Minggu, 24 Mei 2015

Labuan Bajo, Molas Tu'ung !


"Selamat pagi." 

"Selamat pagi, om."

"Selamat pagi."
  
"Selamat pagi, nu."

Begitu selalu tiap kali saya keluar kamar kemudian berpapasan dengan penduduk pesisir pantai disini atau saat saya masuk ke kafe maupun rumah makan, sapaan itu makin hari makin bersahabat ditelinga saya. Saya nggak nyangka, raut wajah mereka yang tegas, warna kulit yang gelap dan sorotan mata yang tajam ternyata beda banget sama pembawaan mereka. Ramah sekali kawan ! Mereka adalah orang paling mudah senyum dan punya rasa humor paling tinggi yang pernah saya temui. Nggak cuma itu aja, orang asing yang lagi duduk disebelahmu, mulai dari yang nyruput kopi sampai yang negak sofie dalam hitungan detik bisa jadi teman dan ngomong panjang lebar kayak udah kenal 1000 tahun lamanya #NP Tulus - 1000 Tahun Lamanya. Jadi, nggak ragu lagi buat bilang kalau saya jatuh cinta dengan Flores dikali pertama saya menginjakkan kaki !



Setelah lulus dari Universitas, beberapa hari kemudian saya angkat ransel dan merayakannya di Labuan Bajo. Baru mau terbang kesana aja saya udah excited, untuk pertama kalinya saya akan naik pesawat perintis dan saya janji nggak akan ketiduran seperti yang biasa terjadi kalau lagi naik pesawat, tau kan sebabnya ? Banyak tuh bersebaran di media sosial pemandangan sebelum mendarat itu amazing banget, deretan pulau-pulau kecil bakal say Hi ke kita. Sayangnya, "Iya sayang?" "Sayangnya woi, bukan manggil sayang !" Itu kenapa nggak ada yang kasih tau kalau pemandangan kayak gitu cuma bisa dinikmati hanya dari salah satu sisi pesawat aja !!! Argh !!! Semua penumpang disisi lain dari tempat saya duduk pada wa wow wa wow jeprat jepret, pada ngintipin lewat jendela, sampai miring pesawatnya, berat sebelah hahaha yaaakali..

Saya sedih. Lesu. Rasanya saya pingin terbang ulang. Saya nundukkin kepala dari awal keluar pesawat sampai pintu kedatangan, trus tiba-tiba (((jéng... jéng...))) saya nabrak orang bro, saya lihatin dari kaki, naik pelan-pelan trus stop, ritseletingnya ke bukak hahaha, lanjut lagi ke atas, badannya kekar, dadanya ngecap, trus naik lagi sampai ke muka, tepat dihadapan saya ada orang timur yang senyumnya aduhai, manis sekali senyum om satu ini. Namanya om Matius muka serius hati tulus. Dia nawarin jasa ojek dari bandara sampai ke pelabuhan, cuma 5000 aja.

Pelabuhan Labuan Bajo adalah pusat aktifitas penduduk disini. Hilir mudik kapal-kapal besar nurunin peti kontainer dan truk-truk. Pelabuhan ini juga dipakai untuk berlayar dan berlabuhnya kapal-kapal wisata. Terletak di jalan Soekarno Hatta, keriuhan pelabuhan semakin menjadi karena pusat turis juga terletak di sepanjang jalan ini. Puluhan travel agency, hostel, rumah makan, kafe, bar, diving center, atm center, kios, mudah sekali ditemui. Saya menginap di Corner Backpacker seharga 60 ribu per malam, terdiri dari satu ruangan cukup besar dengan 12 tempat tidur, satu air conditioner, loker, dan satu kamar mandi diluar. Wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo itu ya sebagian besar tujuannya hoping island atau diving, nginap di kapal selama minimal dua hari semalam, kalau punya hari lebih bakal lanjut ke tempat lainnya, seperti gunung Kalimutu atau desa adat Wae Rebo misalnya, itu sebabnya hostel disini pengunjungnya selalu gonta-ganti dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Seperti saya salah satunya. Nggak pakai istirahat, saya lanjut door to door, dari satu agency ke agency lainnya buat cari kapal yang hoping island besok pagi. Low season bikin harga per orang dipatok sangat mahal, ada yang sampai 1,1 juta. Normalnya kapal diisi 8-10 orang, harga satu kapal yang paling murah sekitar 4 juta, jadi biasanya kita cuma perlu bayar 400-600 ribu aja untuk living on board selama dua hari satu malam. Makanya jangan tergesa-gesa nyarinya, selain harga bandingin juga rutenya, meskipun pada akhirnya saya mentok juga diharga 700 ribu perorang barengan dengan 4 wisatawan lainnya. Oia, untuk masalah rute, travel agency udah punya rute tetapnya, tapi kita bisa nambahain tempat yang otomotais nambah hari dan harga juga, ini bisa dilakuin kalau kita datangnya kroyokan, waktu itu saya berharap banget ada kapal yang ke P. Padar dan Gili laba, sayangnya nggak ada satupun yang kesana, wisatawan lagi sepi-sepinya euy. Next time lah ya..

