku telah bangun terlebih dahulu sebelum mereka berkoar-koar. Hari ini memang lain dari hari sebelumnya, dengan mudah aku mengumpulkan kesadaranku meski harus bangun pagi sekali. Tepat pukul empat pagi aku telah bersiap untuk melakukan perjalanan ke Dieng. 

dari Wonosobo sampai Dieng, perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Berangkat pagi-pagi sekali dimaksudkan agar dapat melihat sunrise di menara pandang yang terletak sebelum memasuki kawasan Dieng, namun sayangnya cuaca pagi ini tidak mendukung sehingga tujuanku dialihkan menuju Telaga Menjer yang letaknya masih di wonosobo.


Telaga Menjer

Telaga Menjer adalah tempat wisata tersembunyi di wonosobo. Beruntunglah aku mempunyai kawan yang tinggal di wonosobo, karena selain merelakan rumahnya untuk dijadikan tempat singgahku, mereka juga menjadi pemandu wisata dadakan (hahaha). 

Mereka mengajakku ke tempat yang asing ditelinga, sebuah telaga yang dihimpit oleh tubuh besar perbukitan, diselimuti oleh hijaunya pepohanan, dipayungi oleh birunya awan, dan senantiasa diiringi orkestra kicauan burung-burung. 

Sungguh pemandangan yang sangat indah akan sebuah keharmonisan!


Perjalanan aku lanjutkan menuju Dataran Tinggi Dieng, sebuah tempat yang menjadi tujuan wisata jika bertamu ke wonosobo. Setelah melalui jalan yang berkelok-kelok, melewati gardu pandang, ditemani pemandangan yang menyejukkan mata akhirnya tiba juga di pintu gerbang dataran tinggi Dieng.

Suhu yang sangat dingin adalah hidangan pembuka jika kamu datang ke dieng, suhu di Dieng antara 10-15 derajat celcius, bahkan bisa mencapai 5 derajat celcius di malam hari. Ada beberapa tempat wisata di Dieng yang bisa dikunjungi, antara lain: Telaga Warna, kawah Sikidang, PT Geo Dipa Energi (Lapangan Panas Bumi di Dieng), Candi Hindhu, Dieng Plateau Theatre (DPT), Kebun Teh Tambi. 

Kawah Sikidang









Telaga Warna




Kebun Teh Tambi



Hari 4, 16 Januari

dari Dieng sampai Wonosobo, sebuah pengalam luar biasa! saatnya kembali ke Jogja yang tetap Istimewa!

Teman-teman Petroleum 2010 berfoto bersama di PT Geo Dipa Energi











Kamis, 26 Agustus 2010

Belitung: Pelangi di Negeri Laskar Pelangi





Semua sudah siap. Ransel berisi pakain secukupnya, buku panduan perjalanan ke Belitung yang aku beli satu minggu yang lalu, tripod, kamera dan tiket pesawat. Ada banyak cara menuju Roma dan banyak cara pula menuju Belitung. Ada beberapa alternatif perjalanan menuju kesana, bisa melalui Palembang dan kemudian  menggunakan trasportasi laut atau langsung menuju Belitung melalui jalur udara yang hanya dilayani dua maskapai penerbangan nasonal yaitu Batavia Air dan Sriwijaya Air. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, maka aku memutuskan untuk mengunakan jalur udara menuju tempat tujuan. Aku berangkat dari Jogja pukul 6.15 WIB menggunakan pesawat Batavia Air dan transit di Jakarta yang kemudian berangkat pukul 10.30 WIB dan tiba di Belitung pukul 11.25 WIB. 

Dan bersiaplah membuka mata, hati dan telinga saat tiba di Surga tersembunyi ini.

Pemandangan Pertambangan Timah dari Atas Pesawat


Dan inilah kisah perjalananku selama di Belitung !





