Kamis, 28 September 2017

Giyanti Coffee & Roastery

Paling mudah ya naik KRL turun di stasiun Cikini dilanjut naik bajaj atau ojek ke jalan Surabaya, Giyanti Coffee & Roastery berada di kanan jalan, persis depan deretan penjual barang-barang antik.  Saya sudah lama pingin ke tempat ini, teman-teman banyak yang saranin mampir kalau lagi di Cikini, sayangnya warung kopi yang instagrammable ini hanya beroperasi sampai jam 17:30 jadi sulit banget nemuin waktu yang pas buat kesana. Tapi, akhirnya hari ini saya bisa juga mampir ke tempat ini, setelah berjalan melewati lorong kecil di pojokkan bangunan ini, seorang waitress menyambut saya dengan sangat adem, "Untuk berapa orang mas ?" "Satu saja mbak." Balasku sambil mengangkat jari telunjuk. 

Jalan Surabaya No.20 Menteng

Desain bangunan Giyanti beruang-ruang, bagian belakang ruangannya ber-ac dengan beberapa kursi didalamnya adalah tempat Barista memainkan machine espressonya, ruang tengah tempat para penikmat kopi menyeruput kopi sambil ngudut, sedangkan bagian depan, bagian yang cukup luas, berlantai dua, dengan arsitektur cantik dan penuh warna adalah tempat terbaik buat mereka yang ingin menikmati kopi bersama teman atau pasangan. Saya memilih posisi duduk di dekat bar menyeruput cappuccino sambil menikmati suara gemuruh mesin La Mazarcco dan penggilingnya. 


Slurp ... 

Kopinya pas. Enak, ah sayang ! Tugas kantor saat itu kok ya bisa-bisanya buat saya nggak tanya-tanya soal biji kopi apa yang dipakai, nyesel saya. Tapi serius kopinya memang mantap, bitternya itu terasa banget disruputan awal, tapi nggak ninggal lama. Penasaran dengan ruang lain dari bangunan ini saya pindah ke bagian depan, yang sebelumnya sudah saya sebutin memiliki desain yang cantik dan berwarna itu, instagrammable kalau kata kid jaman now. Dinding dindingnya ramai dengan quote, dan lukisan yang art sekali. Kalau soal harga relatif sih ya, segelas cappuccino dibandrol 44 ribu + dua jam free wifi. Secara keseluruhan selain kopinya memang mantap tempat ini nyaman, pecahayaannya juga bagus, hanya saja kenapa harus dipasang kipas angin ya kalau sudah ada air conditioner ? sama-sama dinyalakan pula :) itu aja sih hal kecil yang mungkin membuat saya cukup terganggu karena, angin dari kipas itu nggak enak e, ganggu banget, bikin masuk angin #wk. kecuali kalau smoking area ya... 


Dan, terakhir ijinkan saya menyimpulkan ya : Cari tempat nongkrong sama teman-teman ? Kalau belum pernah kesini, Giyanti bisa jadi pilihan tepat, dijamin bikin kalian happy. Giyanti pas banget buat mereka yang pingin ngerjain tugas kantor atau kuliah, dijamin betah. Pas buat mereka yang pingin nyruput kopi kualitas baik, dijamin puas.


Rabu, 27 September 2017

The New Chapter Begins

"Maaf mas, aku mau mengajukan pengunduran diri..."

Iya, aku resign, dari pekerjaan yang sudah dua tahun ini ku tekuni dengan senang hati dan semangat. Tidak pernah ku mengeluh tiap kali harus berangkat ke lapangan, apalagi soal gaji. aku sangat cinta dengan pekerjaanku sebagai field engineer di industri minyak dan gas alam. Cita cita yang ku impikan sejak duduk di bangku menengah atas dan ku persiapkan selama hampir 4,5 tahun di perguruan tinggi, hingga dimulailah perjalanan karirku pada tanggal 21 Oktober 2015 di PT Nesitor Indonesia. 

