Senin, 23 Januari 2012

Berlayar ke Klayar



22 Januari 2012  
 05:30 WIB ;


Pada sebuah kamar yang berdindingkan kaca pada salah satu sisinya, nampak dengan jelas bagaimana matahari bersinar hari ini, malu. Tidak lain karena, kami menangkap basah dia telat bangun. Mungkin karena cuaca sedang mendung hari ini, sedangkan kami bangun lebih cepat dari hari biasanya, karena hari ini kami akan Berlayar ke pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur. 

Jalur yang kami tempuh melalui Gunung Kidul, melewati wonosari, Pracimantoro, hingga sampailah di sisi selatan Pulau Jawa, pesisir Samudra Hindia.

Perjalanan menuju pantai klayar tidaklah mudah. jalan berliku, tebing dan jurang menjadi teman paling setia dalam perjalanan kami. 

Namun ada kisah unik yang kami temukan dalam perjalanan kami. 

Ini benar-benar baru pertama kali, menggelitik ingin tertawa, namun membuat rasa perih, ketika kami melihat ini:



Pernah mendengar berita, bahwa Indonesia meraih juara dua dunia dalam hal Buang Air Besar di Alam Terbuka ?

Baru-baru ini UNICEF melansir hasil survei memalukan itu, dimana Indonesia bersama India dan China adalah para juara dunia untuk buang air besar di alam terbuka.

Miriskan mengetahui hal tersebut ? Namun pada kenyataannya kami sungguh melihat jelas, sebuah papan bertulisakan "Ojo Ngising Sembarangan" atau "Daerah Kawasan BAB" dan bermacam himbauan serupa terpasang di bantang pohon tiap kilometernya, sepanjang jalan di pedesaan yang kami lalui sebelum tiba di pantai Klayar.




Saat wakil rakyat sibuk merenovasi ruang kicaunya lengkap dengan tempak duduk yang nyaman, di sisi lain masih ada rakyat Indonesia yang jangankan WC yang nyaman, punyapun belum tentu. 

Dan lagi-lagi saya hanya bisa berharap agar pemerintah lebih peka dengan hal ini. Tentu penyediaan air bersih dan sanitasi yang baik menjadi harapan sederhana warga di desa ini. Semoga.



Pantai Klayar : Pesona Estetika dan Nilai Sebuah Pantai Karst.




Empat jam perjalanan dari jogja hingga akhirnya kami tiba di tempat wisata alam yang super wouw!

Tanpa diberi aba-aba, sontak bersama kami berteriak kegirangan, sungguh pemndangan yang luar biasa indah. bahkan saya berani mengatakan, bahwa pantai Klayar adalah pantai terindah yang pernah saya jumpai di seluruh pulau Jawa. Panati Kuta Bali pun kalah!

Sungguh pemandangan yang menenangkan hati dan pikiran. Membuat perjalanan panjang melewati jalan pedesaan yang berbatu, belumpur tidak lagi menjadi arti. Lelah hilang entah kemana. Terbayar dengan apa yang kami lihat, satu dari sekian banyak mahakarya Sang Pencipta di Bumi Pertiwi, Indonesia.

Pantai Klayar sungguh pantai yang luar biasa indah, pasir pantainya putih, terbebas dari sampah, puluhan pohon kelapa tumbuh rapi di tepi pantai dan pantai ini terapit oleh tebing-tebing karst.

Konon pada salah satu tebingnya terdapat kars yang menyerupai patung sphinx di mesir. Karena penasaran kami menuju kesana, dan ini yang kami lihat :




Naik turunin alis, merem-melek, berpindah-pindah posisi berdiri untuk mencari sudut terbaik, dan ya! Kami masih bingung kenapa banyak orang mengatakan tebing ini seperti sphinx.

Bisa jadi, karena kami yang salah ambil sudut pandang atau imajinasi  kami yang kurang memaksakan. Iya memang sih kalau dipaksa-paksa ya bisa juga deh di bilang mirip kayak sphinx yang hanya saya lihat sebatas dari LCD 22 inch. 

Dari informasi yang saya dapat , sebenarnya ada fenomena unik lainnya di pantai Klayar selain tebing karst yang dengan ikhlas mau dinilang mirip  dengan sphinx, Fenomena tersebut adalah air laut yag keluar dari celah-celah batuan, kemudian air laut tersebut akan menyembur ke permukaan seperti air mancur, dengan ketinggian bisa mencapai 3 meter. Wouw banget kan?