Hari Pertama
Pelangi di Negeri Laskar Pelangi ;

Inilah kali pertama aku menginjakkan kaki di Pulau Belitung. Perasaan bahagia dan penuh keingintahuan menemaniku selama perjalanan, tapi tidak dipungkuri bahwa perasaan was-was justru lebih dominan menguasaiku. Bagaimana tidak, aku pergi ke tempat ini seorang diri, tidak mempunyai saudara apalagi kenalan atau kerabat dan sedikit sekali pengetahuanku tentang Pulau Belitung, jadi hanya bermodalkan nekat. Ternyata yang aku takutkan sungguh-sungguh terjadi, bandara yang kecil dan ala kadarnya telah menyambutku dan sudah bisa ditebak bandara ini hanya digunakan untuk keberangkatan dan kedatangan pesawat lokal saja, sehingga layanan informasi tentang wisata yang biasa aku temukan di bandara-bandara tidak ditemukan di tempat ini. Yang lebih parahnya lagi, Pulau ini sepertinya sengaja bermain-main dengan adernalinku karena hanya ada satu dua transportasi umum yang aku jumpai di jalan-jalan pulau ini. Inilah saran dan tip PERTAMA: Sewalah motor atau mobil jika kamu ingin jalan-jalan di Pulau Belitung karena jarak tempat wisata satu dengan yang lain cukup jauh. Harga sewa motor sekitar 50ribu rupiah. Tetapi jika nasib baik menyertaimu, maka kamu bisa meminjam motor dengan harga cuma-cuma (akan ku ceritakan kejadian ini di kisah selanjutnya).

Aku dilahirkan untuk menjadi seorang pemenang, maka tidak akan pernah diriku menyerah dengan keadaan sesulit apapun. Belitung memang Pulau kecil yang sangat jauh dari keramain dan kepadatan, jalan-jalan disini sangat sepi dan rumah penduduk-pun tidak sepadat di Jogja. Namun sepertinya Tuhan masih merangkul orang optimistis penuh ide gila seperti diriku ini, hingga akhirnya aku bisa menumpang di rumah penduduk pulau ini. Inilah saran dan tip keDUA: Ada banyak penginapan di Belitung, tapi apa salahnya jika kita menginap di rumah penduduk? aku sendiri menginap dirumah penduduk, hal ini terjadi karena saat di Bandara Jakarta aku bertemu dan berkenalan dengan seorang anak laki-laki seumuran denganku dan ternyata dia putra asli belitung dan setelah dia mendengarkan curahan hatiku dengan baik hati dia menawarkan rumahnya untuk menjadi tempat singgahku selama di Belitung. Luar biasa beruntungkan ? (hahahaha).

Tidak akan ada waktu yang akan aku buang percuma di tempat ini. Sehingga setelah aku meletakkan ransel di kamar tidur, aku langsung menaiki sepeda motor dan menuju pantai-pantai eksotis di Pulau Belitung. Pantai pertama yang aku datangi adalah pantai Tj. Tinggi (31 km dari Tanjung Pandan). Pantai Tj. Tinggi adalah pantai yang digunakan sebagai lokasi syuting dalam Film Laskar Pelangi. Di tempat inilah batu-batu granit yang besar dan kokoh menunjukkan pesonanya, terlebih lagi saat pasir putih sacara sengaja merelakan tubuhnya basah diterjang air laut. Pantai Tj. Tinggi memiliki ombak yang sangat tenang dan sangat aman untuk berenang, sehingga meskipun pada awalnya aku tidak berkeinginan untuk berenang di pantai (karena pakaian yang terbatas) namun pada akhirnya aku meyeburkan diri juga untuk merasakan sensasi bermain air laut di pantai ini. Inilah saran dan tip keTIGA: Belitung adalah sebuah pulau yang terkenal dengan pesona alam pantainnya. Jadi ketika anda berniat berkunjung ke pantai-pantai di Belitung, jangan lupa membawa pakaian ganti.