Living On Board


Kalau kaum Gipsy jadiin karavan sebagai rumahnya, di live on board leisure trip ini, kapal dijadiin rumah buat berlayar mengarungi lautan, asik nggak tuh ? Lihat depan : Laut, kiri : Pulau-pulau kecil nan hijau, belakang : Kapten kapal, kanan... Weits !!! Lumba-lumba kawan !!! Indah sekali, lompat-lompat kayak lagi pada main lompat tali, imutnya... Konon emang nggak sulit nemuin hewan mamalia itu disini, alam yang masih perawan, kekayaan bawah laut yang masih terjaga bikin segala jenis makhluk hidup pun betah, berkembang biak dengan baik. Buat para diver, salah satu alasan mengunjungi Labuan Bajo karena dengan mudahnya menemukan manta ray dan sea turtle. Buat yang nggak bisa diving, apalagi kalau bukan buat nglihat Komodo.Hewan purba yang masih hidup sampai sekarang !!! Ratusan Komodo masih hidup di Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Untuk lihat komodo, bukan komedo apalagi komedi harus tracking dulu kedalam hutan, komodo itu berdarah dingin, hewan yang geraknya lambat tapi pasti, so kita harus waspada banget tiap kali ketemu dan mau ambil foto bareng. 


Kalau tentang alam Indonesia, saya yakin kita punya paham yang sama, cantik banget, molas tu’ung ! Di Labuan Bajo, belum mendarat aja udah disuguhin pemandangan elok, pemandangan pelabuhan Labuan Bajo dengan puluhan kapal dari bukit cinta pun bikin rasa jadi merinding dibuatnyaNah, yang kadang buat tambah sedap itu bumbu-bumbunya dan tiap orang bakal dapat jenis bumbu yang berbeda. Malam itu salah satu jenis bumbu tercicip oleh saya, bumbu ini getir sekali rasanya. Jadi, setelah seharian kami hoping island, kapal menurunkan jangkarnya di Pulau Kalong. Kapal lain juga pada ngumpul disini, ini malam yang udah lain dari biasanya ditambah ketika seorang bapak dan anaknya yang duduk di bangku menengah pertama merapatkan kanonya ke badan kapal kami. Mereka tidak sendiri, ada puluhan lain dari pulau Komodo yang berprofesi serupa, mereka menawarkan barang dagangan berupa souvenir, kopi, makanan ringan dan beer. Yang membuat beda adalah cerita yang dibawa oleh bapak dan anak ini. Beberapa hari yang lalu berita duka menyelimuti penduduk di pulau Komodo, dengan suara mulai melirih, sang anak menceritakan bahwa guru bahasa inggris satu-satunya di Pulau itu meninggal dunia saat sedang menjalani pendidikan di Australia, mata sang anak mulai berkaca-kaca saat dia menceritakan kenangan belajar bersama beliau.

Abdi Marantika, nama anak itu, berucap kalau beliau adalah guru yang luar biasa hebat dan baik, suasana kelas yang ceria tidak pernah hilang ketika beliau mengajar. "Kalau belajar lamanya dua jam, tapi 30 menit sebelum usai selalu diisi dengan menyanyi atau cerita dari bapak guru." Sudah satu minggu lamanya kelas bahasa inggris kosong, tidak ada yang menggantikan. "Anak saya dan teman-temanya semua menangis histeris, orang tua sedih, desa kami berduka." Sambung ayah Abdi.
Sedih rasanya kalau ingat percakapan malam itu, di balik kekayaan alam yang luar biasa terselip berbagai macam problematika khas bangsa ini. 