Namun sayangnya saat kami kesana, air laut sedang pasang, sehingga berbahaya jika pengunjung hendak melihat fenomena unik tersebut. Semoga suatu saat nanti kami di ijinkan kembali, dan melihat yang belum sempat kami lihat.

Terlepas dari keunikan-keunikan yang ada, pantai Klayar seakan membuat keyakinan saya terhadap suatu teori semakin kuat "Semakin sulit jalan menuju tempat wisata maka semakin indah dan terawatlah tempat tersebut".

Dan akhir kata saya sangat menyarankan teman-teman berkunjung ke tempat ini, Pantai Klayar adalah tempat terbaik untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Lihatlah pesona negeri ini, berperilakulah yang baik dimanapun kita berada, dan rasakan bagaimana nikmatnya hidup di negeri ini.





My country is the world, and my religion is to do good. -Thomas Paine-

Kamis, 22 Desember 2011

MAP OF TORAJA LAND




Upacara Adat Pemakaman Tana Toraja

Upacara Adat Pemakaman Tana Toraja (26 Desember 2011-3 Januari 2012).

Lokasi: Tongkonan Layuk Pattan Ulusalu, Kecamatan Saluputti, Kabupaten Tana Toraja.

Susunan Acara:

26 Desember 2011 :  MEILAO TANDO
Mayat yg sudah di bungkus kain merah diturunkan dari rumah adat ke depan rumah.

27 Desember 2011 : MERRAMBU
Mayat dipindahkan dari teras (tando) untuk dihiasi dengan tempelan-tempelan kuning emas.


28 Desember 2011 : MA"PASONGLO
Mayat yang sudah di bungkus dengan kain merah dan dihiasi dibawa ke tempat acara pesta (pantunuon), orang-orang atau keluarga berjalan di bawah kain merah yang panjang.

29 Desember 2011 : Penerimaan Tamu
Tamu berdatangan sambil membawa kerbau dan babi beriringan dalam rombongan.



31 Desember - 1 Januar 2012 : Istirahat 


2 Januari 2012 : MA'GERE (Potong Kerbau)

3 Januari 2012 : PENGUBURAN





Note: 28-30 Desember, acara diselingi dengan adu kerbau dan juga MA"BADONG (membuat lingkaran sambil bernyanyi oleh orang yang berseragam). PUNCAK ACARA tanggal 28, 29, 30 Desember 2011.

Sumber: National Geographic Indonesia




Kamis, 15 September 2011

Green Canyon : si Hijau yang Menawan

10 September 2011;

Pertama, akan saya perkenalkan sahabat kampus yang kali ini menjadi teman perjalanan saya. 

Irvan Sudung, seorang laki-laki tangguh yang hampir separuh lebih perjalanan Pulang-Pergi setia menjadi supir. 

Ryan, dia ini manusia sejenis Jony blak-blakan, perpaduan serasi otak dan mulutnya-lah yang mengeluarkan ide-ide cemerlang yang menguntungkan tapi bikin jantung deg deg serr. 

Oki, dia adalah satu-satunya orang yang fasih berbicara sunda, oleh karena itu, dia menjadi orang terdepan ketika kami harus bebicara ini itu, melobi harga degan warga setempat. 

Boim, Josua, Danny. Rupa, tingkah laku dan banyolan mereka semacamlah degan Dono, Kasino, Indro. Tak lelah mereka bertingkah untuk sekedar mengibur kami selama perjalanan, dan Andre Damara menjadi sasaran empuk mereka. 

Syahed, ini manusia berwajah garang berhati sendu. 

Haikal, seorang laki-laki asal depok yang memploklamirkan dirinya akan setia selalu dengan Josua. 

Reza Kuncoro, mungkin karena dia satu-satunya manusia yang paling beriman diantara kami, alhasil dia selalu terlepas dari kekalahan dan tantangan tolol yang diciptakan oleh kami. 

Fakhri ini laki-laki bertubuh tinggi, ya nggak jauh bedalah ya dengan saya. 

Dan ini dia, peserta terakhir, yang menyetujui ikut dengan kami satu jam sebelum keberangkatan. Namanya Anti. "Terberkatilah wahai kau Wanita diantara para Lelaki". Yaa! Anti adalah satu-satunya wanita diantara kami. Kami cukup salutlah dengan dia, nggak merepotkan dan nggak menye-menye, dialah yang membantu menyiapkan makanan bagi kami, ketika kami saling mengumpat tatkala kentut semena-mena Josua, dia masih saja melempar senyum. Mungkin antara sabar dan tak tau harus berbuat apa kali ya.