Batu-Batu Granit di Pantai Tj. Tinggi
Pantai Tj. Tinggi











Berfoto Ria di Pantai Tj. Tinggi



Setelah sekitar tiga jam menikmati pantai Tj. Tinggi, aku melanjutkan perjalanan ke Pantai Tj. Kelayang. Pantai Tj. Kelayang di tempuh sekitar 10 menit dari pantai Tj. Tinggi. Pantai ini begitu sepi dan hanya ada kapal-kapal yang memamerkan keperkasaannya di tepi pantai. Melalui pantai ini jugalah kita dapat menuju Pulau Lengkuas dengan cara menyewa kapal nelayan. Tapi sayang harga sewa kapal sangat mahal (Rp. 350.000,-) sehingga aku terpaksa mengurungkan niat-ku bertamu ke Pulau yang digunakan sebagai lokasi video klip band Nidji tersebut. Di Tj. Kelayang inilah aku melihat indahnya kebersamaan dari sebuah perbedaan, Ya! saat warna-warna yang berbeda-beda membentuk satu kesatuan hingga menciptakan lukisan indah keajaiban alam. Pelangi di Negeri Laskar Pelangi! Inilah saran dan tip keEMPAT: Jika ada waktu sempatkanlah berkunjung ke Pulau Lengkuas. Sebenarnya dulu harga sewa kapal menuju Pulau Lengkuas hanya 10ribu rupiah saja, namun ketika Pulau ini sudah mulai ter-ekspose dunia luar, maka harga sewa kapal menjadi sangat tinggi. Tapi jangan khawatir, karena masih ada cara menuju pulau lengkuas dengan waktu tempuh hanya 10 menit dan harga sekita 30ribu rupiah melalui pantai Tj. Binga dengan menumpang kapal nelayan. 

Pelangi di Pantai Tj. Kelayang

Pelangi di Pantai Tj. Kelayang itu sepertinya memberi kesan lain saat hari pertama aku tiba di Belitung. Memang Pulau Belitung sempat membuat was-was ketika pertama kali aku tiba di tempat ini, tapi pelangi ini menyadarkan-ku bahwa ada begitu banyak keindahan yang justru bisa kita temukan ditempat yang tersembunyi seperti Pulau Belitung ini. Dan semenjak itulah perasaan was-was menghilang entah kemana, sepertinya mereka telah tersesat di perasaan bahagia dan keingintahuan-ku yang saat ini menjadi belipat ganda kuatnya. Dan setelah di hari pertama ini  aku habiskan di Pantai Tj. Pendam sembari menikmati sunset, mata, hati dan telinga ini menjadi tidak sabar melihat, merasakan dan mendegarkan keindahan apalagi yang akan aku temukan di Negeri Laskar Pelangi ini!




Hari Kedua.
Dari Belitung Barat ke Belitung Timur ;

Jarum panjang dan pendek jam tangan sepertinya telah sepakat membangunkanku sebelum ayam jantan kehabisan suara akibat alarmnya selalu diabaikan oleh orang-orang, karena dijaman sekarang ini mana ada yang peduli auman ayam jantan sebagai pertanda pagi telah datang. Sehingga setelah aku terbangun dari tidur, segeralah aku mandi, makan dan bersiap melakukan perjalanan panjang membelah hutan, melihat pertambangan timah inkonvensional yang nantinya kaki-pun ikut terserap tanah merah galian tambang dan mecari tempat-tempat istimewa sepuluh sahabat laskar pelangi di Belitung Timur. Inilah saran dan tip keLIMA: Perjalanan di hari kedua ini sangat jauh. Kamu akan melewati hutan tropis, perkebunan kelapa sawit,  pertambangan timah dan panasnya terik matahari. Untuk mengelilingi Pulau ini dari barat ke timur dibutuhkan waktu dari pagi hingga sore hari, dan inilah peringatan penting yang harus kamu perhatikan. Di Belitung bensin sangat langka, sehingga jika kamu akan melakukan perjalanan isilah penuh tangki bensin kendaraanmu dan jika dalam perjalanan bensin mulai hampir habis bergegaslah mengisi kembali bensin dimanapun kamu melihat ada penjual bensin. 