Bayangkan saja, untuk mendapatkan bahan makan, penduduk pulauKomodo harus naik spead boat dengan membayar 100 ribu sekali jalan ke Labuan Bajo, belum lagi harga bahan pokok yang nggak sebanding dengan pendapatannya. Sekarang, masalah lain muncul, ketika anak-anak sekolah disini sedang berjuang didalam keterbatasan, ujian berat menerpa mereka, kelas bahasa inggris terhenti, mereka terpukul. Bersyukur karena masih ada asa yang nggak akan pernah padam. Ada niat dalam hati mereka untuk terus belajar, belajar dan belajar. "Saya mau buat bapak guru bangga di atas sana."

Moment-moment seperti itu nggak sih yang justru buat jalan-jalan kita jadi lebih berkesan. Perjalanan membuat saya dituntut untuk lebih peka sama keadaan sekitar, nggak cuma nikmatin alam atau objek wisata aja, diluar itu ada nilai-nilai hidup yang bakal kita dapet kalau lebih berani mendengar, melihat, merasa dan memahami lebih dalam. Saya nggak pernah habis-habisnya bersyukur sama Tuhan, bahkan sampai detik ini, saya selalu ngrasa Dia kasih lebih dari yang saya harapkan, terutama ya saat perjalanan di Flores. Sebelum saya tiba di Labuan Bajo, daerah ini nggak ada hari tanpa hujan, trip jadi terganggu, bahkan ada yang baru sehari berlayar udah harus stop, syukur saya nggak mengalami hal tersebut, tiga hari pertama hujan nggak turun setetespun, hoping island berjalan damai, fantastik, bombastis. 


Baru di hari ke empat hujan turun deras banget, pas itu saya di air terjun Cunca Rami, Manggarai Timur. Untugnya, hujan turun sesaat setelah saya selesai main air, andaikan aja turunnya sebelum, jangankan cuma mau sekedar nyamperin ketepian kolamnya, radius beberapa meter dari air terjun udah pasti terendam air, debit air kolam bakal naik dengan cepat dan tiba-tiba, bahaya banget. 


Hujan turun bukan berarti hari itu saya sial, justru karena hujan turun saya dapat kesempatan berharga ! Minum kopi bareng penduduk lokal ! Kenalin, Om Pius Dasa namanya, pengakum Hitler dan Gusdur ini perawakannya nggak kalah garang sama anak buahnya Hitler. Pakai baju bercorak army, topi koboi, dengan parang sebagai aksesorisnya, rawr ! Om Pius mengundang kami untuk berteduh dirumahnya, mengenalkan kami ke Ame dan Ine (Ayah dan Ibu dalam bahasa Manggarai), serta menyajikan secangkir kopi Manggarai sebagai teman berbincang, hangat, sungguh menghangatkan !


Dan detik ini, secangkir kopi Manggarai untuk kesekian kalinya menemani saya bernostalgia, tiap kali menyeruputnya maka kenangan di Flores datang dengan mudahnya. Saya rindu Flores, ijinkan saya untuk kembali.

Senin, 06 April 2015

Kembali Menyapa







Selamat datang april ! Dan saya pikir ini awal yang baik untuk memulai menulis di blog ini, membaca artikel-artikel yang lalu, dengan harapan bangkitnya kembali ingatan akan asiknya berbagi pengalaman dengan menulis. 

Dua tahun sudah sejak buku Hi, Travelers ! cetakan Diva Press dipublikasikan. Sayangnya, pencapaian pribadi itu justru membuat saya terlena. Blog Hi, Travelers ! pun terabaikan sekian lama. Padahal, ada beberapa perjalanan yang saya lakukan setelah artikel pada bulan September tahun 2013 lalu menyapa teman-teman. Diawali perjalanan panjang di bagian timur Pulau Jawa : Kawah Ijen, Baluran, dan Surabaya. Menyambut tahun 2014 di Hongkong, Shenzhen, dan Macau. Berkemah di pantai Soge dan Klayar, Pacitan, kemudian mendaki Gunung Slamet dan beberapa bulan setelahnya berziarah ke gunung tertinggi di Pulau Jawa, mengucap syukur di puncak para dewa, Mahameru.
 