Kami bertiga belas berangkat bersama menuju Pangandaran, Jawa Barat pukul 10.00. Dengan mobil sewaan travello berwarna silver, awalnya kami berangkat dengan hati senang riang gembira, hingga akhirnya mobil travello ini sedikit membuat jantung berdebar. Jadi, saat kami berada di Purworejo, secara tiba-tiba bagasi mobil terbuka, alhasil tas kami berjatuhan di jalan, padahal saat itu kami sedang melaju dengan kecepatan cukup tinggi, untung saja di belakang tidak ada mobil dan tas-tas kami tidak terlindas. Setelah kejadian itu sialnya bagasi mobil tidak dapat terkunci lagi, beberapa kali terbuka, sebelum akhirnya kami mengikatnya dengan tali tambang.

Akhirnya, setelah pantat sudah mulai cenat cenut, badan cekat cekot, dan mata merem melek, kami tiba juga di rumah tempat kami akan bermalam. Kami menyewa rumah penduduk degan harga cukup terjangkau, tepat di depan pantai Batu Karas.

Setelah menyeragamkan posisi tidur, tak lama kemudian serentaklah kami bermain di pulau kapuk, dan tak sabar untuk esok hari.



11 September 2011;

Tepat pukul 06.00 kami sudah terbangun, eh kami, salah salah, lebih tepatnya beberapa diantara kami, tapi ya tidak terlalu sulitlah untuk membangunkan berapa lagi yang masih tidur, tak lain tak bukan karena hari ini kami sehati untuk bersemangat menjajah Pangandaran dari pagi hingga mengantar matahari kembali ke peraduannya.

Pokoknya kalau si Danny sudah selesai, berarti itu tanda bahwa kami semua sudah siap untuk berangkat, dan berangkaattt.

Tujuan pertama kami adalah Green Canyon, nama aslinya sih Cukang Taneuh atau Jembatan Tanah. Tapi si bule bernama Bill, seorang peneliti dari Amerika datang dan menilai tempat ini serupa dengan Grand Canyon, sebuah tempat yang katanya luar biasa indah di Amerika dengan tebing-tebing yang mengelilinginya. Hanya saja di Grand Canyon pemandangan alamnya gersang, sedangkan di Cukang Taneuh memiliki pemandangan yang hijau. Sehingga pada tahun 1980 Cukang Taneuh diberi nama Green Canyon dan lebih populer hingga sekarang.

Dan benar saja, ketika kami sampai disana, menaiki kapal sewaan untuk menjelajahi aliran sungai yang tenang selama 30 menit, kami di suguhi pemandangan super luar biasa. Air sungai yang hijau dengan pepohonan di pinggir sungai, hembusan semilir angin, yang kesemuanya seakan menyambut kami dan menghilangkan rasa lelah dari perjalanan panjang kemarin. 



Terbayar lunas! Terpuaskan!

Kapal kami parkir di sebuah goa tempat kami akan melakukan body rafting. Memakai life jacket, menyeburkan diri ke air dan membiarkan tubuh terbawa arus sungai. Sungguh keindahan yang tak terbantahkan, tebing goa yg menjulang tinggi, stalagtit yang menghiasi dinding goa, dan butiran-butiran air nampak dengan jelas jatuh dari atap goa.

Goa-Green Canyon
Kami berhenti di sebuah tebing setinggi lima meter namanya Batu Payung, menaikinya dan terjun bebas. Woouw, saat itu juga beban pikiran, dan segala macam aktivitas yang membuat otak terbebani seakan lepas, menghilang entah kemana. Sungguh kami sangat menikmati situasi ini.

Lanjut lagi menaiki tebing yang sangat unik, karena terdapat sebuah penampungan air yang tidak bisa habis dan tidak tau airnya berasal dari mana, namanya Pemandian Putri, konon jika kita membasuh muka dengan air ini, maka akan mudah mendapatkan jodoh, dan bisa ditebakkan apa yang langsung kami lakukan, dan siapa yang paling bersemangat? *lirikboim :)

Tidak terasa satu jam kami bermain di dalam goa ini, menikmati keindahan dan keunikan akan mahakaryaNya. Dengan perasaan yang terpuaskan kami kembali menaiki kapal untuk kembali ke starting point.