 Pertambangan Timah Inkonvensional



Aku berangkat pukul 07.00 WIB. Tujuanku di hari kedua ini yaitu kota Manggar dan Gantung yang terletak di Belitung Timur. Jalan raya di Pulau Belitung sangat halus dan hanya berupa jalan lurus dengan perkebunan, hutan, pertambangan timah, dan sedikit rumah warga yang menjadi teman perjalanan. Sebelum memasuki kota Manggar, aku meyempatkan diri berkunjung ke Pantai Bukit Batu dan Pantai Burung Mandi yang letaknya 35 km dari Tanjung Pandan. 

Pantai Burung Mandi merupakan pantai pasir putih seperti pantai-pantai di Belitung lpada umumnya, namun di pantai ini tidak ada batu-batu granit seperti yang ada di pantai Tj. Tinggi dan pantai Tj. Kelayang, yang ada hanyalah kapal-kapal nelayan yang di istirahatkan oleh pemiliknya dan deretan harmonis nan teratur para pasukan pinus. Aku tidak terlalu lama berada di pantai ini, karena tujuan yang utama adalah di kota Manggar dan Gantung yang jaraknya 87 km dari kota Tanjung Pandan.




Pantai Burung Mandi



Setelah menikmati pesona alam pantai Bukit Batu dan pantai Burung Mandi, aku menyempatkan diri mampir ke Vihara  Dewi Kwam Im yang letaknya tidak jauh dari lokasi pantai Burung Mandi. Ini adalah tempat beribadah umat Budha terbesar di Belitung. Vihara ini sangat unik, karena selain arsitektur China yang sangat melekat, dari tempat ini pulalah kita dapat melihat panorama pantai yang sangat indah karena letak Vihara yang berada di atas bukit. Di Belitung sendiri banyak sekali warga Tioghoa yang menetap dan berkeluarga. Mereka semua datang ketempat ini karena pada jaman dulu dibawa oleh orang-orang Belanda untuk bekerja di Pertambangan Timah. 


Vihara Dewi Kwan Im


Setelah dari Vihara, aku melanjutkan perjalanan jauh menuju kota 1001 warung kopi, Manggar. Kali ini hujan menjadi teman setia perjalanan-ku, di Belitung jika hujan sudah turun bisa tidak berhenti hingga malam hari, namun meskipun hujan turun, semangat-ku untuk menjelajahi Pulau Belitung tidak pudar, sehingga dengan mantap pula aku terus memacu kendaraan besi beroda dua yang aku kendarai. Dan akhirnya sampai juga di pusat kota Manggar, seperti yang aku katakan tadi, bahwa di kota ini banyak sekali warung-warung kopi disepanjang jalan raya, mereka menjadi teman setia penduduk di kota Manggar dan warung kopi ini akan sangat ramai ketika matahari telah kembali ke peraduannya, bergati dengan bulan bintang yang memperlihatkan senyum manisnya.

Dari kota Manggar aku melanjutkan perjalanan ke Gantung, aku ingin sekali bertemu dengan sepuluh sahabat Laskar Pelangi. 


Sekitar 30 menit lamanya perjalan dari kota Manggar menuju Gantung. Gantung sendiri adalah tempat utama lokasi syuting Film Laskar Pelangi, dimana ditempat ini terdapat pasar rakyat laskar pelangi, bekas perusahaan tambang timah, replika sekolah SD Muhamadiyah, tanah lapang tempat bermain dalam film laskar pelangi, perpustakaan Laskar Pelangi yang baru dibangun dan bendungan Pice. Selain itu di kota inilah Bu Muslimah yang asli, A kiong yang asli, Lintang pemain film laskar pelangi dan Mahar pemain film laskar pelangi tinggal. 
  