Say Hi to Hi, Travelers !
Pendakian gunung Semeru, di Malang, Jawa Timur, tentu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya, sebuah perjalanan spiritual, saya menyebutnya. Memakan waktu hingga 4 hari 3 malam, melangkahkan kaki beratus-ratus kilometer, mengawali malam pertama di danau Ranu Kumbolo, mempercayai mitos mengucap niat di tanjakan cinta, terlepas dari tanjakan cinta, ganjaran panorama molek sabana Oro-oro Ombo pun menanti, puluhan ribu hektar padang sabana hijau kekuning-kuningan terhampar sepanjang mata memandang. Pendakian menuju 3676 mdpl dimulai dari pos terakhir di Kalimati tepat pada pukul 12 malam. Masih ingat jelas dipikiran saya, malam itu, adalah malam paling mendebarkan. Saat-saat dimana ketakutan akan kematian merintih diantara kesunyian dan menindas pikiran yang diam. Sialnya, bagi saya diam adalah cara terbaik mengolah tenaga, emosi dan mental selama 8 jam kedepan.
 
Mahameru !
Saya rasa travelling dan menulis adalah satu bagian yang saling melengkapi, kan ? Berada di tempat baru, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang budaya, suku agama yang berbeda dan itu semua menjadi lebih berkesan dan lebih hidup ketika dituangkan dalam bentuk karya tulis. Dari tulisan-tulisan yang dihasilkan tersirat harapan agar kelak bermanfaat untuk pribadi dan bagi mereka yang meluangkan waktu untuk membaca.  Semoga artikel pertama di tahun 2015 ini menjadi titik balik yang baik. Memberi energi baru untuk terus jalan, jalan, jalan dan menulis ! Do travelling and let's say Hi to the world ! Bukan untuk menghindari hidup tapi untuk merayakan hidup.
 

Minggu, 01 September 2013

Hi Tidung !





"Tutup !" Tapi bau amis sudah terlanjur masuk kedalam mobil. Setelah memberikan empat lembar seribu rupiah sebagai tiket masuk pelabuhan lama Muara Angke, kami pun segera menutup jendela. Ini adalah pelabuhan bagi nelayan, dimana pelelangan ikan dan pasar rakyat berada dalam satu kawasan, jalanan yang basah karena daerah ini lebih rendah dari permukuaan laut, bau amis, sampah, dan mual dibuatnya. 

Setidaknya ada dua tempat yang dapat digunakan sebagai penitipan kendaraan. Polsek dan lapangan parkir dekat dengan SPBU, di lapangan dekat SPBU itulah kami menitipkan kendaraan. Berbeda dengan perjalanan yang biasa saya dan teman-teman lakukan, kali ini kami menggunakan jasa trip organiser. Liburan semester yang sangat lama dan kerinduan untuk kembali berkumpul menjadi alasan kami lebih baik membayangkan kesenangan yang kami dapat dari pada memikirkan itinerary dan lain-lainnya. Berbeda, tapi nggak kalah seru. Karena sejatinya jalan-jalan bersama mereka selalu asik. 

Kami akan menaiki kapal tongkang. Sebuah kapal yang lumayan besar, menampung banyak penunpang di bagian bawah dan atasnya, dan akan berangkat hanya ketika kapal sudah terisi penuh. Kurang lebih kapal ini akan berlayar selama dua jam, tidak cukup lama, tapi cukup membuat perut bergejolak ketika kapal menghantam ombak, matahari menyengat pas di ubun-ubun kepala, goyang kanan-kiri. Jadi lebih baik duduk di dalam kapal atau di bagian luar yang tidak terkena sinar matahari langsung. Lebih manusiawi rasanya. 


Tiba-tiba seseorang berteriak, "Ada lumba-lumba." Sontak kami keluar dari kapal, berdiri di bagian luar kapal. Saya yang tadinya lemas, seakan mendapat asupan energi, tepat di depan kami ada tiga ekor mamalia laut cerdas melompat-lompat ke permukaan yang seakan menyambut kedatangan kami. Selang beberapa detik kemudian, nampak dari kejauhan sebuah pulau yang menjadi tujuan kami, akhirnya kami sampai !

Pulau Tidung Besar, salah satu pulau berpenghuni yang masuk dalam gugusan Kepulauan Seribu. Terletak di utara Jakarta. Sesuai namanya pulau ini memang cukup besar dibanding pulau terdekatnya yang letaknya hanya dihubungkan oleh jembatan. Mungkin ini salah satu alasana kenapa orang-orang menyebutnya Jembatan Cinta, karena dua hal yang letaknya terpisah kini menjadi satu karena adanya jembatan yang saling menghubungkan dan tak akan terpisahkan. Menjadi semakin menarik perhatian karena adanya bumbu penyedap yang di berikan oleh masyarakat setempat tentang jembatan ini. Tapi sebelumnya, saya akan menceritakan apa yang saya rasakan saat pertama kali berkunjung ke Pulau ini. 