Perut sudah mulai keroncongan, tak jauh dari Grenn Canyon kami berhenti untuk makan di sebuah rumah makan seafood yang sangat saya rekomendasikan, namanya Tirta Bahari. Tempatnya luas dengan pemandangan hijaunya pepohonan dan aliran sungai. Yang terpenting makanan yang enak dan terjangkau. Yaammy!



Kemana kita setelah makan?
  
Hitam Putih

Menempuh perjalanan melewati pemukiman penduduk dengan jalanan yang berliku dan rusak menuju pantai Pangandaran. Sepertinya hari ini keberuntungan berpihak kepada kami, sebelum memasuki kawasan pantai, kami mendapati kerumunan manusia di sebuah lapangan, ternyata saat itu sedang dilangsungkan festival adu domba. Diadunya dua domba berbadan besar dengan tanduk yang kokoh. Sedikit ngilu dan kasian juga sih lihat domba-domba itu, tapi seru banget lho! 

Tidak terlalu lama kami menyaksikan tontonan menarik itu, dan beberapa menit kemudian kami tiba di kawasan wisata pantai Pangandaran. Pantai Pangandaran sendiri menurutku tidak terlalu menarik, penataannya kurang rapi dan banyak sampah yang sok berkuasa, tapi kamu akan menemukan pemandangan yang indah jika kamu berjalan menuju pantai Pasir Putih yang menjadi satu dengan cagar alam. 

Pantai Pasir Putih-Pangandaran

Setelah dari pantai pangandaran, kami berangkat menuju pantai Batu Karas. Pantai Batu Karas sendiri lebih sepi di banding pantai Pangandaran, banyak rumah makan di pinggir pantai, toko yang menjual alat surfing, pantai ini sangat diminati para surfer  karena ombaknya yang besar.

Dari pagi hingga malam, kami menjelajahi Pangandaran, Green Canyon yang menawan, adu domba yang menegangkan, pantai Pangandaran dan pantai Pasir Putih yang menjadi favorit wisatawan, hingga pantai Batu Karas yang menurut saya seperti Bali mini di Pangandaran, sungguh perjalanan yang menyenangkan. Memberikan sejuta pengalaman yang tentunya akan kami bagikan ke manusia lain. Besok saatnnya kami kembali ke Jogja, kembali ke aktifitas sehari-hari kami, berat rasanya meninggalkan Pangandaran, terlebih meninggalkan keluarga bapak Upin dan ibu Cucu yang sangat ramah terhadap kami. Semoga di lain waktu kami dapat kembali ke tempat ini. 



12 September 2011;

Seperti kata Gie, "Bagaimana bisa kamu bersifat nasionalis jika kamu belum melihat keindahan Indonesia dengan mata kepalamu sendiri". Karenanya, bangunlah dari mimpimu dan wujudkan keingananmu untuk menjelajahi negeri ini. 




lihat kumpulan foto lain kami di: Green Canyon, September 2011

Coretan sederhana ini aku persembahkan, untuk:
Sahabat perjalanan yang super oke, Orang Tua yang super berarti, Negeri yang super dahsyat, dan Tuhan Yesus yang Maha Kuasa.

Jumat, 02 September 2011

Indonesia di Mata Djamal (solo backpacker asal maroko)

Begini ceritanya;

Jadi setelah melakukan ritual tak biasa dan terbilang aneh, yaitu bangun jam 3.00 dan langsung mandi pada suhu 4 derajat celcius, jeep berwarna hijau telah menjemputku untuk berangkat ke Penanjakkan dan Kawah Gunung Bromo.


Sungguh perasaan luar biasa ketika menikmati dua mahakarya Tuhan dari Penanjakkan. Cahaya matahari yang beranjak dari peraduannya, serta indahnya pesona Gunung Bromo saat itu.

Dan sebuah pertemuan dengan seorang solo backpacker asal maroko yang menetap di belgia menambah pengalamanku disana, hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan bersama ke jogja.


Seharusnya kami berada dalam satu elf yang sama menuju jogja. Tapi entah kenapa mobil yang mengantar djamal dari desa cemoro lawang ke probolinggo mengalami ketelambatan berjam-jam, alhasil aku harus berangkat terlebih dulu ke jogja.


Jogja;

Selama di indonesia Djamal belum menganti Hand Phonenya dengan nomor indonesia, jadi aku mengirim email ke dia, agar saat dia tiba di jogja segera mengirim alamat hostelnya, sehingga aku dapat menemuinya.