Bendungan Pice


Gantung - Ikal Bertemu A-Ling


Replika SD Muhamadiyah dalam Film Laskar Pelangi


Pasar Rakyat dan Perpustakaan Laskar Pelangi





Berburu Laskar Pelangi ;

Sampai juga aku di Gantung, di gantung-lah misi perburuanku mencari para pemain film laskar pelangi dimulai. Aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan anak-anak pemain laskar pelangi seperti mahar, lintang dan sosok laskar pelangi yang asli yaitu Bu Muslimah dan A-kiong orang-orang di gantung sangat mengenali mereka, kamu cukup bertanya kepada salah satu orang di gantung dan dengan senang hati akan menunjukkan tempat dimana mereka tinggal. 



Hari Ketiga.
Bertemu Zulfani Pasha (Ikal),  Levina (A-ling), Flo 
dan Bapak Guru Achmand Fajeri (Mahar) ;

Singkat cerita, mimpiku untuk menginjakkan kaki di Pulau Belitung mendapat bonus bertemu dengan para pemain film dan sosok asli Laskar Pelangi. Sungguh kebahagiaan yang tidak akan terlupakan. Mata, hati dan telingaku secara bersamaan di manjakan dengan alam eksotis dan sosok manusia yang aku idolakan. Inilah saran dan tip keEnam: Jika kamu ingin bertemu Pasha (Ikal) datang saja saat hari sekolah setelah pukul 12 siang di SMAN 2 selain ikal kamu juga akan bertemu Achmad Fajeri (Mahar asli) dan Kucai. Sedangkan Levina (A-ling) tinggal di dekat tempat penerbitan koran, untuk lebih jelasnya bertanyalah pada Pasha daerah Levina tinggal dan Flo sekolah di SMP Regina Pacis.



Levina - A Ling
Zulfani Pasha - Ikal










Pak Guru Achmad Fajeri - Mahar


Hari Keempat.
Empat Hari Untuk Seribu Kenagan Indah 
tak Terlupakan! ;

Hari terakhir aku di surga tersembunyi ini, Pulau Belitung memberikan lagi dan lagi sebuah coretan indah  dalam hidupku. 

Disinilah aku melihat sesuatu yang belum pernah aku Lihat. 

Melakukan sesuatu yang belum pernah aku Lakukan.

Merasakan sesuatu yang belum pernah aku Rasakan.


Masyarakat Belitung



Sunset - Belitung




Lihat foto lainnya disini :
Pelangi di Negeri Laskar Pelangi




Senin, 16 Agustus 2010

Edensor





Aku ingin mendaki puncak tantangan, 
menerjang batu garanit kesulitan, 
menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. 

Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. 

Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: 
meletup tak terduga-duga, 
meyerap, 
mengikat, 
mengganda, 
berkembang, 
terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. 

Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, 
menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. 

Aku ingin berkelana, 
menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. 

Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, 
ingin melepuh terbakar matahari, 
limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. 

Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, 
penuh dengan penaklukan. 

AKU INGIN HIDUP! INGIN MERASAKAN SARI PATI HIDUP!




Belitung, Langkah Awal Mewujudkan Mimpi-Mimpi





Akhirnya dalam beberapa hari lagi lebih tepatnya dalam tiga hari dari sekarang, saya akan memulai melakukan perjalanan ala backpacker menuju negeri Laskar Pelangi, Belitung! Inilah saat-saat yang saya nantikan, menginjakkan kaki pertama kali di Belitung dan kembali mendapat kesempatan luar biasa dari Tuhan untuk melihat, mendengar, dan merasakan bagaimana keindahan alam tersembunyi yang dimiliki Bumi Pertiwi.

