Sabtu, 30 Juli 2011

Solo: The Spirit Of Java

25 Juni 2011;


Pukul 18.00 WIB aku sudah tiba di kota Solo. Dari informasi yang aku dapat dari sebuah komunitas travelling di dunia maya (dibaca: couchsurfing), acara Solo Batik Carnival akan diadakan mulai pukul 19.00 WIB disepanjang jalan Slamet Riyadi, ini bearti sepanjang jalan tersebut akan ditutup untuk umum dan lalu lalang kendaraan akan tergantikan oleh meriahnya acara satu tahun sekali, acara yang di gelar untuk menyambut hari jadi kota Solo.


Begini awalnya;


Diawali dari turunnya kadar semangat saat weekend berganti senin, yang seharusnya beberapa menit lagi kuliah justru aku masih berleha-leha di kasur, setelah sedikit ada tenaga, aku mulai melakukan rutinitas: 

Mandi? 
Bersihin kamar? 
Kuliah? 
 Ya! Salah! 
Buka laptop dan browsing! Ayeee.

Membuka event wisata yang tersedia di kolom couch-surfing dan taraaaaattaa! tanggal 25 Juni 2011 ada Solo Batik Carnival yang populer dengan nama SBC dan ini adalah SBC keempat dan pertama kali diadakan di malam hari dan kali pertama buat-ku.




 Ini kisahnya, 19.00 WIB;

Setelah parkir mobil di stasiun Purwosari aku bersama dua kawanku nonot, aji dan adikku enceng, berjalan  menuju garis start dan panggung tempat tamu undangan berada. Pawai ini akan berjalan hingga bundaran gladak atau patung Slamet Riyadi.

Jalan Slamet Riyadi adalah jalan utama  dan merupakan pusat aktivitas paling produktif di kota ini, karena di tempat inilah banyak berdiri mall, toko-toko elektronik, dan pusat wisata kuliner.  Sepanjang 6km telah dipasang delapan panggung VIP beserta sorot lampu meriah untuk ikut serta menari-nari meramaikan pawai batik yang mengangkat tema "Keajaiban Legenda".




Informasi dan fakta yang aku dapat, para partisipan dalam acara ini berasal dari semua kalangan baik profesi maupun umur, dan yang membuat aku terkagum selain para model yang cantik-cantik adalah bahwa tujuh ratus partisipan dari rakyat Solo yang ingin mengikuti pawai dengan menjadi model, ternyata membiayai sendiri busana batiknya (biaya mandiri) dan sebelumnya mereka diberi pelatihan selama empat bulan. wooow mantap!


Kira-kira ada dua jam aku berdiri menyaksikan ratusan model berjalan seliweran menyejukkan mata dengan busananya yang indah dan menarik terutama saat Putri Indonesia dengan menaiki andong menyapa kami dengan senyum manisnya. Rasanya seperti terbang ke langit ketujuh, menembus rasi bintang berlapis-lapis dan terjun bersama paus akrobatik. Berlebihan! Karena faktanya dengan tubuhku yang kecil ini, terlebih dahulu aku harus bersusah payah melompat, menyusup, menerobos, menggiring, menendang dan goooll, kerumunan orang untuk sekedar mengambil foto para model. 

Oh iya! aku lupa memberitahu satu hal. Para partisipan yang sebagian besar adalah perempuan ini sudah di setting untuk bersahabat dengan wisatawan atau fotografer. Artinya, ketika kita hendak meminta foto bersama dengan mereka, maka dengan senang hati mereka menerimanya.
 


26 Juni, 01.00 WIB

Dan malamku di Solo ditutup dengan menikmati kuliner di Jajanan Malam GLB (dibaca: Gladak Langgen Bogan Solo) semacam food court dengan penampilan yang berbeda dan wajib dikunjungi.


Aku bermalam di mobil yang telah aku parkir di stasiun Balapan. Melentangkan tubuh di bagasi mobil sembari mendengarkan lagu bengawan solo yang di bawakan musisi lengendaris Alm. Gersang.