Semalaman aku menunggu, tapi tidak ada email balasan dari djamal. Hingga akhirnya malam berikutnya djamal baru membalas emailku. Ternyata dia tiba pukul 01.00, padahal aku sampai di jogja pukul 21.00, dan dia kelelahan hingga tertidur seharian, alhasil dia baru sempat membalas emailku pada malam harinya.


Djamal menginap di daerah Prawirotaman. Pilihan yang tepat dengan banyak hostel murah. Dan aku baru sadar, 19 tahun aku tinggal di jogja, dan baru pertama kali aku masuk kawasan ini. Disambut dengan gapura megah bertuliskan PRAWIROTAMAN dengan aksara jawa dibawah tulisannya, dan terdapat semcama papan pengumuman yang memuat puluhan nama-nama hostel atau homestay yang berada di kawasan ini. Belum lagi saat melihat ratusan bule-bule seliweran dengan tas ransel yang melekat di punggungnya, sebuah pemandangan yang unik.


Aku menuju hostel tempat dimana djamal menginap, namanya delta homestay. Semalam kami sepakat untuk bertemu pukul 10.00. Akupun sudah tiba di hostel jam 09.30, menunggunya di ruang tunggu dan beberapa menit kemudian dia menemuiku. Dan tau kah kamu apa kata pertama yang keluar dari mulut djamal?


Akhirnya kita bertemu lagi george dan aku tidak menyangka kamu datang tepat waktu, baru kali pertama selama di indonesia, aku menemui orang yang bisa datang tepat waktu.


Ini bukan sebuah pujian buatku, yang aku yakini ini merupakan sindiran untuk negeriku, aku hanya bisa tersenyum dan tertawa.


Tepat pukul 10.00 kami berangkat menuju tujuan utama kami. Candi Borobudur.


Candi Budha terbesar di Indonesia ini di bangun pada Wangsa Syailendra, terletak di magelang, jawa tengah. Kurang lebih dua jam untuk mencapai lokasi tujuan. Sebenarnya Candi Borobudur juga menawarkan keindahan tersendiri bagi mereka pecinta wisata sunrise. Ada banyak penginapan disekitar Candi Borobudur jika kamu ingin menyempatkan untuk melihat sunrise dan jala-jalan mengelilingi pedesaan sekitar Candi Borobudur.



Pukul 12.00 WIB 
(Waktu Indonesia Bagian Brobudur);

Kami tiba di Candi Borobudur. Dan matahari bersinar sangat terik, aku mengambil payung di bagasi mobil, tujuannya untuk melindungi kepala kami dari congkaknya matahari saat itu. Tapi apa kata djamal? 


Kamu pakai saja george, kamu jauh lebih membutuhkan, aku sangat menikmati panas seperti ini.

Sial sial sial tahukah kalian suhu saat itu berapa derajat celcicius? 39 derajat celcius saudara-saudara setanah air! Dengan kepala mulai pusing, mata memerah, kulit menghitam, keringat mengucur, namun gengsi lebih dominan akhirnya aku memutuskan tidak memakai payung, ya masak aku kalah sih sama manusia yang sebagian hidupnya tinggal di suhu hingga minus 4 derajat celcius, tidak mengenal suhu melebihi 15 derajat ini, belum lagi dia sedang menjalani ibadah puasa lho.



Oke saatnya menjelajahi mahakarya nenek moyangku, mengenalkan ke djamal bagaimana hebatnya bangsaku "dulu".

Karena djamal adalah turis asing, jadi kami masuk ke ruangan khusus pembelian tiket untuk wisatawan mancanegara. Harga tiket untuk djamal 120.000,- harga tiket untukku 10.000,- setelah mendapatkan tiket, djamal diperbolehkan untuk mengambil soft drink dan cemilan. Dalam ruangan yang sama, dilayani dengan orang yang sama, dan hanya djamal yang mendapat penawaran untuk mendapatkan minuman dan makanan secara cuma-cuma, saat itu juga kami saling memandang heran, tanpa diberi aba-aba dua kejadian itu membawa kami tertawa bersama. Tebak sendiri kenapa kami tertawa ya :) Dengan sopan djamal kemudian menolak penawaran itu, lagipula saat itu djamal juga sedang berpuasa.



Kalau aku tidak berpuasa aku tetap tidak akan menerima penawaran itu, tapi justru aku akan marah ke pelayan itu george.