Tahun pertama di Nesitor memang berjalan cukup berat, berat karena ternyata apa yang aku kerjakan diluar ekspetasiku, aku membayangkan seorang lulusan teknik perminyakan dengan coverall yang sudah barang pasti kebesaran di badanku, sepatu safety dan kaca mata hitam melakukan pekerjaan "layaknya" seorang engineer, mengoperasikan alat alat canggih, menganalisa data, ikut dalam rapat untuk sesekali didengar pendapatnya. Sayangnya tidak, aku mencuci besi karat, membersihkan, mencat ulang pritilan pritilan separator tua, manifold, oil tank bekas kejayaan masa lalu. "Dulu kita pernah jaya di Papua." begitu kata mereka.

Bisnis emas hitam memang sedang lesu saat saya lulus bahkan hingga saat ini dan entah sampai kapan, amerika sebagai konsumen terbesar di dunia berhasil menciptakan metode untuk mengangkat minyak dari lapisan shale, lapisan yang selama ini diabaikan karena mustahil mengebor batuan yang memiliki tingkat permeabilitas yang kecil, artinya batuan ini tidak memiliki kemampuan mengalirkan fluida minyak. Dan amerika sebagai salah satu negara dengan candangan shale oil terbesar di dunia berhasil menciptakan alat untuk memproduksi minyak dari lapisan tersebut. Sehingga melimpahlah cadangan minyak mereka yang membuat harga minyak dunia pun anjlok.

Jadi, bolehlah kalau dibilang aku : Beruntung. Karenanya, aku mencoba menikmati pekerjaanku, lagian sedang masa training, pikirku saat itu, mungkin setelahnya bakal beda cerita. Enam bulan masa training berakhir, dari helm hijau berganti ke helm biru, meski aku merasa sudah siap jika harus ditugaskan ke lapangan tapi ternyata kesempatan itu tak urung datang, beberapa alasan : Salah satunya bahwa klien kami tidak menerima engineer yang belum berpengalaman, alasan itu benar benar membuat down, simpelnya bagaimana bisa punya pengalaman kalau bahkan kesempatannya pun nggak ada. Keadaan seperti itu yang akhirnya membuatku sakit, dokter mendiagnosa terkena penyakit liver, penyakit hati yang penyebab utamanya ternyata tidak hanya dari makanan yang kurang bersih atau kecapekan, tapi  juga disebabkan karena pikiran, ngedumel dan ngeluh. Dua minggu aku berbaring di Rumah Sakit Siloam Karawaci. Setelah sembuh, aku sadar betul bahwa aku harus berdamai dengan pekerjaanku saat itu, meski tidak sesuai dengan harapan, aku harus setia berdoa dan sabar.

Februari 2017, hampir satu setengah tahun menunggu, akhirnya aku dapat kabar gembira, selain kulit manggis kini ada ekstraknya, aku diajukan untuk mengikuti assessment, syarat awal seorang field engineer dibolehkan atau tidak berangkat ke lapangan. Seorang user mewawancarai dan mengetes kemampuan penguasaan alat yang akan aku operasikan yaitu EMR - Electronic Memory Recorder, tidak bermaksud sombong, tapi rasanya saat itu aku berhasil menjawab semua pertanyaan user dengan baik, aku berhasil.

Diawal bulan maret, aku berangkat ke lapangan untuk pertama kalinya, senang sekali rasanya dan bersyukur karena berhasil menjalankan tugas pertamaku dengan lancar. Terimakasih Tuhan. Sejak itu aku mulai dipercaya untuk kembali berangkat ke lapangan, kira-kira sudah lima kali aku naik ke lapangan terhitung hingga detik ini. Tentu yang paling berkesan adalah ketika mendapat akomodasi di kapal supply, memang tidak selamanya akomodasi di offshore itu enak, tidak seperti di station atau di kapal besar milik perusahaan singapura yang super nyaman dengan fasilitas kelas satu, makanan lengkap dan enak banget, kokinya pun khusus. Di kapal supply, anak buah kapal atau abk bisa jadi koki hingga teknisi, nggak ada koki khusus, semuanya multi tasking. Kalu cuaca lagi buruk, ombak tiga meter aja bisa bikin tumbang, "mabuk mas Guling ? nenek moyang pelaut kok mabuk laut." kata mas Sakti, abk kapal seacove pearl. "Nenek moyang saya peternak babi mas !" Kalau sudah begitu saya cuma bisa tiduran sambil putar album rohani kencang kencang.