Minggu pagi;


Tepat pukul 5 pagi aku telah terbangun dari tidurku, setelah sedikit melakukan gerakan-gerakan kecil, aku menuju toilet umum untuk membilas wajah dan bersiap kembali menjelanjah kota solo.


Perjalanan pagi ini aku mulai dengan mengendarai mobil mengelilingi tiap sudut kota dan singgah di jalan  Slamet Riyadi, jalan protokol yang semalam menjadi pusat hiburan menarik sekarang berubah menjadi pusat interaksi sosial yang nyaman dan menyehatkan bagi warga kota Solo. Ternyata pagi ini sedang diadakan CFD alias Car Free Day. Banyak orang bersepeda santai, berjalan-jalan, senam masal, bermain voli, tenis meja, badminton yang semuanya menggunakan lapangan berukuran mini dan pedagang tidak ketinggalan untuk ikut meramaikan CFD ini.






Dengan slogan: The Spirit of Java, Negeri Kasunanan telah berbenah hingga menjadi daya tarik baru wisatawan untuk datang ke Indonesia, keseriusan  dalam memajukan pariwisata tanpa meninggalkan  unsur budaya jawa patut kita apresiasi.



Lihat Kumpulan Foto SBC 2011: http://on.fb.me/qkJM0P


Minggu, 12 Juni 2011

Exotic Pulau Sempu

1 Juni 2011, 21.00 WIB;


Ransel sudah melekat dipunggungku, sudah satu jam aku berdiri disini, menunggu bis antar provinsi untuk membawaku ke suatu tempat di malang selatan. Setelah sekian lama menunggu akhirnya bis itu tiba juga, perawakannya besar dan tinggi dilapisi jubah berwarna biru dengan tulisan "Sumber Kencono" berwarna putih akan melaju selama enam jam untuk tiba di terminal kota jombang.



2 Juni 2011, 03.45 WIB;

Ini adalah salah satu transportasi yang paling tepat waktu kalau masalah jam keberangkatan dan kedatangan, tidak perlu aku jabarkan kenapa, karena sepertinya kau sudah tau dan cerita ini sudah cukup melegenda kan?

Suara Muadzin mengumandangkan panggilan doa bagi umat muslim menandai bahwa aku telah tiba di terminal kota jombang, untuk kemudian menaiki bis antar kota menuju kota malang.


20 orang!!

Sudah sering aku katakan, bahwa ketika melakukan perjalanan akan membuat dirimu mengenali wajah baru dengan budayanya, bahasa dan logat berbicara yang asing ditelinga, dan kejadian-kejadian unik yang mungkin belum pernah kau temui dan rasakan sebelumnya. Sudah dua kali aku berpindah angkot untuk mencapai pasar turen, ini merupakan angkot ketiga yang akan membawaku ke pelabuhan nelayan sendang biru. Setelah makan siang di warung, ternyata angkot kecil itu masih menunggu. Ya! ternyata angkot tua berukuran kecil ini akan lepas landas jika kabinnya sudah penuh sesak, 20 orang dalam angkot yang wajarnya berisi delapan orang dan dua jam kunikmati perjalanan untuk sampai pelabuhan nelayan sendang biru.

Pelabuhan Nelayan Sendang Biru;

Sendang Biru
Puluhan kapal berwarna mayoritas biru duduk manis dipinggir pantai, dengan menaikinyalah aku bisa sampai di pulau semut. Kira-kira tiga puluh menit perjalanan untuk sampai kesana, pulau semut adalah tempat awal kakiku harus melangkah membelah hutan tropis untuk sampai ke surga tersembunyi.





Penghuni asli hutan tropis;

Pulau Semut
Ini benar-benar perjalanan yang sangat luar biasa melelahkan, tidak bermaksud berlebihan tetapi itulah yang aku rasakan, dengan membawa tas ransel aku benar-benar kewalahan menghadapi lembabnya udara, track yang lincin dan berlumpur karena hujan deras mengguyur hutan ini semalaman, alhasil empat sampai lima kali aku harus beristirahat sebelum mencapai tujuan, dan bersamaan dengan itu pula kera-kera bergelantungan di akar pohon, berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain sembari mentertawakan kelelahan dan tubuhku yang penuh dengan lumpur.