Perasaan  penuh ketidak sabaran tentu menyelimuti saya di tiap detiknya terlebih saat arloji kamar serasa bergerak lebih cepat dan seakan-akan mengikuti dentuman cepat melodi jantung saya, dan hal ini juga yang menjadi salah satu pemupuk semangat saya untuk berkunjung ke Belitung meskipun hanya ditemani oleh kamera, tripod, ransel dan tentu uang yang minim. 

Dan seperti yang saya duga sebelumnya bahwa lebah-lebah akan menghampiri saya dengan  membawa pertanyaan-pertanyaan serta reaksi skeptis untuk memukul telak muka saya. Dan benar saja, pertanyaan mereka semua tidak jauh berbeda satu dengan yang lain.  Intinya adalah mereka heran dan tidak percaya dengan apa yang akan saya lakukan, mengapa saya berani-beraninya melakukan perjalanan jauh sendirian ke tempat yang belum pernah saya jumpai terlebih tidak ada kerabat yang tinggal disana. Mungkin menurut sebagian orang apa yang saya lakukan adalah tindakan gila, bodoh, dan penuh risiko tapi inilah yang saya cari dan saya inginkan selama ini. Ingin sekali menikmati suasana yang berbeda dengan keadaan yang jauh dari zona nyaman dan aman.

Saya yakin sekali dengan rencana dan persiapan yang selama ini telah saya lakukan, saya berharap bahwa perjalanan saya ke Belitung akan memperkaya pengalaman saya yang tentunya suatu saat akan saya bagikan kepada manusia lain. Inilah salah satu langkah dari berjuta-juta langkah yang akan saya jumpai untuk menggapai  dan mewujudkan mimpi-mimpi saja. Ya! Suatu saat nanti akan saya jelajahi dunia!

Ingat teman, ada banyak tempat indah di belahan lain Bumi ini, tapi begitu sulitnya kita membuka mata untuk mecoba melihat, melakukan dan merasakannya, sehingga yang terjadi kita terus terdiam dan terlelap dalam permainan mimpi-mimpi kita, akibatnya kita hanya menjadi seorang yang berani bermimpi tapi tidak berani untuk mewujudkannya!  Sekarang kembalilah menutup mata, tidurlah, bermimpilah, dan cobalah mencari cara untuk selangkah lebih cepat mewujudkan mimpi kita. 


Terimakasih untuk kedua orang tua saya yang telah mendukung saya mewujudkan mimpi-mimpi saya dengan membiarkan anaknya menjadi gila untuk melakukan perjalanan gila ala backpacker. 


Perjalanan saya ke Belitung ini menjadi awal kencintaan saya dalam dunia Backpacker. Total pengeluaran uang selama disana (4 hari 3 malam) hanya sebesar Rp 150.000. Selengkapnya, mari baca kisah berikut ini. Klik : Belitung : Pelangi di Negeri Laskar Pelangi



Selasa, 10 Agustus 2010

Tana Toraja : Negeri Orang Mati yang Hidup



Gunung Nona




Segeralah bangun matahari, bangkitlah dari peraduan-mu sinarilah Indonesia-ku dan akan kulihat elok nan indahnya alam Tanah Pertiwi di Tana Toraja. 


Saya terbangun dari tidur malam, pagi ini matahari begitu semangatnya bersinar seakan tak peduli bahwa umurnya sudah tidak tua lagi. Cahayanya yang begitu kuat dan terang membangkitkan gairah untuk melakukan perjalanan panjang menuju Tana Toraja, Sulawesi Selatan.


Toraja, inilah tujuan wisata saya pada liburan akhir Desember tahun lalu ( 2009 ), saya sudah lima kali bertamu ke kampung halaman Ayah saya ini, namun Negeri ini senantiasa menghidupkan ingatan saya tentang sebuah pengalaman dan pesona panorama alam serta keunikan adat-istiadatnya, mungkin itulah sebabnya saya selalu rindu kembali kesini.