Saat kami kesana, ternyata Candi Borobudur masih dalam tahap renovasi akibat debu vulkanik merapi, jadi pada tingkat 8-10 ditutup hingga September 2011. Yaaa sayang sekali aku tidak bisa mempraktekkan ke djamal sebuah mitos disini, mitos yang paling terkenal adalah Kunto Bimo, yaitu arca dalam stupa yang konon dapat mengabulkan permintaan. Stupa yang dimaksud adalah stupa sebelah kanan pada teras lingkaran yang pertama. Menurut cerita bila berhasil menyentuh bagian tertentu dari arca tersebut sambil mendoakan permohonan, maka keinginan kita akan terkabul. Bagian yang disentuh adalah posisi tangan atau mudra untuk pria, dan telapak kaki untuk wanita.

Saat perjalanan turun sembari berfoto ria dengan latar agungnya Candi Borobudur. Aku melayangkan sebuah pertanyaan ke Djamal.

Djamal apa yang kamu kenal dari negeriku ini selain pariwisatanya?

Dengan senyumnya djamal menjawab: 

Korupsi!

Jlep!

 16.00;

Kami tiba di hostel, sebenarnya besok kami aka kembali melakukan perjalanan menjelajahi kota jogja, bahkan rencana djamal akan menginap di rumahku, tapi sore itu djamal mendapat kabar bahwa kawannya yang kebetulan bertemu saat di jogja, sedang sakit karena menelan sesuatu saat makan, karenanya djamal mengubah agendanya, dia dan kawannya akan berangkat ke surabaya besok (karena harga tiket pesawat dari surabaya jauh lebih murah), dari surabaya djamal akan melanjutkan perjalanan ke tarakan untuk kemudian jalan darat ke Kuala Lumpur dan kawannya akan langsung terbang kembali ke belgia.

Dimataku djamal adalah seorang bule yang berbeda dengan bule-bule pada umumnya, dia adalah seorang yang sangat baik hati dan bersahabat. Dia mengajarkan banyak hal dalam pertemuan kami yang singkat, seorang muslim yang taat dan tidak menganggap perbedaan adalah sebuah jarak. Pengalaman luar biasa dalam kehidupanku, bersamanya lah aku belajar mentertawakan dan melihat sisi lain bagaimana "lucunya" negeriku.
 

Aku sadar semua yang aku banggakan dari negeriku hanyalah titipan dari Tuhan dan yang membuat  negeriku harum hanyalah karena peninggalan nenek moyangku, semua yang indah adalah hasil karya "dulu". "sekarang"? kami hanya sekedar: MENIKMATI dan MERUSAK.



Negaramu itu miskin, tapi punya hati yang kaya. Hal ini tampak dari keramahan kalian dan ketika kalian mudah sekali untuk tersenyum. Aku tidak membayangkan jika negaramu yang miskin ini, justru mempunyai sikap yang induvidualisme dan tidak ramah seperti negaraku. -Djamal-



Klik : Kumpulan Foto dalam kisah bersama djamal


-Merci, Djamal-


Kamis, 25 Agustus 2011

Bromo Dalam Kisah

19 Agustus 2011;

Jam 5.30 aku sudah terbangun dari tidur mempersiapkan diri untuk beberapa jam kemudian berangkat menuju jasa antar jemput yang akan membawa-ku ke bromo. Seharusnya sih jam 7.30 sudah berangkat, tapi bukan Indonesia kan kalau belum pakai acara telat, dan telatnya nggak nanggung-nanggung jam 9.00 baru berangkat menuju bromo.

Nah di dalam kendaraan elf yang melaju dengan kecepatan rata-rata 80km/jam ke arah timur Pulau Jawa ini, aku kecuali pak supir adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di dalam kabin, wuuu terpaksa nih keluarin keahlian-ku dalam berbahasa inggris. Preettt!

Didalam kabin, aku memposisikan duduk di paling depan dekat pak supir bersama ken/kenyz/kenzy/kenzin/kenzo ah mboh ah, bingung gimana nulis nama kompeni yang satu ini,  intinya namanya berkutat diantara huruf-huruf itu.


20.00 WIB
(Waktu Indonesia Bagian Bromo);

Tiba di Probolinggo. Kemudian kami diturunkan di sebuah kantor jasa penyewaan jeep, sebenarnya aku tidak berkeinginan menyewa jeep disini, karena harganya lebih mahal di bandingkan jika menyewa di kantor khusus penyewaan jeep yang berada di desa cemoro lawang. Lebih murah lagi jika carter jeep langsung untuk berenam. Tapi apa boleh buat karena ternyata aku juga satu-satunya wisatawan asal Indonesia di bromo, jadi ya terpaksa bergabung dengan mereka (dibaca: bule-bule). 