Surga Tersembunyi! 
Tak Terbantahkan Keindahannya!

Sudah lima jam aku membelah hutan tropis, fisik dan mental benar-benar terkuras, baju, celana, dan wajah penuh dengan lumpur dan keringat. Aku masih belum tau seberapa jauh lagi aku harus melangkah. 






Dan ini benar-benar setimpa dengan usaha yang harus kulakukan, suara hati benar-benar membawaku ke suatu karya cipta Tuhan yang sangat indah, satu dari sekian banyak surga tersembunyi yang dimiliki Negeri Pertiwi! Putih pasir, biru air, hijaunya pepohonan, tingginya tebing yang melingkarinya, sungguh tak terbantahkan keindahannya!

Aku masih bermain-main dengan kegembiraanku, kegenbiraan akan keindahan pulau ini. Aku tidur terlentang dengan pasir pantai sebagai alasanya dan kubiarkan tubuh basah oleh air laut. Akan banyak waktu untuk menikmati pulau ini, dan tak akan kubiarkan waktu lewat begitu saja. Setelah selesai memasang tenda untuk bermalam, aku melepas baju dan kembali meyeburkan diri kedalam air, sungguh kunikmati situasi ini!






18.00 WIB;

Kulihat ratusan kalelawar keluar menjelajahi malam. Api unggun-pun telah menyala, hangatnya seakan menyelimuti dingin malam ini dan bintang-bintang ikut bernyanyi bersamaku, layaknya orkestra kami memecah heningnya malam hingga pagi menjelang.

3 Juni 2011;

Disini semua berbeda, banyak hal yang tidak akan kau temukan di tempat lain. Salah satunya ketika pagi menguasai malam. Aku terbangun dari tidur, saat keluar dari tenda, mataku dengan jelas memandang sebuah sebuah mata berwarna kekuningan yang dengan yakin memancarkan sinarnya, matahari tampak begitu cerah disini, melompat-lompat diantara hijaunya pepohonan. Untuk menikmatinya lebih jelas, aku menaiki bukit dan benar saja, aku melihat cahaya indah terpancar dilangit, melebur dengan birunya awan saat itu, belum lagi pemandangan lansekap pulau sempu dari atas dan mata bebas tak terbatas melihat laut lepas samudra hindia.

Dua hari satu malam aku berada disini, tapi kudapatkan 1001 pengalaman yang akan terukir di mozaik kehidupanku. Tenda sudah aku kemas, ransel sudah kembali melekat dipunggung, sampah sudah kubakar dan setelah itu aku kembali membelah hutan tropis, kembali dengan semangat baru dan bersiap melakukan perjalanan darat ke kota malang.






Malam di kota malang

Aku menginap di losmen daerah songgoriti, malang. Setelah meletakkan ransel di kamar, aku menaiki mobil yang aku sewa dari penduduk lokal dan berjalan mengelilingi kota malang. Aku menyempatkan bermain di BNS, sebenarnya ada banyak tempat wisata menarik di kota ini, sebut saja: Jatim Park 1, Jatim Park 2, Selecta, wisata batu malang, dan banyak lagi. Perjalanan malam ini kututup dengan berkunjung di alun-alun kota terbaik yang pernah kulihat. Alun-alun yang dilengkapi dengan taman bunga, lampion, permainan anak-anak, berbagai macam warna lampu dan putaran bianglala yang menambah pesona alun-alun ini dan ini sekaligus menutup kisah backpackerku di Pulau Sempu dan Malang.

4 Juni 2011

Perjalanan kembali ke Jogja. 