Rasa pertama yang kami rasakan saat tiba di Pulau Tidung adalah lapar !! Bayangin aja, hampir tiga jam lamanya duduk di kapal. Belum lagi ketika melihat kapal cepat yang berangkat dari Marina Ancol melabuhi kita, kesal kali rasanya. Perbandingannya tiga jam dengan satu jam, belum lagi penumpang yang penuh sesak, dan bau tak sedap ketika salah satu penumpang memuntahkan isi perutnya. Hoek ! Karenanya setibanya di homestay kami langsung cuci muka, minum, dan makan sebanyak-banyaknya. Beruntung kami mengunakan agent travel yang tepat, dari segi pelayanan saya kasih nilai oke, sesuai nama paket yang ditawarkan. Dengan mengeluarkan uang 310.000 per orang kami sudah dapat fasilitas yang sangat baik. Mulai dari tiket kapal pulang pergi, penginapan, makan tiga kali, BBQ, sepeda imut, snorkling dan banana boat. Kesimpulannya kami tidak kecewa selama dua hari satu malam disana, apalagi mas arif pemandu kami sangat baik dan ramah. 

Selesai makan dia mengajak kami snorkling di dekat Pulau Tidung Kecil. Hmm.. dalam hal keindahan bawah laut Pulau Tidung Besar bukan tepat yang digolongkan baik. Ombak cukup besar, visibilitas jelek, terumbu karang banyak yang mati, dan ikannya banyak yang pura-pura mati. Karenanya, saya menjadi orang pertama yang nyebur ke dalam laut, tapi orang pertama pula yang kembali ke kapal. Sehabis snorkling kami bermain sport water. Ini aktifitas air yang paling kami tunggu-tunggu, saking nagihnya kami sampai mencoba berbagai macam permainan air disini, seru ! Dan pemandangan dari pantainya benar-benar memanjakan mata. Tapi yang paling bisa mengobati rasa kecewa kami terhadap pemandangan di bawah laut Tidung adalah teman-teman. Teman-teman seperjalanan saya membuat perjalanan kali ini menjadi unforgettable moment. Sudung, Boim, Josua, Haikal, Yuki, Andre, Dewi, Anti, Qori, Stella, canda-tawa mereka membuat suasana tak kalah indah dengan senja saat itu ! 






Jadi dengan berani saya simpulkan, jangan pernah datang ke Tidung sendirian, ajak teman-teman terbaikmu ! Dan ciptakan suasana tak terlupakan dalam hidupmu. Lakukan hal-hal gila bersama, makan ikan bakar di tepi pantai, nonton X-Factor sambil caci maki si Fatin, tidur bareng-bareng, mandi ganti-gantian *yakali tong mandi bareng-bareng, sepedaan bareng, bicarain orang bareng. Pokoknya Tidung emang salah satu tempat asik kalau kalian datangnya ramai-ramai. Seramai klakson motor disana - Iya, saya heran kenapa penduduk lokal disini hobi banget klakson motor. Menurut saya mereka masih kurang paham kalau pulau mereka itu adalah pulau wisata yang menjadi tujuan orang-orang terutama yang tinggal di Jakarta untuk berlibur, jadi seharusnya jangan heran kalau jalanan yang hanya seruas jalan kini jadi penuh sesak oleh pejalan kaki dan puluhan sepeda, apalagi sepeda menjadi transportasi andalan para wisatawan mengelilingi pulau ini, jadi ya ada baiknya tidak tidak menglakson sepeda secara berlebihan ya om, ya.. 

Beda dengan jalanan di pulau Tidung yang brisik tiap ada motor lewat, pesisir pantai Tidung suasanya benar-benar syadu, apalagi jembatan cintanya, melankolis abis ! Pagi hari kami bersepeda menuju Jembatan Cinta. Sebuah Jembatan yang di bangun sebagai simbol perjuangan para jomblo. Inilah tempat favorit di pulau Tidung, puluhan orang melintasi jembatan cinta tiap menitnya, tapi hanya sebagian kecil orang yang nekat melompat dari jembatan ini, merekalah orang-orang yang haus akan cinta. Saya dan Josua salah duanya. Satu.. dua.. tiga.. lompat !!! Dan percayalah semenjak lompat dari sana hidup saya serasa di kelilingi oleh yang namanya Cinta. Indahnya ~