Bahagia sekali rasanya kalau mengenang saat-saat bekerja di lapangan, pekerjaan dan rekan kerja menjadi hal yang akan selalu aku ingat dan rindukan, ya, tidak lama lagi aku akan meninggalkan pekerjaanku, memang berat tapi ini adalah pilihan yang sudah aku pertimbangkan matang-matang. Masalah ketidakjelasan field break menjadi alasan utama. Aku menyadari betul bahwa ini adalah risiko bekerja di perusahaan jasa / service, tapi aku rasa waktu field break juga tidak bisa dikesampingkan, karena itu adalah kesempatan bagi kami, pekerja lapangan bertemu dengan keluarga di rumah. Masalahnya ketika sudah berbulan-bulan tidak ada job di lapangan maka aku tidak ada kesempatan untuk pulang karena, tidak ada tugas ke lapangan berarti tidak ada field break, begitu.

Dan sistem itu sukses melunturkan semangatku, menunggu di kantor tiap hari tanpa melakukan pekerjaan apapun, literary tidak melakukan apapun, datang - tidur - makan - tidur - pulang, membuat aku malu dengan diriku sendiri, aku merasa bersalah dengan perusahaanku, aku datang ke workshop, tidak bekerja tapi tetap dibayar ! Andaikan aku dapat ijin pulang disaat tidak ada tugas di lapangan dan dengan catatan siap dipanggil kapanpun jika dibutuhkan, tentu aku bakal senang sekali dan betah bekerja di Nesitor. Tapi sayang, suaraku tidak cukup keras, aku kalah.

Sekarang aku harus mempertangungg jawabkan pilihanku, aku memilih untuk bekerja mandiri, memulai berwirausaha. Rencana sudah aku siapkan, dukungan keluarga dan yang tersayang pun aku dapat, ini harus menjadi aksi dan nilai sebab kedua hal itulah yang membuat sebuah rencana tidak sekedar wacana. Aku siap !



Cibubur, 27 September 2017

Minggu, 24 Mei 2015

Labuan Bajo, Molas Tu'ung !


"Selamat pagi." 

"Selamat pagi, om."

"Selamat pagi."
  
"Selamat pagi, nu."

Begitu selalu tiap kali saya keluar kamar kemudian berpapasan dengan penduduk pesisir pantai disini atau saat saya masuk ke kafe maupun rumah makan, sapaan itu makin hari makin bersahabat ditelinga saya. Saya nggak nyangka, raut wajah mereka yang tegas, warna kulit yang gelap dan sorotan mata yang tajam ternyata beda banget sama pembawaan mereka. Ramah sekali kawan ! Mereka adalah orang paling mudah senyum dan punya rasa humor paling tinggi yang pernah saya temui. Nggak cuma itu aja, orang asing yang lagi duduk disebelahmu, mulai dari yang nyruput kopi sampai yang negak sofie dalam hitungan detik bisa jadi teman dan ngomong panjang lebar kayak udah kenal 1000 tahun lamanya #NP Tulus - 1000 Tahun Lamanya. Jadi, nggak ragu lagi buat bilang kalau saya jatuh cinta dengan Flores dikali pertama saya menginjakkan kaki !



Setelah lulus dari Universitas, beberapa hari kemudian saya angkat ransel dan merayakannya di Labuan Bajo. Baru mau terbang kesana aja saya udah excited, untuk pertama kalinya saya akan naik pesawat perintis dan saya janji nggak akan ketiduran seperti yang biasa terjadi kalau lagi naik pesawat, tau kan sebabnya ? Banyak tuh bersebaran di media sosial pemandangan sebelum mendarat itu amazing banget, deretan pulau-pulau kecil bakal say Hi ke kita. Sayangnya, "Iya sayang?" "Sayangnya woi, bukan manggil sayang !" Itu kenapa nggak ada yang kasih tau kalau pemandangan kayak gitu cuma bisa dinikmati hanya dari salah satu sisi pesawat aja !!! Argh !!! Semua penumpang disisi lain dari tempat saya duduk pada wa wow wa wow jeprat jepret, pada ngintipin lewat jendela, sampai miring pesawatnya, berat sebelah hahaha yaaakali..