Kapal menjeput kami
Exotix Pulau Sempu













Ini kami, teman perjalananku, dan tulisan ini kupersembahkan untuk kalian: 
nonot, aji, adit, rizky (sahabat belitung)

Senin, 23 Mei 2011

Itinerary Malang-Sempu

Beberapa hari lagi lebih tepatnya tanggal 1 sampai 5 juni 2011, aku dan teman-teman yang tergabung dalam sebuah organisasi rahasia dan tersembunyi (dibaca: Likuk di Hati) akan melakukan perjalanan ke Malang, lebih tepatnya ke Pulau Sempu. 

Pulau Sempu terletak di selatan pulau Jawa, wilayah kabupaten Malang, Jawa Timur dan ini merupakan kali pertama aku dan teman-teman akan berkunjung kesana. Saat ini persiapan kami sudah 90%, sisanya adalah ijin dan kehendak dari Tuhan.

Untuk melancarkan perjalanan kami, berbagai persiapan telah kami lakukan, mulai dari: main bareng, makan bareng, tidur bareng, main PS dari malam sampai pagi, nonton cast away dan iklan nutrilon royal 3 "life is an adventure", intinya itu semua kami lakukan untuk meningkatkan intensitas bertemu supaya hati, pikiran dan semangat menjadi satu.


Dan inilah hasilnya:  

Itinerary Malang-Sempu


1 juni-2juni: 
  • Makan, pamit orang tua, berdoa.
  • Berangkat dari jogja (pukul 20.00 WIB) ke jombang naik bus sumber kencono. Harga tiket @ Rp 40.000,-
  • Sampai terminal jombang naik bus tujuan terminal arjosari, malang.
  • Terminal arjosari ke terminal gadang.
  • Terminal gadang ke pasar turen.
  • Naik angkot dari pasar turen ke Sendang biru (pelabuhan nelayan)
  • Di sendang biru, ijin perhutani, beli ikan mancing, sewa kapal (harga sewa Rp 30.00,-) buat meluncur ke Pulau Sempu.
2 juni: 
  • Berdoa.
  • Kapal nelayan akan membawa kami ke bagian selatan pulau sempu, sehingga kami harus berjalan sekitar 1-2 jam membelah hutan untuk sampai ke Segara Anakan tempat dimana kami akan berkemah.
3 juni:
  • Berdoa
  • Masih di segara anakan, pulau sempu.
4 juni:
  • Berdoa
  • Pagi hari kami harus kembali membelah hutan untuk menunju bagian selatan dari pulau ini, disanalah kami akan kembali dijemput.
  • Kapal mengantarkan kami kembali di sendang biru.
  • Dari sendang biru naik apasaja yang bisa mengantar kami ke malang.
4 juni (di kota malang):
  • Berdoa.
  • Cari tiket pulang ke jogja.
  • Menikmati malam dan bermalam di malang.
5 juni:
  • Berdoa.
  • Selamat tinggal malang pulau sempu dan sekitarnya.

Daftar Bawaan:  

  • Ransel
  • Sandal gunung atau Sepatu gunung (jangan sandal jepit atau sepatu sekolah)
  • Celana Cargo atau celana panjang yang nyaman dipakai
  • Celana Pendek
  • T-shirt
  • Pakaian dalam
  • Jas hujan
  • Peralatan mandi (buat mandi saat di malang biar bisa mejeng di BNS)
  • Obat-obat pribadi
  • Terpal/Tenda
  • HT
  • Kompor kecil beserta bahan bakarnya (avtur! hahaha)
  • Botol minum (ingat, di pulau sempu tidak air tawar)
  • Matras
  • Nesting
  • Beras
  • Camera (sebagai saksi bisu)

Inilah kami, bagi kami membuat itinerary, mencari info selengkap-lengkapnya, meningkatkan intensitas bertemu adalah sesuatu yang sangat penting. Itinerary bukan untuk membuat kami menjadi kaku ketika melakukan sebuah perjalanan, tetapi hal semacam ini justru bisa membantu kami menentukan emergency budget dan membuat perjalanan lebih efektif-efisien.

Dan sampai jumpa di coretan selanjutnya, coretan tangan dari kisah perjalanan kami di Malang dan Pulau Sempu.