Saran dan Tip: Jika kamu datang berenam maka carter saja jeep langsung di desa cemoro lawang, dari segi harga hal ini jauh lebih murah, karena di bromo diperlakukan perbedaan harga antara wisatawan lokal dengan wisatawan mancanegara. Harga jeep untuk wisatawan lokal dengan dua tempat yang akan dikunjungi seharga 300 ribu, dibagi saja dengan enam orang kawanmu. 


Desa Cemoro Lawang; 

Setelah mendapat penjelasan kemana saja tempat yang akan dikunjungi saat di bromo nanti, kami kembali melanjutkan perjalanan selama satu jam ke desa cemoro lawang. Desa cemoro lawang adalah pintu gerbang mendapatkan kitab suci eh salah maksudnya pintu gerbang untuk masuk kawasan bromo. Suhu disana, astaga ternyata nggak terlalu dingin ah, cuma 4 derajat celcius aja kok. 

Setelah meletakkan ransel di kamar,  aku berjalan untuk mencari warung makan. Di warung makan berukuran imut ini aku berbincang-bincang dengan penduduk setempat. Ya! Momen seperti ini wajib hukumnya dalam setiap perjalanan yang aku lakukan. Budaya, bahasa dan logat bicara yang unik tentu menjadi pengalaman tersendiri yang tidak akan di dapatkan di tempat lain. Bahasa Tengger adalah bahasa percakapan sehari-hari mereka dengan mayoritas memeluk agama Hindhu. 

Saran dan Tip: Jangan lupa membawa senter karena disana sangat minim penerangan. Setelah berbicang-bincang dengan penduduk lokal, aku baru tahu, bahwa sebenarnya untuk mengelilingi kawasan wisata bromo ada tiga acara yaitu dengan menaiki jeep, tracking, dan menyewa ojek motor. Untuk ojek motor biayanya 150 ribu per orang untuk tiga tempat (penanjakkan, kawah bromo, bukit teletubies). 

Sesuai perjanjian yang disepakati bersama antara aku, si bule-bule, dan si punya jeep, kami akan di jemput di penginapan masing-masing pada jam 4.30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo) untuk berangkat melihat sunrise di penanjakkan dan kawah bromo. 


20 Agustus 2011; 

Kukuruyuk aja belum berkumandang, alarm juga belum berdering, dan ini semua gara-gara mimpi di tinggal jeep karena, aku adalah turis lokal, biasalah perlakuan yg berbeda. oooohh mimpi yang sepertinya memang fakta dan kalian rasakan jugakan di beberapa tempat wisata di Indonesia. Akibatnya aku terbangun jam 3.00 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo), busett!! 


Penanjakkan dan Kawah Bromo; 

Nggak tau kemasukkan setan apa setelah bangun aku langsung mandi. Dan alhasil badan segar campur kedinginan sebuah perpaduan yang aneh! Ya.. ya.. ya.. sepertinya saat itu rajin sama pekok memang beda dikit. Jam 4.30 WIB (Waktu Indonesia Bagian Bromo) jeep berwarna hijau sudah menjemput di penginapan-ku dan perjalanan menuju Penanjakkan memakan waktu sekitar lima belas menit. 

Sesampainya di penanjakkan kami para wisatawan mendapatkan semacam jackpot ternyata kami tidak diperbolehkan naik ke Penanjakkan I (dibaca: satu) dimana penanjakkan I merupakan lokasi terindah melihat sunrise karena erupsi gunung bromo beberapa bulan yang lalu mengakibatkan lokasi tersebut tertutup debu vulkanik yang sangat tebal hingga menyebabkan rapuhnya penopang yang tentunya sangat berbahaya bagi pengunjung. 

Okay walaupun sangat menyesal, tapi tidak terlalu aku permasalahkan karena safety adalah yang utama kan? 

Dan aku berjalan sekitar lima belas menit untuk naik ke camping ground-Penanjakkan II (dibaca: dua). Meski tidak dapat melihat terbitnya matahari secara bulat-bulat,  tapi tetap saja lokasi ini menawarkan keindahan tersendiri. Awalnya aku tidak melihat apapun kecuali ratusan lampu rumah penduduk dari kejauhan, tetapi beberapa menit kemudian cahaya berwarna orange kekuning-kuningan mencoret birunya langit, perpaduan yang sangat harmonis, menyejukkan mata, menenangkan hati dan pikiran, perlahan tapi pasti cahaya terus memancar di balik perbukitan yang hijau. Sungguh lukisan maha dahsyat dari Sang Pencipta. 