Saya sedih. Lesu. Rasanya saya pingin terbang ulang. Saya nundukkin kepala dari awal keluar pesawat sampai pintu kedatangan, trus tiba-tiba (((jéng... jéng...))) saya nabrak orang bro, saya lihatin dari kaki, naik pelan-pelan trus stop, ritseletingnya ke bukak hahaha, lanjut lagi ke atas, badannya kekar, dadanya ngecap, trus naik lagi sampai ke muka, tepat dihadapan saya ada orang timur yang senyumnya aduhai, manis sekali senyum om satu ini. Namanya om Matius muka serius hati tulus. Dia nawarin jasa ojek dari bandara sampai ke pelabuhan, cuma 5000 aja.

Pelabuhan Labuan Bajo adalah pusat aktifitas penduduk disini. Hilir mudik kapal-kapal besar nurunin peti kontainer dan truk-truk. Pelabuhan ini juga dipakai untuk berlayar dan berlabuhnya kapal-kapal wisata. Terletak di jalan Soekarno Hatta, keriuhan pelabuhan semakin menjadi karena pusat turis juga terletak di sepanjang jalan ini. Puluhan travel agency, hostel, rumah makan, kafe, bar, diving center, atm center, kios, mudah sekali ditemui. Saya menginap di Corner Backpacker seharga 60 ribu per malam, terdiri dari satu ruangan cukup besar dengan 12 tempat tidur, satu air conditioner, loker, dan satu kamar mandi diluar. Wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo itu ya sebagian besar tujuannya hoping island atau diving, nginap di kapal selama minimal dua hari semalam, kalau punya hari lebih bakal lanjut ke tempat lainnya, seperti gunung Kalimutu atau desa adat Wae Rebo misalnya, itu sebabnya hostel disini pengunjungnya selalu gonta-ganti dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Seperti saya salah satunya. Nggak pakai istirahat, saya lanjut door to door, dari satu agency ke agency lainnya buat cari kapal yang hoping island besok pagi. Low season bikin harga per orang dipatok sangat mahal, ada yang sampai 1,1 juta. Normalnya kapal diisi 8-10 orang, harga satu kapal yang paling murah sekitar 4 juta, jadi biasanya kita cuma perlu bayar 400-600 ribu aja untuk living on board selama dua hari satu malam. Makanya jangan tergesa-gesa nyarinya, selain harga bandingin juga rutenya, meskipun pada akhirnya saya mentok juga diharga 700 ribu perorang barengan dengan 4 wisatawan lainnya. Oia, untuk masalah rute, travel agency udah punya rute tetapnya, tapi kita bisa nambahain tempat yang otomotais nambah hari dan harga juga, ini bisa dilakuin kalau kita datangnya kroyokan, waktu itu saya berharap banget ada kapal yang ke P. Padar dan Gili laba, sayangnya nggak ada satupun yang kesana, wisatawan lagi sepi-sepinya euy. Next time lah ya..

Living On Board


Kalau kaum Gipsy jadiin karavan sebagai rumahnya, di live on board leisure trip ini, kapal dijadiin rumah buat berlayar mengarungi lautan, asik nggak tuh ? Lihat depan : Laut, kiri : Pulau-pulau kecil nan hijau, belakang : Kapten kapal, kanan... Weits !!! Lumba-lumba kawan !!! Indah sekali, lompat-lompat kayak lagi pada main lompat tali, imutnya... Konon emang nggak sulit nemuin hewan mamalia itu disini, alam yang masih perawan, kekayaan bawah laut yang masih terjaga bikin segala jenis makhluk hidup pun betah, berkembang biak dengan baik. Buat para diver, salah satu alasan mengunjungi Labuan Bajo karena dengan mudahnya menemukan manta ray dan sea turtle. Buat yang nggak bisa diving, apalagi kalau bukan buat nglihat Komodo.Hewan purba yang masih hidup sampai sekarang !!! Ratusan Komodo masih hidup di Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Untuk lihat komodo, bukan komedo apalagi komedi harus tracking dulu kedalam hutan, komodo itu berdarah dingin, hewan yang geraknya lambat tapi pasti, so kita harus waspada banget tiap kali ketemu dan mau ambil foto bareng. 