Salam Ransel!

Kamis, 28 April 2011

Klik-Backpacker (jilid 2)


Kok Ransel bukan Koper?

Waktu masih pakai koper, repotnya minta ampun, 

si mimam jaga adek yang masih unyil dan aku harus waspada super ekstra untuk lihat koper berpita merah di deretan koper-koper sejenis di baggage claim. 

Seperti orang lagi memancing ikan, feeling dan pandangan harus peka dan cermat, kalau kail sudah disambar segera lapor pipap untuk segera ditarik senar pancingnya. Alhasil koper berhasil diambil, itu belum selesai kawan! masih harus dicek terlebih dahulu, kalau tangkapannya sesuai maka dibawa pulang, kalau tidak sesuai ya dikembalikan lagi.


Sekarang pakai ransel, beli yang 60 liter, warna biru terang. Kalau terpaksa masuk bagasi maka saat pengambilan mudah dikenal karena warnanya yang jreng dimata, tapi beruntunglah jika tidak perlu masuk bagasi, turun dari pesawat langsung keluar bandara dan meluncur ke lokasi tujuan.





Klik-Backpacker (jilid 1)

mas kok judul blognya klik-backpacker?

Nah, kali ini aku mau mendongeng tentang asal-usul blog ini. Aku adalah orang yang panas-panas tai ayam, mumpung lagi semangat, ya ayo lakukan sesuatu, kalau bisa ya yang belum pernah dilakukan dan diusahakan sesuai sama hobi. Kebetulan jalan-jalan adalah hobi yang tidak bisa dibantahkan, mau jalan-jalan muter-muter kamar karena lupa taruh tas sekolah dan remote TV dimana, sampai jalan-jalan ke tempat yang menarik di bumi pertiwi ini.


Dari kecil aku memang sudah sangat sering teramat diajak jalan oleh kedua orang tua, naik motor puter-puter perumahan, hingga naik kapal laut ke Tana Toraja saat berumur 5 bulan. Sudah besar, nafsu dan gairah untuk jalan-jalan semakin menjadi-jadi, hampir kota-kota di pulau jawa ini sudah pernah aku kunjungi.


Dulu ke Bandung naik bus pariwisata, duduk paling depan dengarin mbak-mbak atau mas-mas ngomel di dekat supir dengan pandangan tajam ke depan dan tawa yang mau tidak mau wajib diberikan kepada kami para wisatawan. Tidur tidak boleh malam-malam, karena pagi-pagi sekali sudah harus diangkut ke tempat wisata lainnya. Ironi kan?


Sekarang sudah tahu seperti itu sangat tidak enak dan membosankan akhirnya harus cari jalan melakukan perjalanan dengan gaya sendiri yang lebih seru. Dan perjalanan ke bandung saat SMA menjadi awal kisah backpacker-ku, hingga mulai ketagihan sampai detik ini.


kemana-mana bawa ransel bukan koper, pakai sandal gunung bukan sepatu sekolah, memotret bukan dipotret, serba minimalis bukan maksimalis, yang dilakukan harus klik di hati bukan klek di otak.



Minggu, 06 Maret 2011

Bandung: Keindahan Ditiap Tetesnya

8 februari, Ambil koper

Eh salah! Bukan koper, koper terkesan asing ditelinga. 
Banyak orang mendambakan liburan yang penuh dengan keindahan yang pasti, kota tua yang punya jalanan yang langsung terhubung dengan pantai, mobil mewah yang setia mengantar ke tempat-tempat eksotis. 