Sungguh sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, jika stamina tidak kuat, tak jarang akan membuat kepala serasa berputar-putar, karena jalan yang berliku-liku dan naik turun menjadi teman perjalanan. Beruntunglah saya berjumpa dengan si Nona yang baik hati, dengan keramahannya saya diperbolehkan untuk beristirahat di warung-warung yang berdiri di depan tubuhnya. 


Mereka menyebutnya Gunung Nona. salah satu pemandangan yang sangat menarik ketika kita melakukan perjalanan ke Tana Toraja. Gunung Nona terletak di desa Bambapuang, Kabupaten Enrekang, di sebuah warung kopi saya akanbeirsitirahat sejenak, menyeruput secangkir kopi hangat, sembari menikmati tubuh indahnya. 


Ada yang bilang bahwa wisata yang menarik adalah ketika mata, hati dan telinga kita bisa merasakan merdunya alunan suara ombak pantai, ada juga yang bilang bahwa wisata yang unik adalah ketika mata kita melihat bangunan-bangunan unik dan tua berdiri kokoh di hadapan kita, Tapi sayang, di Toraja semua ini hanya bisa diimajinasikan saja, karena tidak ada obyek wisata seperti itu di tempat ini! Lantas apa yang menarik dan unik di Tana Toraja?





Dua Sejoli di Pemakaman Londa





Negeri Orang Mati yang Hidup ; 

Julukan yang saya berikan setelah sekian kali berkunjung ke Tana Toraja. Melihat bagaimana tengkorak-tengkorak manusia memperlihatkan pesonanya dan berpuluh-puluh kerbau dan babi dengan rela disembelih ketika upacara kematian berlangsung demi sebuah ritus kehidupan.



Suasana pada pesta Rambu Solo'




Londa, Lemo dan  Lo'Ko Mata ;

Merupakan salah magnet kuat yang menarik minat wisatawan untuk datang ke Tana Toraja. Londa, Lemo dan Lo'Ko Mata adalah Pemakaman Tradisional yang sangat terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. Peti mati dan tulang-belulang manusia akan diletakkan ke dalam dinding berbatu diamana terdapat lubang dan gua-gua pada bagian dalam. Jangan takut untuk masuk ke dalam, karena mereka semua akan menyambut kalian dengan ramah dan senang hati, asalkan tidak sekali-kali punya keinginan untuk mengambil tulang belulang mereka. 







Londa
Lemo



Peti Mati - Suasana di dalam Londa




Merokok Hingga Akhir Usia




Dibantai demi sebuah ritus kehidupan 
dan strata sosial. ;


Datanglah di bulan Juni, Juli atau Desember dan saksikanlah pembantaian kerbau dan babi secara kolosal oleh para penjagal, inilah saran dan tip saya ketika kamu ingin berkunjung ke Tana Toraja. Di bulan-bulan  itu, kita dapat melihat bagaimana unik dan sakralnya adat-istiadat Tana Toraja. Upacara adat kematian (Rambu Solo') salah satunya. Upacara kematian (Rambu Solo') mewajibkan keluarga yang ditingalkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada yang meninggal. Pesta ini mulai berlangsung satu malam bahkan hingga tujuh malam lamanya, dalam Upacara Adat ini berpuluh-puluh ekor kerbau dan babi  akan disembelih, tergantung strata sosial keluarga tersebut.



Kerbau Belang (Bahasa Toraja : Tedong Bonga) 200 - 250 Juta


Tana Toraja selalu membuat saya terpukau dan kagum dengan apa yang mereka miliki. Mulai dari wisata  Pemakaman Tradisional, Upacara Adat Kematian, Keindahan Alam, Keramahan Masyarakatnya dan Rumah Adatnya senantiasa menampilkan pesonanya. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan.


KE'TE KESU - Perumahan Tradisional Tana Toraja





Tongkonan - Rumah Adat Tana Toraja