Kalau tentang alam Indonesia, saya yakin kita punya paham yang sama, cantik banget, molas tu’ung ! Di Labuan Bajo, belum mendarat aja udah disuguhin pemandangan elok, pemandangan pelabuhan Labuan Bajo dengan puluhan kapal dari bukit cinta pun bikin rasa jadi merinding dibuatnya. Nah, yang kadang buat tambah sedap itu bumbu-bumbunya dan tiap orang bakal dapat jenis bumbu yang berbeda. Malam itu salah satu jenis bumbu tercicip oleh saya, bumbu ini getir sekali rasanya. Jadi, setelah seharian kami hoping island, kapal menurunkan jangkarnya di Pulau Kalong. Kapal lain juga pada ngumpul disini, ini malam yang udah lain dari biasanya ditambah ketika seorang bapak dan anaknya yang duduk di bangku menengah pertama merapatkan kanonya ke badan kapal kami. Mereka tidak sendiri, ada puluhan lain dari pulau Komodo yang berprofesi serupa, mereka menawarkan barang dagangan berupa souvenir, kopi, makanan ringan dan beer. Yang membuat beda adalah cerita yang dibawa oleh bapak dan anak ini. Beberapa hari yang lalu berita duka menyelimuti penduduk di pulau Komodo, dengan suara mulai melirih, sang anak menceritakan bahwa guru bahasa inggris satu-satunya di Pulau itu meninggal dunia saat sedang menjalani pendidikan di Australia, mata sang anak mulai berkaca-kaca saat dia menceritakan kenangan belajar bersama beliau.

Abdi Marantika, nama anak itu, berucap kalau beliau adalah guru yang luar biasa hebat dan baik, suasana kelas yang ceria tidak pernah hilang ketika beliau mengajar. "Kalau belajar lamanya dua jam, tapi 30 menit sebelum usai selalu diisi dengan menyanyi atau cerita dari bapak guru." Sudah satu minggu lamanya kelas bahasa inggris kosong, tidak ada yang menggantikan. "Anak saya dan teman-temanya semua menangis histeris, orang tua sedih, desa kami berduka." Sambung ayah Abdi.
Sedih rasanya kalau ingat percakapan malam itu, di balik kekayaan alam yang luar biasa terselip berbagai macam problematika khas bangsa ini. 

Bayangkan saja, untuk mendapatkan bahan makan, penduduk pulauKomodo harus naik spead boat dengan membayar 100 ribu sekali jalan ke Labuan Bajo, belum lagi harga bahan pokok yang nggak sebanding dengan pendapatannya. Sekarang, masalah lain muncul, ketika anak-anak sekolah disini sedang berjuang didalam keterbatasan, ujian berat menerpa mereka, kelas bahasa inggris terhenti, mereka terpukul. Bersyukur karena masih ada asa yang nggak akan pernah padam. Ada niat dalam hati mereka untuk terus belajar, belajar dan belajar. "Saya mau buat bapak guru bangga di atas sana."

Moment-moment seperti itu nggak sih yang justru buat jalan-jalan kita jadi lebih berkesan. Perjalanan membuat saya dituntut untuk lebih peka sama keadaan sekitar, nggak cuma nikmatin alam atau objek wisata aja, diluar itu ada nilai-nilai hidup yang bakal kita dapet kalau lebih berani mendengar, melihat, merasa dan memahami lebih dalam. Saya nggak pernah habis-habisnya bersyukur sama Tuhan, bahkan sampai detik ini, saya selalu ngrasa Dia kasih lebih dari yang saya harapkan, terutama ya saat perjalanan di Flores. Sebelum saya tiba di Labuan Bajo, daerah ini nggak ada hari tanpa hujan, trip jadi terganggu, bahkan ada yang baru sehari berlayar udah harus stop, syukur saya nggak mengalami hal tersebut, tiga hari pertama hujan nggak turun setetespun, hoping island berjalan damai, fantastik, bombastis. 