Tapi itu semua jauh sekali dari mimpi-mipiku. Melangkah dan mencium aroma berbeda ditiap sudut dunia, Berada di suatu tempat yang asing hingga akhirnya tersesat didalam labirin keindahannya, 

Pernah aku bermimpi buang air besar dengan jendela terbuka yang menampilkan pemandangan lansekap agungnya menara Eifel, mendorong mobilku berkilo-kilometer karena ban yang bocor untuk melewati perbatasan negara Kroasia dan masuk ke negara Montenegro. Bahkan untuk menikmati keindahan pantai, aku harus memanjat bukit hijau yang puncaknya hampir mengenai awan kemudian meluncur ke laut lepas, terhantam air dan tersapu semilir angin.

aku butuh kejutan! seuatu yang butuh dipecahkan dengan logikaku dan bisa membuat aku ketakutan sebelum kudapatkan keindahannya! Sesuatu yang spontan!



Ku ambil ransel biruku, kusiapkan tiket kereta, dan berangkat, 

Bandung, ini bukan kali pertama kakiku menginjakkan tempat ini. Waktu tinggiku masih 140cm, aku pernah ketempat ini, tapi itu dulu saat orang tuaku sibuk mengawasi anaknya agar tidak terpisah dari rombongan tour, menasihati anaknya agar tidur tidak larut malam karena agen perjalanan akan datang menjemput sesudah ayam berkokok.

9 februari, Sekarang tinggiku 170cm
 
kurang lebih perjalanan kutempuh dari jogja dengan menggunakan kereta, akhirnya tiba juga setelah beberapa jam yang lalu terbangun akibat seorang perempuan paruh baya berteriak-teriak diluar gerbok saat keretaku yang sedang berhenti di stasiun untuk kembali mengambil penumpang tujuan ke bandung.

Begini teriakan sang ibu sambil memukuli gerbok dengan kayu: wooyy mas! buka pintunya mas! buka! saya juga  mau masuk! saya sudah bayar mas! jangan beda-bedakan mas!! 

Suara itu membuatku kaget hingga membuatku loncat dari tempat dudukku, karena ibu itu memukulkan kayunya  tepat di tempat aku duduk. Sejenak aku ikut gelisah dan kasihan melihat ibu itu, tapi angin dengan cepat menghilangkan rasaku, karena kemudian kuketahui bahwa ibu itu berada di bagian yang salah dari pintu masuk kereta. Aku tersenyum dan tertawa dalam hati, terdengar jahat memang, tapi itulah yang aku rasakan setelah kemudian aku memberi tahunya bahwa dia berada di bagian sisi kereta yang salah dan dengan spontan beliau tersenyum malu dan melepaskan kayu yang di genggamnya.



10 februari, Pagi Hari di Bandung
  
Berjalan kaki dari stasiun kereta bandung menuju daerah cihampelas, mungkin jaraknya sekitar 10km.
Makan soto ayam di pinggir jalan, soto ayam 'asli madura bang udin'  harganya 10 ribu, Es teh 2 ribu. Bandung memang tidak bersahabat kalau urusan harga makanan. 

Aku bayar 8 ribu, karena aku pesan soto ayam tanpa ayam dan Es teh tanpa Es.


Malam Hari di Bandung,

Ku akui bahwa Bandung begitu sangat indah saat malam hari, cahaya lampu malam kota, alunan musik dan suara merdu seniman jalanan, wanita-wanita cantik sexy nan elok yang berjalan di sepanjang trotoar daerah Braga dengan background bagunan-bagunan tua yang seakan berjalan di catwalk layaknya model profesional. Kunikmati itu semua, sungguh eksotis!

Malam ini aku tidur di depan distro di daerah jalan Riau setelah sebelumnya aku digoda sesosok manusia di Braga. Aku duduk-duduk santai sambil menikmati sebotol bir didepan gedung Asia-Afrika, kemudian aku berjalan ke daerah Braga, aku bersandar di papan nama 'CK' langsung saja kuletakkan ransel dan tas kameraku. Hingga akhirnya datanglah mas-mas atau mbak-mbak atau om-om atau apalah aku sangat bingung jika harus menyebutkan sesosok waria. Tanpa basa-basi dia mencolekku, dia menawarkanku sebatang rokok, aku menolaknya, dia memintaku untuk memfoto dirinya, aku menerima, dia memintaku untuk menemaninya malam ini, aku kabur!