Akhirnya Dia Menampakkan Pesonannya; 

Belum selesai terpana dengan indahnya cahaya itu, gunung bromo mulai menampakkan pesonannya. Luar Biasa! Pemandangan gunung bromo dari sini sangat eksotis, fantastis dan bombastis. Serentak wisatawan yang melihat keindahan ini terpana, terkagum-kagum, dan langsung sibuk berfoto ria dengan keluarga, kerabat, kekasih, calon kekasih, calon mertua, calon lurah. 

Ini utuk kebanyak kalinya aku katakan bahwa aku adalah satu-satunya wisatawan asal Indonesia di lokasi penanjakkan ini, ketika yang lain sibuk ingin difoto dengan background gunung bromo yang sangat woouw itu,  aku justru sibuk mencari bule yang nganggur. Dan akhirnya aku bertemu dengan sesama solo backpacker yang juga senasib dengan-ku. Namanya Djamal solo backpacker asal Maroko yang menetap di Belgia. Berawal dari saling memotretkan akhirnya kami berkenalan dan menjadi teman selama disana hingga sekarang dan beraharap hingga selamanya. Oke, di coretan lain akan aku ceritakan pengalaman-ku dengan Djamal, seorang muslim taat yang sangat ramah dan baik hati. 


Kawah Gunung Bromo; 

Setelah memaksakan diri untuk puas menikmati keindahan gunung bromo, aku kembali turun ke lokasi parkir jeep dan melanjutkan perjalanan ke lokasi selanjutnya. Disambut padang pasir yang sangat luas seperti tak berujung, jeep kami berhenti untuk parkir. Kemudian kami harus berjalan sekitar 45 menit, menaiki 200 anak tangga untuk sampai ke bibir sexy kawah bromo. Tetapi karena aku ingin mencoba sensansi yang berbeda maka aku putuskan untuk menyewa kuda dengan tarif 100 ribu (berangkat dan pulang ke lokasi parkir jeep). 

Saran dan Tip: Saat kesana debu vulkanik akibat erupsi memang sangat tebal, karenanya jangan lupa membawa masker karena jika tidak memakai, jangan terkejut jika warna upilmu tidak seindah dulu. Ada beberapa cara ke kawah yaitu PP naik kuda, perginya atau pulangnya saja naik kuda, atau berjalan kaki, intinya apapun caranya jangan lupa teh botol sosro minumnya. 

Melihat lansekap kawah gunung bromo dengan hamparan lautan berpasirnya seakan membuat aku berhayal berada di padang gurun. Satu kata untuk menggambarkan kisah perjalanan-ku di gunung bromo: AMAZING!!! 

Saran dan Tip: Saat berbincang-bincang dengan penduduk setempat, aku mendapat informasi bahwa setiap satu tahun sekali terdapat upacara adat Kasoda di area kawah gunung bromo dengan menggunakan perhitungan tanggalan jawa. Kasoda tahun ini jatuh pada tanggal 15-16 agustus. Pada acara ini bromo akan sangat ramai oleh wisatawan dan juga terdapat pertandingan balap kuda. Ada juga acara keagamaan umat muslim pada tanggal 31 agustus 2011 saat hari raya Idul Fitri, acara keagamaan umat Hindhu yaitu Gulungan dan Kuningan. 


Selamat menjelajahi dan menikmati pesona Bumi Pertiwi. Jangan lupa untuk membagikan kisahmu ke semua orang agar mereka tahu bagaimana indahnya Negeri ini.



Bangganya Jadi Orang INDONESIA! 
Selamat Ulang Tahun yang Ke-66 ya . . .



Gunung Bromo dari Camping Ground




Pura yang Berada di Kawah Gunung Bromo






Klik : Kumpulan Foto di Bromo

Kamis, 18 Agustus 2011

Backpacker: Sang Petualang Dunia Sejati

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki surat ijin memasuki dunia global. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.

Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?

Saya katakan; saya tidak tahu.

Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint atau kendala. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya. Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
 


The Next Convergence


Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu Tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat.

Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

 

Rhenald Kasali – Guru Besar Universitas Indonesia