Baru di hari ke empat hujan turun deras banget, pas itu saya di air terjun Cunca Rami, Manggarai Timur. Untugnya, hujan turun sesaat setelah saya selesai main air, andaikan aja turunnya sebelum, jangankan cuma mau sekedar nyamperin ketepian kolamnya, radius beberapa meter dari air terjun udah pasti terendam air, debit air kolam bakal naik dengan cepat dan tiba-tiba, bahaya banget. 


Hujan turun bukan berarti hari itu saya sial, justru karena hujan turun saya dapat kesempatan berharga ! Minum kopi bareng penduduk lokal ! Kenalin, Om Pius Dasa namanya, pengakum Hitler dan Gusdur ini perawakannya nggak kalah garang sama anak buahnya Hitler. Pakai baju bercorak army, topi koboi, dengan parang sebagai aksesorisnya, rawr ! Om Pius mengundang kami untuk berteduh dirumahnya, mengenalkan kami ke Ame dan Ine (Ayah dan Ibu dalam bahasa Manggarai), serta menyajikan secangkir kopi Manggarai sebagai teman berbincang, hangat, sungguh menghangatkan !


Dan detik ini, secangkir kopi Manggarai untuk kesekian kalinya menemani saya bernostalgia, tiap kali menyeruputnya maka kenangan di Flores datang dengan mudahnya. Saya rindu Flores, ijinkan saya untuk kembali.

Senin, 06 April 2015

Kembali Menyapa







Selamat datang april ! Dan saya pikir ini awal yang baik untuk memulai menulis di blog ini, membaca artikel-artikel yang lalu, dengan harapan bangkitnya kembali ingatan akan asiknya berbagi pengalaman dengan menulis. 

Dua tahun sudah sejak buku Hi, Travelers ! cetakan Diva Press dipublikasikan. Sayangnya, pencapaian pribadi itu justru membuat saya terlena. Blog Hi, Travelers ! pun terabaikan sekian lama. Padahal, ada beberapa perjalanan yang saya lakukan setelah artikel pada bulan September tahun 2013 lalu menyapa teman-teman. Diawali perjalanan panjang di bagian timur Pulau Jawa : Kawah Ijen, Baluran, dan Surabaya. Menyambut tahun 2014 di Hongkong, Shenzhen, dan Macau. Berkemah di pantai Soge dan Klayar, Pacitan, kemudian mendaki Gunung Slamet dan beberapa bulan setelahnya berziarah ke gunung tertinggi di Pulau Jawa, mengucap syukur di puncak para dewa, Mahameru.
 
Say Hi to Hi, Travelers !
Pendakian gunung Semeru, di Malang, Jawa Timur, tentu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya, sebuah perjalanan spiritual, saya menyebutnya. Memakan waktu hingga 4 hari 3 malam, melangkahkan kaki beratus-ratus kilometer, mengawali malam pertama di danau Ranu Kumbolo, mempercayai mitos mengucap niat di tanjakan cinta, terlepas dari tanjakan cinta, ganjaran panorama molek sabana Oro-oro Ombo pun menanti, puluhan ribu hektar padang sabana hijau kekuning-kuningan terhampar sepanjang mata memandang. Pendakian menuju 3676 mdpl dimulai dari pos terakhir di Kalimati tepat pada pukul 12 malam. Masih ingat jelas dipikiran saya, malam itu, adalah malam paling mendebarkan. Saat-saat dimana ketakutan akan kematian merintih diantara kesunyian dan menindas pikiran yang diam. Sialnya, bagi saya diam adalah cara terbaik mengolah tenaga, emosi dan mental selama 8 jam kedepan.
 
Mahameru !
Saya rasa travelling dan menulis adalah satu bagian yang saling melengkapi, kan ? Berada di tempat baru, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang budaya, suku agama yang berbeda dan itu semua menjadi lebih berkesan dan lebih hidup ketika dituangkan dalam bentuk karya tulis. Dari tulisan-tulisan yang dihasilkan tersirat harapan agar kelak bermanfaat untuk pribadi dan bagi mereka yang meluangkan waktu untuk membaca.  Semoga artikel pertama di tahun 2015 ini menjadi titik balik yang baik. Memberi energi baru untuk terus jalan, jalan, jalan dan menulis ! Do travelling and let's say Hi to the world ! Bukan untuk menghindari hidup tapi untuk merayakan hidup.