11 februari, Bertemu sahabat lama

Tukang parkir: Bangun mas! bangun! sudah jam 5 pagi.
Badanku terasa pegal-pegal semua, ini pasti karena dinginnya malam menusuk badanku saat aku tidur didepan pintu distro dan hanya beralaskan kardus.

Hari ini aku akan menemui sahabat lamaku, setelah terakhir kami bertemu 9 bulan yang lalu saat mereka berkunjung ke jogja. Aku berjalan menuju Jl. Terusan Tubagus Ismail no.1 (RM. Saung Kuring).  Dan mereka sungguh menyambutku dengan senang hati dan canda tawa khas mereka, apalagi setelah mereka melihat penampilan baruku, dulu aku berambut panjang dan sekarang aku botak. 

Sebelumnya aku melewati tempat bimbingan belajar  dimana kami dikarantina disana selama 2 bulan untuk persiapan masuk PT, disanalah menjadi awal kami bertemu, mengenal, hingga akhirnya menyebut diri kami sebagai sahabat. Aku masih ingat dengan tingkah laku mereka, ketawa mereka, tangis mereka dan cara kita saling menghibur satu-dengan yang lain. Aku juga masih ingat saat kami tidur dalam satu ruangan, mendengarkan lagu Bondan-Kita Selamanya, sambil mengajariku bahasa sunda. Tidak akan pernah terlupakan. Mereka memang sahabat yang Spesial!


13-14 februari, 
Keliling Bandung- Ngopi di Dago atas- Ketan bakar
Lembang- Kebun teh- Sunrise- Keindahan ditiap tetesnya

Kami menyewa mobil, berangkat sore hari untuk ikut meramaikan kota bandung, menikmati secangkir kopi dan melaju diheningnya pagi untuk melihat sunrise di kebun teh Lembang. 
Ini hari terakhirku di Bandung dan bersama sahabatku-lah kunikmati keindahannya hingga tetes terakhir.



Sabtu, 29 Januari 2011

Dari Wonosobo Sampai Dieng

Hallo kawan!! 

Akhirnya aku bisa kembali membagikan pengalaman luar biasa dalam sebuah tulisan sederhana. Ini adalah perjalanan pertamaku di tahun 2011, dengan penampilan baru (gundul-gundul pacul-cul), semangat baru dan tentunya tempat yang baru pertama kali aku kunjungi. Ingin tulisan ini terukir dengan tinta hitam berjudul 'dari Sabang sampai Merauke' tapi karena masih hanya sekedar impian akibatnya Perjalan ke Dieng-lah yang menjadi pelampiasanku (hahaha).


Hari 1, 13 Januari

Perjalanan ditempuh selama  3 jam melalui jalan darat dari kota jogja hingga akhirnya menemukan alun-alun besar yang luar biasa bersih dan asri akan menyambut kedatanganmu di Wonosobo.

Wonosobo adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Wonosobo merupakan salah satu akses yang dapat kita lalui jika akan berkunjung ke dataran tinggi Dieng.  Saya tiba di Wonosobo ketika awan senja mulai memerah terbakar mentari sore, pertanda matahari akan segera kembali keperaduannya, aku akan bermalam disini, mengembalikan stamina dan bersiap menyambut hari esok.



Hari 2, 14 Januari
 
Kring.kring.kring alaram HP berbunyi. Heh botak.tak.tak bangun!! Suara para lebah berdengung mengusik tidurku. Bangun pagi ini berbeda seperti hari biasanya, udara pagi yang dingin membuatku wajib mengeluarkan energi ekstra untuk segera mengumpulkan kesadaranku. 



 Pendopo Alun-alun Wonosobo

Alun-alun Wonosobo

Segera kulangkahkan kaki menuju suatu tempat yang kemarin malam sempat memamerkan pesonanya. Ya! alun-alun yang terletak dipusat kota itulah tujuanku. Sekitar 20 menit akhirnya aku sampai juga di alun-alun Wonosobo, sebuah tempat yang sangat berbeda dibanding dengan alun-alun yang kulihat di kota-kota lainnya. Tidak ada pedagang kaki lima yang berjualan disana, tidak ada sampah yang sok menjadi penguasa, semuanya terusir oleh kehadiran pohon-pohon besar yang tersusun rapi dan sangat rindang, dan fasilitas olahraga yang baik. Luar Biasa!

Setelah dari alun-alun, perjalanan aku lanjutkan ke air terjun Sikarim yang terletak di desa Mlandi kecamatan Garung 20km sebelah utara kota Wonosobo. Akses menuju jalan ini sangat sulit kawan, kita akan melewati jalan berbatu dan kalian harus sangat ekstra behati-hati karena selain pemandangan indah, jurang juga akan menemani perjalanan kalian. Sebenarnya tempat wisata ini masih asing dan terbebas dari ulah tangan jahil manusia mungkin karena aksesnya yang sulit dan berada di 2000 meter diatas permukaan laut. Sulit menuliskan apa yang ada dan yang akan dirasakan ketika menyaksikan keindahan air terjun ini. Semoga foto yang diambil dari rekaman ingatan kameraku dapat membatu menggambarkan bagaimana indahnya air terjun ini.

Air Terjun Sikarim


Hari 3, 15 Januari 

Pagi ini omelan alarm HP dan dengungan ribuan lebah yang biasa membangunkanku dengan tidak hormat, tidak lagi menunjukkan taringnya, hal ini dikarenakan aku telah bangun terlebih dahulu sebelum mereka berkoar-koar. Hari ini memang lain dari hari sebelumnya, dengan mudah aku mengumpulkan kesadaranku meski harus bangun pagi sekali. Tepat pukul empat pagi aku telah bersiap untuk melakukan perjalanan ke Dieng. 

dari Wonosobo sampai Dieng, perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam. Berangkat pagi-pagi sekali dimaksudkan agar dapat melihat sunrise di menara pandang yang terletak sebelum memasuki kawasan Dieng, namun sayangnya cuaca pagi ini tidak mendukung sehingga tujuanku dialihkan menuju Telaga Menjer yang letaknya masih di wonosobo.


Telaga Menjer

Telaga Menjer adalah tempat wisata tersembunyi di wonosobo. Beruntunglah aku mempunyai kawan yang tinggal di wonosobo, karena selain merelakan rumahnya untuk dijadikan tempat singgahku, mereka juga menjadi pemandu wisata dadakan (hahaha). 

Mereka mengajakku ke tempat yang asing ditelinga, sebuah telaga yang dihimpit oleh tubuh besar perbukitan, diselimuti oleh hijaunya pepohanan, dipayungi oleh birunya awan, dan senantiasa diiringi orkestra kicauan burung-burung. 

Sungguh pemandangan yang sangat indah akan sebuah keharmonisan!


Perjalanan aku lanjutkan menuju Dataran Tinggi Dieng, sebuah tempat yang menjadi tujuan wisata jika bertamu ke wonosobo. Setelah melalui jalan yang berkelok-kelok, melewati gardu pandang, ditemani pemandangan yang menyejukkan mata akhirnya tiba juga di pintu gerbang dataran tinggi Dieng.

Suhu yang sangat dingin adalah hidangan pembuka jika kamu datang ke dieng, suhu di Dieng antara 10-15 derajat celcius, bahkan bisa mencapai 5 derajat celcius di malam hari. Ada beberapa tempat wisata di Dieng yang bisa dikunjungi, antara lain: Telaga Warna, kawah Sikidang, PT Geo Dipa Energi (Lapangan Panas Bumi di Dieng), Candi Hindhu, Dieng Plateau Theatre (DPT), Kebun Teh Tambi. 

Kawah Sikidang









Telaga Warna




Kebun Teh Tambi



Hari 4, 16 Januari

dari Dieng sampai Wonosobo, sebuah pengalam luar biasa! saatnya kembali ke Jogja yang tetap Istimewa!

Teman-teman Petroleum 2010 berfoto bersama di PT Geo Dipa Energi